in

Fashion Batik Transformable Dinyatakan Layak Setelah Melalui Uji Ahli dan Pengguna

Meta deskripsi: Pengembangan fashion batik transformable melalui uji ahli dan pengguna menghasilkan produk layak dengan sembilan alternatif model rok.
Meta deskripsi: Pengembangan fashion batik transformable melalui uji ahli dan pengguna menghasilkan produk layak dengan sembilan alternatif model rok.

Pengembangan fashion batik berbasis transformable fashion melalui serangkaian proses validasi sebelum diuji kepada pengguna. Produk rok batik yang dikembangkan dinyatakan layak setelah mendapatkan penilaian dari ahli pola, designer dan akademisi serta melalui uji coba pengguna.

Penelitian berjudul Pengembangan Rok Batik sebagai Transformable Fashion dilakukan Fadilah Rahmadani, Sri Wening dan Emy Budiastuti dari Universitas Negeri Yogyakarta. Penelitian menggunakan model pengembangan 4D, yaitu define, design, develop dan disseminate.

Tahap define digunakan untuk mengidentifikasi persoalan yang muncul dalam penggunaan rok batik. Analisis meliputi masalah awal, target pengguna, kebutuhan, konsep dan tujuan.

Selanjutnya pada tahap design, peneliti merancang fitur transformasi, memilih bahan dan membuat rancangan awal. Produk dikembangkan dengan mengaplikasikan fitur tali serut dan lilit.

Tahap develop dilakukan melalui penilaian ahli atau expert appraisal dan uji coba produk atau developmental testing. Penilaian ahli melibatkan satu ahli pola, satu designer dan satu akademisi.

Sementara itu, uji coba dilakukan dalam dua skala. Uji skala kecil melibatkan 10 target pengguna, sedangkan uji skala besar melibatkan 20 target pengguna. Target pengguna berada pada rentang usia 20–28 tahun dan termasuk generasi Z.

Hasil validasi menunjukkan masing-masing ahli memberikan nilai 93,3 persen dan masuk kategori layak. Uji coba skala kecil memperoleh hasil 100 persen, sedangkan uji skala besar memperoleh 98,3 persen. Kriteria yang digunakan menetapkan nilai 75–100 persen sebagai kategori layak.

Setelah melalui proses pengembangan, satu lembar kain batik dapat ditransformasikan menjadi sembilan look atau model rok. Setiap model dapat disesuaikan dengan bentuk tubuh pengguna maupun kesempatan pemakaian.

Tahap berikutnya adalah disseminate, yaitu penyebarluasan melalui uji tingkat kesukaan. Sebanyak 103 responden generasi Z, khususnya mahasiswi di Daerah Istimewa Yogyakarta, dilibatkan dalam penilaian produk.

Empat aspek dinilai, yakni look, kemampuan transformasi, kustomisasi dan kepraktisan. Pada aspek look, sebanyak 48 persen responden menyatakan suka dan 36 persen sangat suka. Sebanyak 14 persen menyatakan kurang suka dan dua persen tidak suka.

Pada aspek transformable, 52 persen responden menyatakan suka, 41 persen sangat suka dan tujuh persen kurang suka. Produk dinilai mampu dieksplorasi menjadi sembilan model atau lebih sesuai kreativitas pengguna.

Sementara pada aspek kustomisasi, 50 persen menyatakan sangat suka, 43 persen suka dan tujuh persen kurang suka. Pada aspek kepraktisan, 55 persen menyatakan suka, 35 persen sangat suka, sembilan persen kurang suka dan satu persen tidak suka.

Meski demikian, penelitian mencatat masih terdapat aspek yang perlu dikembangkan. Tali hasil serut dinilai cukup panjang sehingga perlu dikondisikan agar terlihat rapi dan terikat kuat. Peneliti juga menyarankan pengembangan lebih lanjut pada aspek look serta evaluasi setelah produk digunakan oleh pengguna sesungguhnya.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan pengembangan fashion batik dapat dilakukan melalui proses riset dan pengujian yang terukur, mulai dari identifikasi kebutuhan pengguna, perancangan, validasi, uji coba hingga penyebarluasan produk.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Sablon batik puff menggunakan heat-gun untuk mengembangkan tinta busa sehingga motif kain menghasilkan tekstur dan dimensi yang lebih menonjol.

Sablon Batik Puff Gunakan Heat-Gun untuk Membentuk Tekstur pada Kain

Batik Jawa Barat memiliki peluang ekonomi kreatif melalui penguatan desain, warna, branding, dan inovasi produk fashion berbasis budaya lokal. Busana karya Stephanus Hamy

Batik Jawa Barat Perlu Perkuat Desain dan Branding untuk Ekonomi Kreatif