Konsep fashion batik mulai dikembangkan dengan pendekatan yang tidak hanya memperhatikan tampilan, tetapi juga penggunaan material dan keberlanjutan produk. Salah satunya melalui pengembangan rok batik transformable dengan konsep zero waste.
Penelitian yang dilakukan Fadilah Rahmadani, Sri Wening, dan Emy Budiastuti dari Universitas Negeri Yogyakarta tersebut mengembangkan rok batik yang dapat diubah menjadi beberapa model sekaligus dirancang untuk memaksimalkan penggunaan material.
Pengembangan ini berangkat dari fenomena fast fashion yang memberikan dampak terhadap lingkungan. Dalam materi penelitian disebutkan bahwa produksi fashion dalam jumlah besar dan mengikuti pergantian tren dapat meningkatkan limbah produk fashion yang sulit terurai.
Materi penelitian juga mengutip UNASF (2021) yang menyebut industri fashion bertanggung jawab atas sekitar 2–8 persen emisi gas rumah kaca dunia, mengonsumsi sekitar 215 triliun liter air dan tekstil menyumbang sembilan persen kerugian mikroplastik setiap tahun ke lautan.
Kondisi tersebut mendorong berkembangnya konsep slow fashion dan sustainable fashion. Dalam konteks batik, penelitian melihat perlunya pengembangan produk agar kain tradisional tidak hanya dipertahankan sebagai produk budaya, tetapi juga dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari generasi muda.
Konsep zero waste kemudian diterapkan dalam rancangan rok batik. Zero waste merupakan konsep desain fashion yang memaksimalkan material dan meminimalkan limbah. Dalam materi penelitian disebutkan bahwa jumlah maksimal limbah dengan konsep tersebut tidak lebih dari 15 persen.
Rok dirancang menggunakan kain batik katun. Kain katun berasal dari serat alami kapas dengan komposisi utama selulosa. Penggunaan bahan tersebut dipilih karena merupakan serat alami yang mudah terurai di alam.
Selain konsep zero waste, penelitian menggabungkan prinsip transformable fashion. Busana transformable memungkinkan pengguna mengubah model pakaian melalui berbagai metode, antara lain membungkus, mengikat, menggulung, memutar, melipat dan mengumpulkan.
Dalam rancangan rok batik tersebut, transformasi diwujudkan melalui fitur tali serut dan lilit. Fitur tersebut dipasang pada bagian pinggang, panggul dan sisi bawah kain. Bagian drape tengah muka dilengkapi tali serut yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.
Penggabungan kedua konsep tersebut memberikan fungsi tambahan pada satu lembar kain. Hasil penelitian menunjukkan satu kain batik dapat dikembangkan menjadi sembilan model rok. Setiap model dapat menyesuaikan bentuk tubuh dan kebutuhan kesempatan pemakaian.
Transformable fashion juga dinilai berpotensi memperpanjang usia penggunaan busana. Dalam penelitian disebutkan bahwa konsep tersebut dapat meningkatkan utilitas busana, memperpanjang usia pakai, menunda keusangan psikologis produk serta menunda pembuangan produk ke tempat pembuangan akhir.
Hasil tersebut menempatkan fashion batik dalam konteks pengembangan produk yang menggabungkan aspek budaya, fungsi, kustomisasi dan penggunaan material secara lebih efisien.

