Pengembangan fashion batik dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna terhadap busana yang dapat menyesuaikan bentuk tubuh. Melalui fitur tali serut dan lilit, satu lembar kain batik dikembangkan menjadi rok dengan sejumlah alternatif model.
Penelitian tersebut dilakukan Fadilah Rahmadani, Sri Wening dan Emy Budiastuti dari Universitas Negeri Yogyakarta. Sasaran pengembangan adalah generasi Z, khususnya mahasiswi di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam penelitian, kebutuhan terhadap produk yang dapat dikustomisasi muncul dari hasil pra-survei. Sebanyak 15 dari 17 target pengguna menyatakan mengkreasikan kain batik menjadi rok merupakan hal yang rumit dan sulit menyesuaikan bentuk tubuh.
Selain itu, 14 responden menilai model rok batik yang tersedia ketinggalan zaman. Sebanyak 17 responden juga menyampaikan kekhawatiran terhadap rok batik lembaran yang dianggap terlalu longgar dan membutuhkan waktu lama untuk dikenakan.
Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan produk dengan empat kebutuhan utama, yaitu transformasi, kustomisasi, model trendy dan kepraktisan.
Konsep transformable fashion diterapkan agar pengguna tidak hanya mendapatkan satu bentuk rok. Busana transformable merupakan busana yang menawarkan dua atau lebih fungsi atau alternatif gaya estetika. Perubahan model dapat dilakukan dengan cara membungkus, mengikat, menggulung, memutar, melipat dan mengumpulkan.
Pada produk yang dikembangkan, fitur transformasi menggunakan tali serut dan lilit. Keduanya ditempatkan pada sisi lebar dan panjang kain. Bagian pinggang, panggul dan sisi bawah kain dapat menggunakan fitur serut maupun lilit. Sementara itu, bagian drape tengah muka menggunakan fitur serut yang dapat disesuaikan.
Kain yang digunakan berukuran dua meter panjang dan 95 sentimeter lebar. Tali pada bagian pinggang memiliki panjang 2,5 meter, demikian pula tali pada bagian panggul dan bagian bawah kain. Sementara itu, tali untuk drape tengah muka memiliki panjang satu meter.
Kemampuan kustomisasi kemudian diuji melalui 103 responden. Penilaian dilakukan berdasarkan kesesuaian produk untuk berbagai bentuk tubuh. Hasilnya menunjukkan 50 persen responden menyatakan sangat suka, 43 persen suka dan tujuh persen kurang suka terhadap aspek kustomisasi.
Indikator dengan jumlah responden sangat suka tertinggi adalah penggunaan produk pada wanita dengan tubuh tinggi kurus, yakni 60 responden. Produk juga dinilai dapat digunakan pada berbagai bentuk tubuh melalui pengaturan fitur serut dan lilit.
Dari sisi transformasi, produk dapat menghasilkan sembilan model rok dari satu lembar kain. Model tersebut juga dapat dikembangkan lebih lanjut sesuai kreativitas pengguna dan digunakan untuk kesempatan formal, semiformal maupun nonformal.
Hasil penelitian menunjukkan pengembangan fashion batik tidak hanya berkaitan dengan perubahan motif atau tampilan kain. Pengembangan juga dapat diarahkan pada desain yang memberikan ruang bagi pengguna untuk menyesuaikan bentuk dan fungsi busana sesuai kebutuhan.


