Jakarta — Lions Club Jakarta Green Garden District 307 A1 menggelar kunjungan budaya ke Galeri Hartono Sumarsono, pemilik usaha batik Kencana Ungu, Jakarta, untuk memperluas pemahaman anggota mengenai sejarah, perkembangan, dan kekayaan batik Indonesia.
Kegiatan tersebut diikuti 44 peserta. Vonny Setiady, Ketua Panitia Kegiatan Kunjungan Lions Club Jakarta di Galeri Hartono Sumarsono, mengatakan budaya menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian organisasi selain berbagai program pengabdian seperti diabetes, penanggulangan bencana, kepemudaan, dan kanker.
“Lions Club adalah organisasi pengabdian,” ujar Vonny.
Menurutnya, kunjungan ke Galeri Hartono Sumarsono dipilih karena Hartono dinilai memiliki peran dalam menjaga warisan budaya Indonesia melalui pengarsipan dan koleksi kain dari berbagai daerah.
“Kami menganggap Pak Hartono sebagai salah satu penjaga budaya Indonesia. Beliau telah banyak mengarsipkan dan mengoleksi kain-kain dari berbagai daerah di Indonesia,” katanya.

Vonny menjelaskan kegiatan budaya tersebut tidak dilakukan secara rutin, melainkan berdasarkan momentum tertentu.
Kali ini, peserta diajak memahami perkembangan batik Indonesia melalui perspektif sejarah dan akulturasi. Menurut Vonny, tema kegiatan membahas lima negara yang memengaruhi perkembangan batik Indonesia.
“Kami ingin mengajak peserta untuk melihat lebih jauh ke belakang, tidak hanya memahami motif, tetapi juga memahami apa yang melatarbelakangi lahirnya motif-motif tersebut,” ujarnya.
Ia mengatakan batik Indonesia berkembang melalui percampuran berbagai budaya. Karena itu, peserta tidak hanya diajak melihat batik sebagai kain atau busana bermotif, tetapi juga memahami perjalanan sejarah di balik motif dan warna yang berkembang di Indonesia.
Pandangan tersebut mendapat perhatian dari Taty Gobel, anggota Lions Club Jakarta Green Garden District 307 A1.
Menurut Taty, kunjungan tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai batik. Ia menilai penyampaian materi yang ringan membuat informasi lebih mudah dipahami.
“Saya memang pecinta batik. Saya juga tergabung di Rumah Pesona Kain dan komunitas batik. Meskipun demikian, pengetahuan tentang batik saya rasakan selalu kurang,” kata Taty.
Taty mengatakan kecintaannya terhadap batik diwujudkan dengan mengenakan batik dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Ia juga mengaku lebih tertarik mengikuti kegiatan Lions Club yang berkaitan dengan budaya, khususnya batik.
Sementara itu, Galeri Hartono Sumarsono yang menjadi lokasi kegiatan awalnya dibangun bukan sebagai galeri, melainkan gudang untuk menyimpan koleksi batik. Bangunan tersebut kemudian berkembang menjadi ruang yang memungkinkan masyarakat mempelajari koleksi dan sejarah batik.
Kegiatan Lions Club ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan, termasuk pembelajaran langsung, pengarsipan, penggunaan, serta pengenalan sejarah batik.

