Di balik selembar kain batik yang indah, sering kali tersimpan perjalanan panjang seorang pembatik. Ada proses kreatif, perjuangan ekonomi, hingga keyakinan untuk mempertahankan warisan budaya di tengah derasnya arus industri tekstil modern.
Perjalanan itulah yang tergambar dalam sosok Wirasno, pendiri Canting Wira sekaligus Ketua Asosiasi Perajin Batik Jawa Timur (APBJ). Selama lebih dari dua dekade, ia tidak hanya membangun merek batik yang dikenal kolektor nasional, tetapi juga menjadi salah satu motor penggerak perkembangan batik di Jawa Timur.
Bagi Wirasno, batik bukan sekadar produk fesyen.
“Batik itu karya seni. Yang kita rawat bukan sekadar orang yang bekerja, tetapi seniman,” ujarnya dalam wawancaranya dengan Batiklopedia.com.

Berawal dari Sebuah Penugasan
Menariknya, dunia batik bukanlah cita-cita masa kecil Wirasno.
Ia justru mengaku awalnya tidak memiliki ketertarikan terhadap batik. Kesempatan mengenal batik datang ketika mengikuti program pertukaran pemuda tingkat provinsi yang mengharuskannya mengajar membatik di Palu, Sulawesi Tengah.
“Awalnya sebenarnya saya kurang tertarik dengan batik. Tapi karena tugas itu, saya mau tidak mau harus mengajar batik. Setiap hari saya harus belajar dulu secara teori, kemudian tiap hari mengajari penduduk di sana,” kenangnya.
Selama tiga bulan menjalani proses tersebut, keterampilannya berkembang pesat. Ia mengajar masyarakat di Palu, Donggala, hingga Pantoloan. Pengalaman itu menjadi dasar yang kelak mengubah arah hidupnya.
Setelah kembali ke Jawa Timur, ia memilih menyelesaikan kuliah di bidang pertanian, lalu bekerja di perusahaan selama sekitar sebelas tahun.
Namun kemampuan membatik yang pernah dipelajari ternyata tidak pernah benar-benar hilang.

Meninggalkan Zona Nyaman
Titik balik kehidupan Wirasno datang setelah menikah dengan perempuan yang berasal dari keluarga pembatik.
Ia mulai melihat peluang sekaligus panggilan hidup.
“Saya kenal dengan istri saya. Nah, istri saya ini dari keluarga pembatik. Akhirnya istri support, ‘udah kita batik aja’. Orang saya juga bisa membatik, dan saya juga mengalami kejenuhan di kantor waktu itu,” tuturnya.
Keputusan meninggalkan pekerjaan tetap tentu bukan perkara mudah.
“Sebenarnya itu keputusan yang sulit. Kan biasa kerja kantor, jamnya jelas, income juga jelas,” katanya.
Namun kecintaannya terhadap dunia kreatif akhirnya mengalahkan rasa aman sebagai karyawan.
Memulai Tanpa Modal
Tidak banyak orang mengetahui bahwa Canting Wira lahir hampir tanpa modal.
Wirasno mengawali usahanya hanya dengan menjual batik milik saudara dan teman.
“Kalau bicara modal awal, enggak ada. Saya cuma jualin barang orang lain. Modalnya kepercayaan,” ungkapnya.
Kepercayaan itu perlahan berubah menjadi modal usaha.
Keuntungan demi keuntungan dikumpulkan hingga akhirnya pada 2005 ia memiliki modal sekitar Rp3 juta untuk mulai memproduksi batik sendiri.
Jumlah tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun perputaran usaha yang cepat membuat bisnisnya terus berkembang.
“Yang kita produksi sudah ada yang membeli. Bahkan begitu selesai langsung terjual,” katanya.

