Perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa ketika keberhasilan terasa dekat, tetapi ada pula saat berbagai persoalan datang bersamaan dan menguji ketahanan seseorang. Bagi Lisawahti, S.E., CTMR, pengalaman menghadapi pasang surut kehidupan menjadi bagian penting yang membentuk cara pandangnya terhadap bisnis, kepemimpinan, dan makna berbagi kepada sesama.
Pengusaha dan pemimpin organisasi perempuan ini membangun karier melalui semangat kemandirian, ketekunan, integritas, serta keberanian menghadapi tantangan. Berbekal pendidikan Ekonomi Manajemen Pemasaran dari Universitas Trisakti dan pendidikan profesional kecantikan bersertifikasi internasional CIBTAC, Lisawahti mengembangkan kiprahnya di berbagai bidang usaha.
Sejak 2016, ia dipercaya menjadi Direktur Utama PT Bony Berkah Bersama, perusahaan yang bergerak dalam pengumpulan, pengelolaan, serta transportasi limbah B3 dan non-B3. Jiwa kewirausahaannya juga diwujudkan melalui pendirian RATUMANTEN pada 2017.
Namun, perjalanan Lisawahti bukan hanya tentang membangun usaha. Ia juga berusaha menjadikan pengalaman hidup sebagai sumber pembelajaran bagi orang lain, terutama perempuan yang sedang berjuang membangun kemandirian ekonomi dan menghadapi persoalan keluarga.
Baginya, keberhasilan memiliki makna yang lebih luas daripada pencapaian materi. Hal itu tercermin dalam pandangannya mengenai manfaat dan kepedulian kepada sesama.

Melewati Masa Sulit: Ketika Usaha dan Kehidupan Diuji
Salah satu fase paling berat dalam kehidupan Lisawahti terjadi ketika pandemi COVID-19 melanda. Saat itu, ia bersama suaminya menjalankan usaha layanan transportasi daring bernama Gaspol. Usaha yang sempat berkembang tersebut menghadapi tekanan akibat pembatasan aktivitas masyarakat, sementara biaya operasional tetap berjalan.
Di tengah situasi tersebut, tim mereka pernah menangani pengantaran bantuan sosial ke sekitar 15.000 alamat dalam waktu empat hari. Namun, persoalan pembayaran dalam kerja sama pengadaan beras turut memperberat kondisi keuangan. Pada periode yang sama, Lisawahti kehilangan ibunya dan menghadapi persoalan keluarga terkait usaha yang pernah dijalankan.
Ia dan keluarganya akhirnya harus memulai kembali kehidupan dari kondisi yang sangat terbatas. Dalam wawancara, Lisawahti mengisahkan masa ketika uang yang tersedia hanya sekitar Rp700.000, sementara kebutuhan tempat tinggal dan anak-anak tetap harus dipenuhi.
Pengalaman itu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Ia belajar bahwa perjalanan bisnis tidak selalu berjalan mulus dan bahwa ketahanan seseorang sering kali baru benar-benar teruji ketika berbagai persoalan datang bersamaan.
Dalam penuturannya, ia menyampaikan:
“Saya tidak ingin orang hanya melihat hasil akhirnya. Di baliknya ada proses panjang, ketidakpastian, negosiasi, kegagalan, dan keberanian untuk mencoba lagi.”
Pernyataan tersebut menggambarkan keinginannya agar orang tidak hanya menilai seseorang dari keberhasilan yang terlihat. Di balik pencapaian, ada proses yang sering kali tidak diketahui orang lain: keputusan sulit, kerugian, rasa takut, serta upaya untuk kembali berdiri.

