Bagi Lana Koentjoro, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional yang dikenakan pada acara seremonial. Di balik selembar kebaya, tersimpan identitas bangsa, ruang diplomasi budaya, hingga peluang ekonomi yang mampu menggerakkan jutaan masyarakat. Pandangan itulah yang mendorong Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM) sekaligus Ketua Tim Nasional Kebaya Indonesia tersebut mengabdikan dirinya untuk memperjuangkan pengakuan kebaya sebagai simbol budaya Indonesia sekaligus menjadikan perempuan sebagai motor penggerak pembangunan.

Perjalanan panjang itu mencapai salah satu titik penting ketika Presiden Joko Widodo menandatangani Keputusan Presiden tentang Hari Kebaya Nasional pada 2023. Lana masih mengingat betul detik-detik menjelang penandatanganan tersebut.
Saat itu ia sudah berada di bandara dan bersiap terbang ke Palembang ketika menerima kabar dari rekan-rekannya bahwa Keppres telah ditandatangani.
“Saya sudah di depan gate, tinggal boarding. Tiba-tiba teman-teman bilang, ‘Mbak Lana jangan pergi, sore ini harus datang. Sudah ditandatangani Bapak Presiden.’ Akhirnya saya membatalkan penerbangan. Rasanya perjuangan itu benar-benar terbayar.”
Namun bagi Lana, Hari Kebaya Nasional bukanlah tujuan akhir. Ia justru menjadi pijakan untuk membangun gerakan yang lebih besar, yaitu menjadikan kebaya sebagai kekuatan budaya sekaligus penggerak ekonomi nasional.
Kebaya sebagai Ekosistem Ekonomi

Selama ini banyak orang memandang kebaya hanya sebagai busana tradisional. Lana memiliki sudut pandang yang berbeda.
Menurutnya, setiap orang yang mengenakan kebaya sebenarnya sedang menghidupkan rantai ekonomi yang sangat panjang. Di balik sebuah kebaya terdapat pengrajin batik, penenun, pembuat songket, pembordir, penjahit, perancang busana, pembuat aksesori, perias wajah, fotografer, hingga pelaku UMKM.
“Kita hanya bicara kebaya. Tapi di balik itu ada industri tekstil, pengrajin bordir, aksesori, make-up artist. Saya selalu bilang kebaya itu padat karya.”
Karena itulah setiap penyelenggaraan Hari Kebaya Nasional selalu ia dorong menjadi ruang kolaborasi berbagai sektor.
Ia mencontohkan kegiatan Hari Kebaya Nasional di Jakarta yang semula diperkirakan dihadiri sekitar 1.200 peserta. Antusiasme masyarakat ternyata jauh melampaui perkiraan hingga lebih dari 2.000 orang hadir.
Fenomena serupa juga terjadi di berbagai daerah. Ribuan perempuan berkebaya memadati Jembatan Ampera di Palembang, kegiatan budaya di Sumatera Utara, Bandung, Yogyakarta, hingga Lombok. Bagi Lana, angka-angka tersebut membuktikan bahwa budaya mampu menggerakkan ekonomi sekaligus memperkuat identitas bangsa.
Lahirnya Tim Nasional Kebaya Indonesia
Perjuangan menghadirkan Hari Kebaya Nasional tidak dilakukan seorang diri.
Lana menyadari bahwa pengakuan terhadap kebaya membutuhkan dukungan banyak pihak. Karena itu ia menginisiasi pembentukan Tim Nasional Kebaya Indonesia yang menghimpun berbagai komunitas pecinta kebaya dari seluruh Indonesia.
Selama pandemi COVID-19, ketika mobilitas masyarakat dibatasi, koordinasi justru dilakukan secara intensif melalui berbagai pertemuan daring.
Forum diskusi, Focus Group Discussion (FGD), hingga kajian akademik digelar bersama budayawan, kementerian, dan berbagai komunitas.
“Saya tidak bisa berjalan sendiri. Karena itu saya mengajak sebelas komunitas lain supaya sama-sama mendorong pemerintah. Semakin banyak yang bergerak, semakin kuat perjuangannya.”
Hasilnya, pemerintah kemudian memberikan dukungan terhadap penetapan Hari Kebaya Nasional sekaligus proses pengajuan kebaya ke UNESCO.
Meski demikian, Lana menilai pekerjaan besar masih menanti. Ia berharap semakin banyak pemerintah daerah yang mendaftarkan kebaya khas wilayahnya sebagai Warisan Budaya Takbenda agar memperoleh perlindungan hukum dan pengakuan resmi.
Perempuan Indonesia Maju Bukan Organisasi Kebaya

