Jakarta — “Saya hidup dari batik.” Kalimat singkat itu menjadi gambaran paling sederhana tentang perjalanan Hartono Sumarsono. Lebih dari lima dekade, batik menjadi bagian dari perjalanan hidup, bisnis, sekaligus cara pandangnya terhadap warisan budaya Indonesia.
Hartono tidak lahir sebagai pemilik galeri atau kolektor batik lawasan. Perjalanannya dimulai dari Pasar Tanah Abang pada akhir 1960-an. Sekitar 1969, ketika masih bersekolah, ia bekerja bersama pamannya di Tanah Abang yang kala itu masih memiliki suasana berbeda dengan pusat perdagangan seperti sekarang.

Siang bekerja, sekolah tetap berjalan. Tiga tahun kemudian, pada 1972, Hartono mulai berdagang sendiri.
Perjalanan bisnisnya sempat berbelok. Setelah menikah pada 1976, ia membantu usaha mertuanya dan pernah mencoba berjualan mobil. Namun, bisnis tersebut tidak membuatnya bertahan lama.
“Saya orangnya lebih ke seni, bukan ke hoki atau keberuntungan dalam jual beli mobil,” kenangnya.
Hartono akhirnya kembali ke dunia batik. Sekitar 1982, ia kembali berdagang di Tanah Abang. Di sana, ia melihat potensi pasar yang jauh lebih besar dibandingkan pengalaman sebelumnya.
Ia mengibaratkan pengalaman tersebut seperti berpindah dari sungai ke laut.
“Waktu itu saya hanya menjual produk orang lain. Kalau produk itu kemudian menjadi terkenal, yang dikenal bukan saya, tetapi pemilik produknya,” tuturnya.
Kesadaran itu kemudian melahirkan keputusan penting: membuat produk dan merek sendiri.
Kencana Ungu dan Strategi Membangun Merek
Hartono memilih nama Kencana Ungu sebagai merek dagangnya. Menariknya, ia justru tidak menjadikan nama pribadi sebagai identitas utama bisnis.
“Bagi saya, saya tidak perlu dikenal orang. Saya ingin yang dikenal itu mereknya, produknya,” katanya.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Sekitar awal dekade 1980-an, Kencana Ungu mulai berkembang dan dalam waktu sekitar tiga tahun namanya dikenal tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia.
Produk Kencana Ungu pada awalnya dibuat sendiri di Jakarta. Seiring perkembangan pasar, Hartono juga mulai mencari produk dengan harga yang lebih terjangkau dan membedakan lini mereknya.
Bagi Hartono, keberhasilan bisnis tidak terlepas dari fokus.
“Satu hal, fokus. Dalam bekerja kita harus fokus. Saya juga tidak memikirkan yang lain. Pokoknya batik, batik, batik,” ujarnya.
Prinsip tersebut tetap ia pegang ketika industri batik berubah. Menurutnya, tantangan bisnis batik saat ini bahkan semakin besar karena jumlah pemain telah berkembang pesat. Biaya promosi dan pameran juga menjadi tantangan, terutama bagi pelaku usaha yang baru memulai.
Dari Pedagang Menjadi Kolektor Batik Lawasan
Perjalanan Hartono kemudian memasuki fase baru pada sekitar 1983. Ia mulai berburu batik lawasan.
Lokasi awal perburuannya antara lain kawasan Jalan Surabaya, Jakarta. Kain-kain lama dibelinya sedikit demi sedikit dari berbagai tempat.
Ketertarikan tersebut muncul ketika ia melihat kain batik Indonesia dibawa ke luar negeri. Sebagai orang yang sehari-hari menjalankan bisnis batik, Hartono kemudian berpikir untuk tidak sekadar menjual batik, tetapi juga menyimpan dan merawat kain-kain yang dianggap memiliki nilai.
“Saya ini bisnis batik. Kenapa tidak sekalian mengoleksi?” katanya.
Kini, koleksi batik lawasan Hartono mencapai sekitar 2.000 kain. Namun, jumlah bukan menjadi tujuan utama.