Bangkit Kembali dengan Keberanian dan Kepercayaan
Setelah melewati masa krisis, Lisawahti berusaha mencari peluang baru. Ia mulai menekuni bisnis perantara jual beli besi, termasuk membantu transaksi pembongkaran bangunan dan pabrik yang sudah tidak digunakan.
Dengan keterbatasan modal, ia mengandalkan jaringan, kemampuan bernegosiasi, dan kepercayaan dari para mitra. Menurut penuturannya, salah satu transaksi yang pernah dijalankan berkaitan dengan penjualan bangunan pabrik bernilai miliaran rupiah.
Proses tersebut tidak lepas dari tekanan dan ketidakpastian. Ia harus berusaha memenuhi komitmen bisnis dalam waktu terbatas, sekaligus meyakinkan pihak-pihak yang terlibat agar bersedia bekerja sama.
Pengalaman itu membentuk pemahamannya bahwa membangun kembali usaha membutuhkan keberanian, tetapi juga tanggung jawab dan perhitungan yang matang. Modal bukan satu-satunya penentu; integritas dan kemampuan menjaga kepercayaan juga berperan penting.
Lisawahti tidak menutupi bahwa ada masa ketika ia merasa takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Namun, ia berusaha menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan serta lebih menghargai setiap kesempatan.
Ia menuturkan:
“Saya belajar menghargai uang, waktu, bantuan orang lain, dan hal-hal yang sebelumnya mungkin dianggap biasa.”
Pengalaman melewati kesulitan membuatnya melihat keberhasilan dari sudut pandang berbeda. Bukan sekadar tentang seberapa besar usaha yang dibangun, melainkan juga tentang pelajaran yang diperoleh dan bagaimana pengalaman tersebut dapat membantu orang lain.

Rezeki Jalur Langit: Memadukan Doa dan Ikhtiar
Pengalaman menghadapi berbagai ujian turut membentuk perjalanan spiritual Lisawahti. Bersama suaminya, ia membangun Rezeki Jalur Langit sebagai ruang berbagi motivasi yang berangkat dari pengalaman hidup, refleksi diri, dan penguatan hubungan dengan Allah SWT.
Melalui kegiatan tersebut, ia ingin membantu orang-orang yang sedang menghadapi persoalan agar memperoleh kesempatan untuk melakukan muhasabah, menemukan kembali semangat, dan memperbaiki diri. Pada 2025, Lisawahti juga memperluas pengabdiannya melalui kompetensi profesional sebagai Certified Trainer Magnet Rezeki (CTMR).
Dalam pendekatannya, doa tidak dipisahkan dari usaha nyata. Ia meyakini bahwa seseorang perlu berani mengevaluasi diri, memperbaiki perilaku, dan mempersiapkan diri untuk bertanggung jawab atas cita-citanya.
Lisawahti menjelaskan:
“Saya meyakini bahwa doa perlu disertai ikhtiar dan tindakan.”
Baginya, keyakinan spiritual bukan alasan untuk berhenti berusaha. Sebaliknya, keyakinan menjadi salah satu sumber kekuatan untuk menghadapi persoalan, sambil tetap menjalankan tanggung jawab dan mencari jalan keluar.
Ia juga menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan kebiasaan baik. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya memulai sesuatu, tetapi mempertahankannya secara berkelanjutan.

Sedekah dan Kepedulian yang Tumbuh dari Hal Sederhana
Nilai berbagi menjadi bagian penting dalam kehidupan Lisawahti dan keluarganya. Dalam pengalamannya, sedekah tidak selalu harus berbentuk uang. Kepedulian dapat diwujudkan melalui perhatian, bantuan, dan tindakan sederhana kepada sesama maupun makhluk hidup.
Salah satu kegiatan yang diceritakannya adalah pendampingan anak-anak yatim. Kegiatan itu pada awalnya melibatkan sembilan anak, kemudian berkembang menjadi sekitar 41 anak menurut penuturannya. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar, mengaji, makan bersama, dan menerima santunan.
Bagi Lisawahti, kegiatan tersebut menjadi pengingat bahwa rezeki dapat membawa manfaat yang lebih luas ketika dibagikan. Ia juga berusaha menumbuhkan kepedulian melalui tindakan sehari-hari, seperti memberi makan kucing dan burung.
Ia menjelaskan pandangannya:
“Bagi kami, sedekah bukan semata-mata tentang uang. Sedekah juga bisa diwujudkan melalui perhatian, bantuan, dan kepedulian kepada makhluk hidup.”
Pandangan itu memperlihatkan bahwa kepedulian tidak harus menunggu seseorang memiliki kekayaan besar. Tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten pun dapat menjadi bentuk perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Bagi Lisawahti, rasa syukur juga perlu dijaga dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya ketika menghadapi kesulitan. Ia berusaha membangun kebiasaan untuk bersyukur, berdoa, dan menjaga sikap rendah hati ketika keadaan mulai membaik.