Meski identik dengan kebaya, Lana menegaskan bahwa Perempuan Indonesia Maju (PIM) bukanlah organisasi yang hanya bergerak di bidang budaya.
Organisasi yang didirikannya pada 2019 memiliki visi yang jauh lebih luas, yakni membangun perempuan Indonesia melalui berbagai sektor pembangunan.
PIM memiliki bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, sosial budaya, pariwisata, lingkungan hidup, hingga hukum dan hak asasi manusia.
“Saya ingin ada organisasi yang memang khusus untuk pemberdayaan perempuan. Programnya kesehatan, pendidikan, sosial budaya, ekonomi, lingkungan hidup, sampai hukum dan HAM.”
Seluruh program tersebut disusun berdasarkan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) agar memberikan dampak yang berkelanjutan.
Fokus pada Program Nyata
Berbeda dengan organisasi yang hanya berfokus pada kegiatan seremonial, PIM memilih menjalankan program-program yang dapat diukur hasilnya.
Salah satu program unggulannya adalah percepatan penurunan angka stunting yang telah berlangsung selama empat tahun bekerja sama dengan BKKBN, tenaga kesehatan, serta pemerintah daerah.
Program tersebut tidak hanya memberikan bantuan kepada anak yang mengalami stunting, tetapi juga mendampingi keluarga selama enam bulan melalui edukasi kesehatan, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga pemberian penghargaan kepada keluarga yang berhasil menjalankan pola pengasuhan terbaik.
“Semua program PIM harus sustainable. Jangan cuma selesai acara, potong pita, lalu selesai. Kami ingin dampaknya benar-benar dirasakan masyarakat.”
Selain kesehatan, PIM juga aktif membuka kerja sama dengan Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kementerian, pemerintah daerah, hingga sektor swasta untuk memperkuat ekonomi perempuan.
Peran pengurus pusat adalah membuka akses dan jaringan, sedangkan pelaksanaannya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing daerah.
Budaya Sebagai Diplomasi Indonesia

Kecintaan Lana terhadap budaya tidak lahir begitu saja.
Ia pernah tinggal cukup lama di Amerika Serikat. Pengalaman hidup di luar negeri justru membuatnya semakin mencintai budaya Indonesia.
Saat berada di Amerika, ia menggagas program televisi Indonesia pertama di negara tersebut yang kemudian memperoleh penghargaan MURI.
Pengalaman itu membuka pandangannya bahwa budaya merupakan alat diplomasi yang paling efektif.
“Semakin jauh dari Indonesia, saya justru semakin mencintai budaya kita.”
Karena itu ia memiliki cita-cita besar agar kebaya dapat menjadi identitas Indonesia di mata dunia.
“Kalau orang melihat hanbok langsung ingat Korea. Kalau melihat sari langsung ingat India. Saya ingin ketika orang melihat kebaya, mereka langsung ingat Indonesia.”
Generasi Muda Menjadi Kunci

Lana memahami bahwa pelestarian budaya tidak akan berhasil tanpa melibatkan generasi muda.
Karena itu PIM mulai memberikan ruang kepemimpinan kepada anak-anak muda.
Ia mencontohkan Ketua PIM Provinsi Nusa Tenggara Timur yang masih berusia 26 tahun serta sejumlah pengurus muda di Maluku dan daerah lainnya.
Baginya, regenerasi organisasi sama pentingnya dengan pelestarian budaya.
“Kita harus merangkul anak-anak muda. Perempuan juga harus adaptif. Saya sendiri sekarang masih belajar AI supaya bisa mengikuti perkembangan zaman.”
Ia percaya budaya dan teknologi bukan dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya harus berjalan bersama agar nilai-nilai budaya tetap relevan di era digital.
Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Organisasi
Bagi Lana, organisasi perempuan tidak boleh bersifat eksklusif.
Karena itu setiap kegiatan PIM selalu mengundang berbagai organisasi perempuan, sekolah, UMKM, desainer, pemerintah, hingga komunitas budaya.
Kolaborasi menjadi kata kunci.
PIM bahkan aktif menggandeng sekolah kejuruan, pelaku UMKM, serta desainer muda untuk mengembangkan produk-produk lokal.
Ia juga mendukung inovasi desain kebaya agar lebih dekat dengan generasi muda tanpa meninggalkan nilai-nilai pakem.
“Yang penting anak muda mencintai kebaya dulu. Pakem tetap dijaga, tetapi penyajiannya bisa mengikuti perkembangan zaman.”
Perempuan sebagai Fondasi Kemajuan Bangsa
Di penghujung wawancara, Lana kembali menegaskan bahwa misi terbesar PIM bukanlah membangun organisasi yang besar, melainkan membangun perempuan Indonesia yang sehat, berpendidikan, memiliki keterampilan, mandiri secara ekonomi, sekaligus bangga terhadap budaya bangsanya.
Menurutnya, perubahan besar selalu dimulai dari keluarga.
Perempuan yang sehat akan melahirkan keluarga yang sehat. Perempuan yang berpendidikan akan menciptakan generasi yang berkualitas. Perempuan yang berdaya secara ekonomi akan memperkuat ketahanan keluarga. Dan perempuan yang mencintai budaya akan menjaga identitas bangsa.
Visi itulah yang terus dibawa Lana Koentjoro melalui Perempuan Indonesia Maju. Baginya, kebaya hanyalah awal dari perjalanan panjang untuk membangun perempuan Indonesia yang adaptif terhadap perkembangan zaman, namun tetap berpijak kuat pada akar budaya Nusantara.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

