Batik Aceh Gayo menyimpan kekayaan budaya, tetapi sebuah penelitian mengungkap persoalan mendasar: motif batik yang berkembang saat itu dinilai belum cukup mencerminkan identitas seni masyarakat setempat.
Batik kerap dipandang sebagai penanda identitas budaya suatu daerah. Motif, warna, dan filosofi di balik selembar kain dapat menjadi cara untuk mengenalkan karakter masyarakat kepada dunia. Namun, bagaimana jika batik yang diproduksi di sebuah daerah justru belum sepenuhnya menampilkan kekhasan budaya lokalnya?
Pertanyaan tersebut muncul dalam penelitian berjudul Pengembangan Motif Batik Khas Aceh Gayo karya Edi Eskak dan Irfa’ina Rohana Salma, yang diterbitkan dalam Jurnal Riset Industri, Volume 10 Nomor 1, April 2016, halaman 12–21.
Penelitian itu menyoroti perkembangan industri batik di Aceh Gayo yang dinilai belum cukup kuat menampilkan identitas seni dan budaya daerah. Padahal, masyarakat Gayo memiliki kekayaan tradisi, mulai dari Tari Saman, seni bertutur Didong, hingga ukiran Kerawang yang menghiasi rumah adat.
Temuan tersebut bukan berarti batik Aceh Gayo tidak memiliki identitas. Sebaliknya, penelitian itu menunjukkan adanya peluang untuk memperkuat hubungan antara desain batik dan sumber inspirasi budaya setempat.
Ukiran Rumah Adat Menjadi Jawaban
Salah satu sumber inspirasi utama yang diangkat peneliti adalah motif Kerawang, ragam hias tradisional yang terdapat pada rumah adat Aceh Gayo. Bentuk sulur, pola geometris, dan komposisi ornamen Kerawang kemudian dikembangkan menjadi desain batik dengan karakter yang lebih kuat.
Dari proses eksplorasi, perancangan, dan perwujudan karya, penelitian tersebut menghasilkan enam motif baru, yaitu Ceplok Gayo, Kerawang Tegak, Kerawang Datar, Parang Gayo, Kerawang Lembut, dan Geometris Gayo.
Setiap motif memiliki pendekatan visual dan filosofi tersendiri. Motif Ceplok Gayo, misalnya, mengambil inspirasi dari bagian ujung ukiran Kerawang pada rumah adat. Bentuk-bentuk kecil yang diulang secara teratur menghasilkan komposisi yang sederhana, tetapi tetap menonjolkan karakter ornamen lokal.
Motif Kerawang Tegak menampilkan sulur-sulur dalam susunan vertikal. Dalam konsep penciptaannya, susunan tersebut dimaknai sebagai pengingat agar manusia senantiasa mengingat Tuhan dalam menjalani kehidupan.
Sementara itu, Motif Kerawang Datar menggambarkan sulur-sulur yang tersusun horizontal. Konsepnya dikaitkan dengan hubungan antarmanusia dan kehidupan bermasyarakat.
Motif Parang Gayo memadukan inspirasi Motif Parang dari batik Jawa dengan unsur Kerawang khas Gayo. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa pengembangan batik daerah dapat mengambil referensi dari tradisi lain tanpa meninggalkan sumber identitas lokalnya.
Warna Cerah dan Filosofi Kehidupan
Penelitian tersebut juga menyoroti penggunaan warna-warna cerah dan kuat yang disukai masyarakat Aceh Gayo, seperti merah muda, merah, kuning, hijau, dan hitam.
Pada Motif Kerawang Tegak, misalnya, warna putih dimaknai sebagai lambang kesucian, kuning sebagai kemuliaan, dan hitam sebagai kekuatan serta kesungguhan.
Secara lebih luas, desain batik yang dikembangkan tidak hanya mengejar keindahan visual. Motif-motif tersebut juga dimaksudkan untuk merepresentasikan nilai kehidupan masyarakat Gayo, termasuk toleransi, disiplin, gotong royong, semangat bekerja, serta ketaatan terhadap agama dan adat.
Dengan pendekatan itu, batik diharapkan menjadi lebih dari sekadar produk sandang. Kain juga dapat menjadi medium untuk menyampaikan cerita tentang masyarakat dan kebudayaan yang melahirkannya.
Ceplok Gayo dan Parang Gayo Paling Disukai
Penelitian ini tidak berhenti pada penciptaan desain. Peneliti juga melakukan pengujian “Selera Estetika” yang melibatkan 50 responden, terdiri atas 10 akademisi atau ahli seni, 20 pecinta batik, dan 20 masyarakat umum warga Aceh Gayo.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa Motif Ceplok Gayo dan Motif Parang Gayo merupakan motif yang paling banyak disukai dan dinilai memiliki keindahan serta ciri khas budaya Aceh Gayo yang kuat.
Hasil tersebut memberikan gambaran bahwa pengembangan motif berbasis budaya lokal dapat memperoleh respons positif dari calon pengguna. Meski demikian, pengujian ini mengukur preferensi estetika responden, bukan keseluruhan potensi penjualan atau keberhasilan komersial batik di pasar.
Identitas Budaya Harus Berjalan Bersama Industri
Persoalan identitas motif juga berkaitan dengan masa depan industri batik Aceh Gayo. Penelitian tersebut melihat peluang pemasaran batik sebagai pakaian, produk interior, suvenir wisata, hingga komoditas yang berpotensi dikembangkan untuk pasar ekspor.
Penguatan motif khas daerah dinilai dapat menambah nilai seni dan kebanggaan budaya, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi industri kecil dan menengah. Usaha batik juga berpotensi menggerakkan sektor pendukung, seperti perdagangan kain, penyediaan bahan baku, penjahitan, transportasi, dan usaha kuliner.
Peneliti menyarankan agar desain yang dihasilkan disosialisasikan melalui kerja sama dengan instansi terkait agar dapat diterapkan oleh industri kecil dan menengah di Aceh Gayo. Pengurusan hak cipta atau hak kekayaan intelektual juga disarankan untuk melindungi karya yang telah dikembangkan.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang identitas batik Aceh Gayo bukan semata-mata soal benar atau salah dalam menentukan motif. Persoalan utamanya adalah bagaimana kekayaan budaya lokal dapat diterjemahkan menjadi desain yang mudah dikenali, memiliki makna, diterima konsumen, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Penelitian tahun 2016 tersebut menjadi salah satu catatan penting mengenai upaya pengembangan batik Aceh Gayo. Temuannya sekaligus mengingatkan bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan memproduksi kain. Identitas daerah perlu hadir secara nyata dalam desain, filosofi, dan keberlanjutan industrinya.