Memimpin Organisasi dan Membuka Jalan bagi Perempuan
Pada 2026, Lisawahti mengemban amanah sebagai Ketua Umum Muslimah Rakyat Indonesia (MuRI) dan Bendahara Umum Gerakan Srikandi Indonesia (GSI). Kedua peran tersebut memperluas ruang pengabdiannya dalam mendorong perempuan agar lebih mandiri dan berdaya.
Salah satu perhatian yang disorotnya adalah masih adanya perempuan pelaku usaha mikro yang belum mengetahui akses terhadap informasi, layanan, dan legalitas usaha. Melalui Gerakan Srikandi Indonesia, ia ingin membantu memperluas pemahaman mengenai pengurusan Nomor Induk Berusaha (NIB) dan legalitas lainnya.
Harapannya, perempuan dapat mengembangkan usaha secara lebih terarah. Usaha yang semula menjadi pekerjaan sampingan diharapkan mampu tumbuh menjadi sumber penghasilan utama yang mendukung perekonomian keluarga.
Ia juga menaruh perhatian terhadap persoalan sosial yang memengaruhi perempuan dan keluarga, termasuk kekerasan dalam rumah tangga. Edukasi mengenai KDRT menjadi salah satu rencana kegiatan yang ingin didorong untuk meningkatkan kesadaran tentang dampaknya bagi perempuan, anak, dan keluarga.
Bagi Lisawahti, pemberdayaan bukan hanya tentang memberi motivasi, tetapi juga membuka akses agar perempuan dapat mengambil keputusan, mengembangkan potensi, dan membangun masa depan yang lebih mandiri.
Kepemimpinan yang Berangkat dari Hati
Pengalaman dalam bisnis, keluarga, dan organisasi membentuk pandangan Lisawahti tentang kepemimpinan. Ia melihat jabatan bukan semata-mata kedudukan, melainkan amanah untuk melayani dan menggerakkan orang lain menuju tujuan yang bermanfaat.
Ia berusaha mengingatkan dirinya agar tidak merasa paling hebat ketika keadaan membaik. Menurutnya, keberhasilan perlu diiringi kerendahan hati, rasa syukur, dan kesediaan untuk terus memperbaiki diri.
Filosofi tersebut sejalan dengan prinsip kepemimpinan yang ia sampaikan dalam materi profil:
“Perempuan hebat bukan hanya perempuan yang mampu berdiri di atas keberhasilannya sendiri, tetapi perempuan yang mampu mengangkat, menguatkan, dan membuka jalan keberhasilan bagi perempuan lainnya.”
Pesan ini menegaskan bahwa kemandirian perempuan tidak harus berhenti pada pencapaian pribadi. Keberhasilan juga dapat menjadi jalan untuk membantu perempuan lain memperoleh kesempatan, memperkuat ekonomi keluarga, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Lisawahti meyakini bahwa nilai keluarga, akhlak, dan spiritualitas dapat berjalan seiring dengan semangat berwirausaha dan kepemimpinan. Ia ingin perempuan memiliki kesempatan berkembang tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi pegangan dalam kehidupannya.
Berkarya dengan Integritas, Memimpin dengan Hati
Perjalanan Lisawahti memperlihatkan bagaimana pengalaman sulit dapat menjadi sumber pembelajaran. Krisis usaha mengajarkannya tentang ketahanan dan kepercayaan, sementara kegiatan sosial serta organisasi memperluas pemahamannya mengenai manfaat dan tanggung jawab.
Ia tidak memandang kehidupan sebagai perjalanan yang selalu mudah. Baginya, yang terpenting adalah tetap berusaha, bersedia belajar, menjaga rasa syukur, dan tidak berhenti memperbaiki diri.
Melalui dunia usaha, Rezeki Jalur Langit, pendampingan anak yatim, serta perannya di Muslimah Rakyat Indonesia dan Gerakan Srikandi Indonesia, Lisawahti berupaya menjadikan pengalaman pribadi sebagai dorongan untuk berbagi dan menguatkan sesama.
Pada akhirnya, pencapaian bukan hanya tentang seberapa tinggi kedudukan yang diraih atau seberapa besar kekayaan yang dikumpulkan. Makna keberhasilan juga terletak pada manfaat yang dapat dirasakan orang lain.


