Di sebuah sudut Yogyakarta, batik tidak hanya dipahami sebagai kain bermotif indah yang dikenakan dalam berbagai kesempatan. Di tangan Nurohmad, pemilik Workshop Batik Dongaji, batik menjelma menjadi ruang belajar yang luas tentang manusia, alam, sejarah, hingga hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.
Bagi Nurohmad, batik bukan sekadar produk budaya atau komoditas ekonomi. Ia adalah sebuah sistem pengetahuan yang diwariskan turun-temurun oleh leluhur Nusantara. Sayangnya, menurut dia, yang diwariskan kepada generasi sekarang sering kali hanya bendanya, sementara ilmu yang melatarbelakanginya perlahan menghilang.
“Jangan sampai kita hanya menerima kainnya, tetapi kehilangan ilmu pengetahuannya,” ujarnya dalam sebuah perbincangan panjang di Workshop Batik Dongaji dengan Batiklopedia.com.
Pandangan itulah yang kemudian melahirkan konsep “Dongaji”, sebuah istilah yang ia gunakan untuk menggambarkan proses belajar batik secara mendalam. Dalam pandangannya, membatik bukan hanya aktivitas teknis mencanting malam di atas kain, melainkan sebuah proses “ngaji” atau menuntut ilmu.
Batik sebagai Jalan Mengenal Tuhan

Perjalanan Nurohmad bersama batik berangkat dari pencarian yang jauh lebih dalam dibanding sekadar aktivitas berkesenian.
Baginya, batik adalah wasilah atau perantara untuk mengenal Tuhan. Proses membatik menjadi bagian dari laku hidup yang menghadirkan ketenangan sekaligus kesadaran spiritual.
Ia mengaku menemukan kedamaian ketika kembali menekuni batik setelah sebelumnya berkecimpung dalam berbagai aktivitas kreatif lainnya. Pada masa-masa awal, perjalanan tersebut tidak mudah. Ia harus menghadapi berbagai tantangan dan proses panjang sebelum benar-benar menemukan makna yang ia cari.
Namun setelah bertahun-tahun menjalani proses itu, batik justru menjadi ruang refleksi yang menghadirkan ketenangan.
Dalam pandangannya, proses kreatif tidak bisa dipisahkan dari pembentukan karakter manusia. Karena itu, ia percaya bahwa membatik bukan sekadar menghasilkan karya, tetapi juga membentuk pribadi yang sabar, teliti, dan memiliki kesadaran terhadap dirinya sendiri.
Batik Adalah Sistem Pengetahuan

Nurohmad termasuk sedikit pelaku batik yang memandang batik sebagai sebuah sistem pengetahuan yang kompleks.
Ia meyakini bahwa para leluhur Nusantara tidak menciptakan motif batik secara sembarangan. Setiap garis, bentuk, susunan ornamen, hingga pilihan warna kemungkinan besar lahir dari metodologi tertentu yang kini sebagian besar telah hilang.
Menurutnya, masyarakat modern hanya mewarisi hasil akhirnya berupa kain batik. Sementara cara membaca, memahami, dan menafsirkan simbol-simbol yang terkandung di dalamnya sudah tidak banyak diketahui.
“Batik itu sebenarnya tulisan,” katanya.
Pernyataan tersebut bukan sekadar metafora. Ia meyakini bahwa motif batik menyimpan pesan, nilai, bahkan rekaman pengetahuan yang dahulu dapat dibaca oleh masyarakat pendukungnya.
Seperti halnya aksara yang menyimpan informasi melalui rangkaian huruf, motif batik juga menyimpan informasi melalui rangkaian simbol visual.
Karena itulah ia sering mengajak para pembatik, mahasiswa, maupun pengunjung workshop untuk melihat batik lebih jauh dari sekadar motif dan warna.
Membaca Alam Melalui Weton

Salah satu bidang yang banyak dipelajari Nurohmad adalah weton dan berbagai sistem pengetahuan Jawa yang berkaitan dengan pembacaan simbol alam.
Ia menegaskan bahwa weton bukan alat ramalan sebagaimana sering dipahami masyarakat. Menurutnya, weton merupakan cara membaca karakter simbolik yang terdapat di alam dan kemudian direfleksikan ke dalam kehidupan manusia.
Dalam tradisi Jawa, setiap hari dan pasaran memiliki asosiasi dengan unsur alam tertentu, seperti matahari, bulan, tanah, air, api, maupun angin. Masing-masing juga memiliki keterkaitan dengan warna, tumbuhan, hewan, dan karakter tertentu.
Konsep tersebut menurutnya sangat menarik jika diterapkan dalam proses penciptaan batik.
Seseorang yang lahir pada kombinasi hari dan pasaran tertentu dapat memiliki motif yang dirancang berdasarkan simbol-simbol yang melekat pada hari kelahirannya. Unsur bulan, burung, pohon, warna, maupun karakter tertentu dapat diterjemahkan menjadi ornamen batik yang bersifat personal.
Pendekatan tersebut telah beberapa kali ia terapkan kepada peserta workshop maupun pengunjung Batik Dongaji.
Hasilnya cukup mengejutkan. Banyak peserta merasa lebih terhubung dengan batik yang mereka buat karena motif tersebut lahir dari refleksi atas diri mereka sendiri.
“Orang jadi merasa, ini aku banget,” katanya.
Ketika Batik Menjadi Cermin Diri