Kemenangan Nasional yang Mengubah Segalanya
Nama Wirasno mulai dikenal luas ketika memenangkan lomba motif batik tingkat nasional.
Karya bertema Majapahitku menjadi titik balik perjalanan Canting Wira.
“Ketika saya menang lomba batik tingkat nasional, saya merasa percaya diri. Dari situ saya semakin mantap menjalani bisnis batik,” ujarnya.
Media mulai meliput karyanya.
Para kolektor mulai berdatangan.
Sejak saat itu Canting Wira identik dengan batik artistik untuk pasar kolektor dan segmen menengah atas.
“Produk saya itu bukan hanya dihitung dari biaya produksi. Ada nilai seni yang juga harus dihargai,” katanya.
Filosofi “One Person One Product”
Di tengah tren banyak daerah berlomba menciptakan identitas batik, Wirasno memiliki pendekatan berbeda.
Ia tidak ingin terburu-buru memberi label “Batik Surabaya”.
Sebaliknya, ia memperkenalkan konsep One Person One Product.
“Yang ada di otak saya bukan one village one product, tetapi one person one product. Saya harus punya karya yang mewakili diri saya,” jelasnya.
Karena itu setiap karya Canting Wira memiliki karakter visual yang khas.
Ia bahkan menyisipkan ilustrasi kepala buaya pada bagian tertentu sebagai penanda bahwa karya tersebut lahir dari Surabaya.

Memimpin Ratusan Perajin Batik
Selain berkarya, Wirasno juga aktif membangun organisasi perajin.
Sebagai Ketua APBJ, ia memimpin sekitar 300 anggota aktif yang tersebar di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur.
“Di tiap kabupaten kota ada anggota saya. Organisasi ini bukan organisasi fiktif. Memang ada perajinnya dan sampai hari ini masih solid,” ujarnya.
Di bawah kepemimpinannya, APBJ rutin menggelar berbagai kegiatan seperti Jambore Batik Jawa Timur, Duta Batik Jawa Timur, hingga Festival Film Batik Jawa Timur.
Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni.
Melainkan cara memperluas apresiasi masyarakat terhadap batik.
Menjaga Batik Asli
Sebagai pemimpin organisasi, Wirasno melihat batik Jawa Timur memiliki keunikan tersendiri.
Ia menilai sebagian besar perajin di Jawa Timur masih mempertahankan batik cap dan batik tulis dibanding batik printing.
“Pembatik Jawa Timur itu semangatnya masih luar biasa. Pengaruh printing belum begitu banyak karena mereka masih memegang kuat batik cap dan tulis,” katanya.
Menurutnya, justru kekayaan karakter batik Madura, Tuban, Sidoarjo, dan daerah lainnya membuat batik Jawa Timur memiliki identitas yang kuat di pasar nasional maupun internasional.
Bertahan di Masa Pandemi
Pandemi COVID-19 menjadi masa paling berat dalam perjalanan Canting Wira.
Pasar kolektor berhenti total.
Tidak ada pameran.
Tidak ada acara budaya.
Penjualan merosot drastis.
“COVID itu benar-benar sama sekali. Customer saya tidak punya panggung untuk memakai batik,” kenangnya.
Alih-alih menyerah, ia justru membuat batik ciprat sederhana dengan harga terjangkau.
Mahasiswa di sekitar rumahnya menjadi pelanggan utama.
“Mereka untung, saya juga untung. Meskipun sama-sama sedikit, tapi kita sama-sama tertolong,” katanya.
Meski sempat menjual aset untuk mempertahankan usaha, Wirasno tetap memilih bertahan.

Merawat Seniman, Bukan Buruh
Kini Canting Wira kembali bangkit.
Jumlah pembatik yang sempat berkurang perlahan kembali bertambah.
Namun Wirasno tidak ingin tergesa-gesa memperbesar usahanya.
Baginya, membatik bukan soal mengejar jumlah produksi.
Lebih penting adalah menjaga manusia yang menghidupkan tradisi tersebut.
“Membatik itu kita merawat seniman, bukan merawat orang yang mau kerja. Mereka adalah aset luar biasa karena tidak semua orang bisa membatik dan peduli terhadap pelestarian batik,” tegasnya.
Pandangan tersebut juga menjadi alasan mengapa ia tetap aktif mendukung berbagai pameran batik yang mempertemukan langsung pembatik dengan masyarakat.
Menurutnya, masyarakat kini semakin ingin mengenal pembatik asli sekaligus memahami cerita di balik setiap karya.
“Pengunjung itu bukan hanya ingin belanja, tetapi juga ingin mendapatkan edukasi tentang batik dan bertemu langsung dengan para perajinnya,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pengusaha, Wirasno adalah sosok yang menjadikan batik sebagai jalan pengabdian. Melalui Canting Wira dan APBJ, ia terus berupaya memastikan bahwa batik Jawa Timur tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga berkembang sebagai karya seni yang dihargai, dicintai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko
