Jakarta — Bendahara Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (ASEPHI), Syamsul Huda, ditunjuk Ketua Umum BPP ASEPHI Dr. Muchsin Ridjan, SE, MM, sebagai Project Officer (PO) pameran INACRAFT yang akan digelar pada 7–11 Oktober 2026.
INACRAFT 2026 mengusung tema “Techno Craft”, yang mengeksplorasi perpaduan teknologi modern dengan kerajinan tradisional. Konsep tersebut diarahkan untuk menunjukkan bagaimana inovasi dan teknologi dapat meningkatkan kualitas, nilai tambah, serta daya tarik produk kerajinan Indonesia.

Sebagai Project Officer, Syamsul Huda akan bertanggung jawab memastikan berbagai aspek penyelenggaraan pameran berjalan sesuai rencana. Tanggung jawab tersebut mencakup pengelolaan anggaran, koordinasi dengan peserta, hingga promosi kegiatan.
Pengalaman Syamsul di industri kerajinan diharapkan dapat mendukung penyelenggaraan INACRAFT 2026 agar semakin mampu menjadi ruang promosi dan pengembangan industri handicraft nasional.
INACRAFT selama ini menjadi salah satu platform penting bagi pengrajin dan pelaku industri kerajinan Indonesia untuk memamerkan karya, membangun jaringan bisnis, serta memperluas akses pasar. Melalui tema “Techno Craft”, pameran tahun ini diharapkan mendorong para pengrajin untuk mengembangkan produk melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi.
Salah satu agenda strategis yang disiapkan adalah kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai pendukung riset dan inovasi industri kreatif, khususnya sektor handicraft.
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi produk kerajinan Indonesia. Sejumlah bidang yang menjadi perhatian antara lain tenun alat tenun bukan mesin (ATBM), produksi bahan kayu dan mebel, serta proses produksi batik.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital dan desain berbasis kecerdasan artifisial (AI) untuk produk kreatif, fashion, batu, dan metal juga menjadi bagian dari fokus pengembangan. Integrasi teknologi tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas produk, tetapi juga membuka peluang lahirnya inovasi baru yang memiliki daya saing di pasar global.
Dukungan riset diharapkan turut mendorong terciptanya produk handicraft yang lebih berkelanjutan sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi generasi penerus anggota ASEPHI.

Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria disebut menunjukkan komitmen terhadap penguatan riset dan inovasi di sektor handicraft Indonesia. Dukungan tersebut diarahkan pada pengembangan teknologi, penelitian, serta metodologi inovasi yang dapat meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk kerajinan.
Kolaborasi antara pengrajin, ilmuwan, dan pelaku industri menjadi salah satu pendekatan yang diharapkan dapat membangun ekosistem riset dan pengembangan yang lebih kuat. Dengan demikian, produk handicraft Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan pasar global yang semakin kompetitif. Melalui INACRAFT 2026, ASEPHI berharap perpaduan antara kekayaan tradisi dan kemajuan teknologi dapat menjadi kekuatan baru bagi industri kerajinan nasional. Tema “Techno Craft” sekaligus menjadi ajakan bagi pelaku handicraft untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan karakter dan nilai budaya yang menjadi identitas produk Indonesia.