“Batik bisa dikoleksi banyak sekali, tetapi tidak ada artinya kalau kualitasnya tidak bagus,” ujarnya.
Ia memilih kain berdasarkan kualitas dan nilai yang dimilikinya. Baginya, menyimpan batik lawasan bukan semata-mata mengumpulkan benda lama, tetapi menjaga agar motif dan karya yang pernah hidup pada masa lalu tidak hilang.
Hartono menyadari sebagian motif batik dapat bertahan selama puluhan tahun, tetapi juga dapat menghilang jika tidak ada yang menyimpan dan merawatnya.
“Kalau saya punya koleksi, saya tidak ingin ketika saya meninggal nanti semuanya hilang begitu saja,” katanya.
Meski demikian, Hartono tidak menempatkan dirinya sebagai pemburu koleksi yang meninggalkan bisnis utama. Ia menyebut aktivitas tersebut sebagai hobi.
“Saya tidak mau meninggalkan bisnis utama hanya demi berburu koleksi,” tegasnya.
Batik Tidak Harus Mahal
Salah satu pandangan Hartono yang cukup kuat adalah mengenai akses masyarakat terhadap batik. Ia tidak sepakat jika kecintaan terhadap batik hanya dikaitkan dengan penggunaan batik mahal atau jenis tertentu.
Menurutnya, batik tulis maupun printing memiliki pasar masing-masing. Karena itu, perdebatan mengenai mana yang lebih layak disebut atau dihargai tidak perlu menjadi persoalan utama.
“Batik punya pasar masing-masing,” katanya.
Bagi Hartono, persoalan yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat tetap menggunakan batik.
Ia menilai tidak masuk akal jika seluruh masyarakat diwajibkan menggunakan batik mahal, terutama mereka yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas.
“Batik itu untuk semua orang,” ujarnya.
Karena alasan itu pula, sebagian koleksi batiknya dijual dengan harga yang relatif terjangkau. Ia menyebut ada kain yang dijual sekitar Rp200 ribu, meskipun sebenarnya masih memungkinkan dijual lebih tinggi.
Namun, keuntungan bukan satu-satunya pertimbangan.
“Bagi saya bukan itu tujuannya. Saya ingin orang memakai batik,” kata Hartono.
Pandangan tersebut berangkat dari keyakinannya bahwa batik merupakan bagian dari heritage Indonesia. Pelestarian, menurutnya, bukan hanya soal menyimpan kain mahal, tetapi memastikan batik tetap hidup, digunakan, dan dikenal masyarakat.
Gudang yang Berubah Menjadi Galeri
Galeri Hartono Sumarsono juga memiliki cerita tersendiri. Kawasan bangunan yang berada di Jalan Palmerah Utara II No.209D tersebut pada awalnya tidak dirancang sebagai ruang pamer.
“Awalnya sebenarnya untuk gudang,” ungkapnya.

Hartono membutuhkan tempat untuk menyimpan koleksi batik yang terus bertambah. Karena fungsi awalnya sebagai gudang, bangunan tersebut dilengkapi fasilitas pendukung, termasuk lift barang.
Seiring waktu, tempat penyimpanan tersebut berkembang menjadi galeri. Koleksi yang sebelumnya hanya disimpan kemudian dapat dilihat dan dipelajari oleh masyarakat.
Perjalanan Hartono menunjukkan hubungan yang panjang antara bisnis dan kecintaan terhadap batik. Ia memulai dari aktivitas berdagang di Tanah Abang, membangun merek Kencana Ungu, lalu mengembangkan koleksi batik lawasan.
Namun, di balik perjalanan tersebut terdapat satu prinsip yang terus ia pegang: batik harus tetap hidup.
Bukan sekadar menjadi barang dagangan, bukan pula hanya menjadi koleksi, tetapi tetap digunakan masyarakat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi Hartono Sumarsono, mungkin itulah cara paling sederhana untuk menjaga batik sebagai warisan budaya Indonesia.


