in

Talk Show “5 Negara yang Mempengaruhi Batik Indonesia” Ungkap Jejak Akulturasi dalam Motif Nusantara

Talk show mengungkap pengaruh Arab, India, Belanda, China, dan Jepang dalam perjalanan batik Indonesia melalui sejarah dan akulturasi budaya.
Talk show mengungkap pengaruh Arab, India, Belanda, China, dan Jepang dalam perjalanan batik Indonesia melalui sejarah dan akulturasi budaya.

Jakarta — Perjalanan batik Indonesia tidak terlepas dari interaksi panjang dengan berbagai bangsa. Jejak perjumpaan budaya tersebut menjadi pembahasan utama dalam talk show “5 Negara yang Mempengaruhi Batik Indonesia” yang digelar di Galeri Hartono Sumarsono, Jakarta.

Talk show ini diinisiasi oleh  Lions Club Jakarta Green Garden District 307 A1 dengan Hartono Sumarsono sebagai pembicara tunggal, pemilik usaha batik Kencana Ungu sekaligus tuan rumah galeri. Dalam pemaparannya, Hartono mengajak peserta melihat batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi sebagai produk budaya yang merekam sejarah, tradisi, perdagangan, migrasi, serta pertukaran nilai antarmasyarakat.

“Warna dan motif” pada batik, menurut materi pembukaan acara, menyimpan cerita mengenai perjalanan budaya Indonesia. Perkembangan batik juga menunjukkan bahwa kebudayaan tidak selalu tumbuh secara terpisah, melainkan berkembang melalui perjumpaan dan interaksi antarbudaya.

Hartono menjelaskan bahwa terdapat lima negara yang memberikan pengaruh terhadap perkembangan batik Indonesia, yakni Arab, India, Belanda, China, dan Jepang. Pengaruh tersebut terlihat melalui motif, warna, teknik, hingga karakter desain yang kemudian mengalami proses adaptasi dan pengembangan oleh pembatik di berbagai daerah Indonesia.

Salah satu pembahasan menarik adalah pengaruh India. Hartono menyinggung kain patola, kain sutra panjang dengan karakter motif yang kompleks. Pengaruh patola kemudian menginspirasi lahirnya sejumlah batik dengan pola yang memiliki kemiripan, termasuk perkembangan motif yang kemudian dikenal luas di berbagai wilayah Nusantara.

Pengaruh Belanda juga menjadi bagian penting dalam perjalanan batik. Hartono menunjukkan sejumlah koleksi yang memperlihatkan karakter batik Belanda, termasuk penggunaan warna merah serta motif yang berkembang pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Ia juga menyinggung sejumlah pembatik Belanda yang menghasilkan karya dengan karakter visual tersendiri di Indonesia.

Sementara itu, pengaruh China terlihat kuat dalam perkembangan batik pesisir dan batik yang digunakan komunitas Tionghoa. Hartono menjelaskan berbagai motif yang memiliki karakter visual dan warna khas, termasuk motif yang berkembang melalui proses reproduksi dan modifikasi dari generasi ke generasi. Beberapa motif juga memiliki filosofi yang berkaitan dengan harapan, keberuntungan, perlindungan, kelahiran, serta kehidupan yang lebih baik.

Dalam pemaparannya, Hartono juga memperlihatkan sejumlah koleksi batik lama dan reproduksi motif sebagai upaya menghidupkan kembali keindahan batik masa lalu. Ia menilai reproduksi penting agar motif-motif lama tetap dikenal dan dapat digunakan masyarakat masa kini.

Hartono juga menyoroti persoalan regenerasi pembatik. Menurutnya, pengerjaan batik tulis dengan tingkat kerumitan tinggi membutuhkan waktu panjang, sementara biaya dan upah pembatik menjadi salah satu tantangan dalam mempertahankan produksi batik berkualitas.

Profil Hartono dalam acara tersebut turut menunjukkan perjalanan panjangnya sebagai pelaku dan kolektor batik. Ia memulai bisnis batik pada 1972 dan mengembangkan merek Kencana Ungu pada dekade 1980-an. Kecintaannya terhadap batik antik kemudian mendorongnya mengoleksi, meneliti, serta menulis sejumlah buku mengenai batik.

Melalui talk show tersebut, Galeri Hartono Sumarsono menjadi ruang untuk melihat batik dari perspektif sejarah dan akulturasi. Lima pengaruh budaya yang dibahas memperlihatkan bagaimana batik Indonesia terus berkembang melalui kreativitas lokal tanpa terlepas dari jejak perjumpaan dengan dunia luar.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

SMN menggelar pelatihan video pendek berbasis AI untuk meningkatkan kapasitas digital dan mendorong media lebih adaptif, kreatif, dan inovatif.

SMN Gelar Pelatihan Pembuatan Video Pendek AI, Dorong Media Adaptif di Era Digital