Karpet Persia buatan tangan tidak lagi hanya diposisikan sebagai karya dekoratif berbasis visual. Melalui karya konseptual berjudul “The Privilege of Touch”, seniman karpet Persia Daniel Bikas menghadirkan pendekatan baru yang menempatkan sentuhan sebagai bagian utama dari pengalaman seni, khususnya bagi penyandang tunanetra dan hambatan penglihatan.
Karya tersebut dirancang sebagai seni taktil yang dapat dibaca dan dipahami melalui ujung jari. Permukaan karpet memanfaatkan perbedaan tekstur, ketinggian, material, serta struktur relief untuk membangun makna. Sutra digunakan untuk menciptakan permukaan halus, sementara wol menghadirkan bagian yang lebih menonjol dan mudah dikenali melalui sentuhan.
“The Privilege of Touch” dibuat dengan latar belakang sutra hitam dan tulisan berwarna biru tua menggunakan gaya huruf Romawi. Kontras visual yang rendah membuat tulisan tersebut sulit dibaca dengan mata. Di atasnya, terdapat terjemahan Braille dari wol hitam dan biru yang dibuat timbul sehingga dapat dibaca melalui sentuhan.
Konsep tersebut sengaja membalik pengalaman yang lazim terjadi di ruang seni. Ketika pengunjung yang dapat melihat harus berusaha keras memahami tulisan visual, penyandang tunanetra justru dapat mengakses pesan melalui Braille.
Karpet berukuran 70 x 50 sentimeter dengan kepadatan 529 KPSI itu membutuhkan waktu pengerjaan sekitar empat bulan.
Menurut gagasan yang dikembangkan Daniel Bikas, seni yang aksesibel tidak seharusnya hanya menghadirkan fasilitas tambahan seperti label Braille atau panduan audio. Karya seni itu sendiri dapat dirancang sejak awal agar dapat dinikmati melalui indera selain penglihatan.
Pendekatan tersebut sekaligus menantang kebiasaan museum dan galeri yang umumnya melarang pengunjung menyentuh karya. Dalam seni taktil, sentuhan justru menjadi bagian dari komunikasi antara karya dan penikmatnya.
Melalui “The Privilege of Touch”, tradisi pengerjaan karpet Persia dikembangkan menjadi medium kontemporer yang menggabungkan kerajinan, aksesibilitas, dan inklusi. Karya itu menegaskan bahwa pengalaman seni tidak harus bergantung hanya pada kemampuan melihat.