Menurut Nurohmad, kekuatan batik sesungguhnya terletak pada kemampuannya menjadi media refleksi.
Ia melihat banyak orang datang ke dunia batik hanya untuk belajar teknik. Padahal di balik teknik tersebut terdapat peluang besar untuk memahami diri sendiri.
Melalui simbol-simbol budaya, seseorang dapat membaca kembali perjalanan hidupnya, karakternya, bahkan relasinya dengan lingkungan sekitar.
Karena itulah ia selalu berusaha menghubungkan batik dengan berbagai konsep budaya Jawa lainnya, seperti Macapat, Hanacaraka, hingga Sangkan Paraning Dumadi.
Bagi Nur Rohmat, seluruh sistem pengetahuan tersebut sebenarnya saling berkaitan dan dapat menjadi sumber inspirasi penciptaan batik yang sangat kaya.
Ia bahkan bercita-cita mengembangkan metode penciptaan motif yang berangkat dari perjalanan hidup manusia, mulai dari masa dalam kandungan, masa kanak-kanak, masa remaja, dewasa, hingga kembali kepada Sang Pencipta.
Menurutnya, konsep tersebut dapat membuka perspektif baru dalam memahami fungsi dan makna batik.
Kritik terhadap Dunia Desain Batik Modern
Di tengah maraknya perkembangan industri fesyen dan desain batik kontemporer, Nurohmad memiliki sejumlah catatan kritis.
Ia menilai banyak desainer hanya berfokus pada aspek visual tanpa memahami konteks budaya yang melatarbelakangi motif yang digunakan.
Padahal dalam tradisi batik, setiap motif memiliki cerita, filosofi, serta fungsi sosial yang berbeda-beda.
Ia pernah menemukan karya yang menggabungkan berbagai motif dari daerah berbeda tanpa memahami makna yang terkandung di dalam masing-masing motif tersebut.
Menurutnya, kondisi semacam ini berpotensi melahirkan distorsi makna.
“Jangan sampai dua motif yang digabung justru memiliki pesan yang bertentangan,” ujarnya.
Bagi Nurohmad, seorang desainer batik idealnya memahami keseluruhan proses. Tidak hanya mampu membuat gambar yang menarik, tetapi juga mengetahui teknik pembuatannya, filosofi yang mendasarinya, hingga konteks budaya tempat motif itu berasal.
Karena itulah ia sering mendorong mahasiswa maupun desainer muda untuk memperdalam pengetahuan sebelum menciptakan karya baru.
Batik Tradisional dan Inovasi Tidak Perlu Dipertentangkan
Meski sangat menekankan pentingnya memahami akar budaya, Nurohmad bukan sosok yang menolak perubahan.
Sebaliknya, ia percaya bahwa kebudayaan selalu bergerak dan berkembang mengikuti zamannya.
Ia bahkan aktif mengenalkan konsep batik kepada anak-anak melalui berbagai media sederhana. Tidak harus menggunakan malam panas dan canting. Lakban, daun, lumpur, hingga berbagai bahan lain dapat digunakan untuk memperkenalkan prinsip dasar perintang warna.
Menurutnya, yang terpenting adalah memahami konsep dan semangat yang ada di balik proses tersebut.
Ia tidak setuju jika batik dibatasi hanya pada alat tertentu. Dalam pandangannya, sejarah batik sendiri menunjukkan adanya perkembangan teknologi dari masa ke masa.
Karena itu inovasi perlu terus diberi ruang, selama tidak memutus hubungan dengan akar pengetahuan yang melahirkannya.
“Yang penting jangan kehilangan fondasinya,” katanya.
Menjaga Agar Pengetahuan Tidak Hilang

Di Workshop Batik Dongaji, Nurohmad tidak hanya mengajarkan cara mencanting atau mewarnai kain.
Ia berusaha membangun kesadaran bahwa batik adalah pintu masuk untuk memahami kebudayaan Nusantara yang lebih luas.
Baginya, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar melestarikan teknik membatik, melainkan menjaga agar sistem pengetahuan yang menyertainya tidak ikut hilang.
Ia menyadari bahwa tidak semua orang memiliki minat yang sama. Ada yang tertarik pada teknik, ada yang fokus pada ekonomi, ada pula yang tertarik pada filosofi.
Namun semuanya memiliki peran yang sama penting dalam menjaga keberlangsungan batik.
Karena itu ia memilih berbagi pengetahuan sebanyak mungkin kepada siapa saja yang datang belajar.
“Saya merasa punya kewajiban untuk menyampaikan ini semua,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus modernisasi, Nurohmad percaya batik masih memiliki masa depan yang panjang. Bukan hanya sebagai identitas budaya Indonesia, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang relevan bagi generasi masa kini.
Melalui Batik Dongaji, ia terus mengajak masyarakat melihat batik dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar kain yang indah dipandang mata, melainkan sebuah warisan intelektual yang menyimpan cara pandang leluhur tentang manusia, alam, dan kehidupan. Dan selama pengetahuan itu terus dipelajari serta dibagikan, batik akan tetap hidup—bukan hanya di atas kain, tetapi juga di dalam kesadaran masyarakat yang memakainya.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko



