Jakarta – Batik Indonesia kembali menjadi sorotan di panggung fesyen internasional. Kali ini bukan dalam bentuk yang konvensional, melainkan dipadukan dengan identitas pakaian maritim Prancis melalui koleksi AU LARGE, hasil kolaborasi desainer Prancis Lisa Rayar dan desainer Indonesia Gabriel Marcella. Perpaduan yang sempat dianggap tidak lazim tersebut justru melahirkan karya fesyen kontemporer yang mengangkat nilai budaya kedua negara.
AU LARGE merupakan koleksi yang dikembangkan dalam program residensi PINTU Incubator di Indonesia. Koleksi ini lahir dari dialog kreatif antara Lisa Rayar, yang dikenal mengeksplorasi budaya tekstil Asia melalui pendekatan material dan siluet eksperimental, dengan Gabriel Marcella, Direktur Kreatif Soedisoei yang selama ini mengembangkan wastra Nusantara dalam busana pria modern.

Dalam bahasa Prancis, AU LARGE berarti “Lepas Pantai” atau Offshore. Nama tersebut mencerminkan tema utama koleksi yang mengeksplorasi hubungan budaya maritim Prancis dengan komunitas pesisir Pantai Utara Jawa. Inspirasi utamanya berasal dari riset Gabriel Marcella mengenai tradisi Sedekah Laut, sebuah ritual masyarakat Jawa sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada laut.
Meski dipisahkan oleh ribuan kilometer, kedua budaya dinilai memiliki kesamaan dalam tradisi pelayaran, kerajinan tangan, ritual komunal, hingga pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun. Kesamaan tersebut diterjemahkan menjadi narasi fesyen modern melalui 12 tampilan busana yang memadukan karakter pakaian kerja pelaut Prancis dengan kekayaan tekstil Indonesia.
Koleksi ini menampilkan perpaduan siluet terstruktur, teknik draping yang mengalir, serta bentuk oversized yang merepresentasikan fungsi, perlindungan, dan nilai seremonial. Elemen tali-temali, lapisan kain menyerupai layar kapal, hingga konstruksi yang terinspirasi jaring nelayan menjadi bagian penting dari identitas visual koleksi.
Dari sisi material, AU LARGE menggunakan batik tulis buatan tangan, denim, katun, kain teknis ringan, rib knit, kain bergaris khas maritim Prancis, hingga kain mesh bordir bermotif batik yang mereinterpretasikan tato simbolik para pelaut Prancis. Koleksi ini juga menghadirkan tekstil berwarna emas yang terinspirasi pantulan matahari di laut serta kain transparan bernuansa biru yang menggambarkan kedalaman samudra.

Salah satu inovasi utama dalam koleksi ini adalah penciptaan motif batik baru yang menggabungkan pola kotak-kotak terinspirasi tartan dan sarung Indonesia dengan garis-garis ikonik maritim Prancis melalui teknik batik screen printing. Motif tersebut menjadi simbol pertemuan dua identitas tekstil tanpa meninggalkan nilai autentik batik sebagai warisan budaya.
Tak hanya mengedepankan kreativitas, AU LARGE juga menerapkan prinsip fesyen berkelanjutan. Seluruh kain batik dikerjakan secara handmade oleh perajin Indonesia, sementara sisa potongan kain dimanfaatkan kembali menjadi elemen desain baru untuk mengurangi limbah produksi. Melalui kolaborasi ini, Lisa Rayar, Gabriel Marcella, dan para perajin batik Indonesia menunjukkan bahwa wastra Nusantara mampu menjadi medium dialog budaya global sekaligus tetap mempertahankan nilai tradisi di tengah perkembangan fesyen kontemporer.
Source: IO


