Sablon batik dikembangkan melalui kombinasi teknik membatik dan teknik cetak untuk menghasilkan alternatif motif pada produk fashion. Eksplorasi tersebut memanfaatkan balok-balok kayu sebagai alternatif cap dan menggabungkannya dengan teknik sablon puff.
Pendekatan tersebut dilakukan dalam penelitian Jessy Jasmine Fitria berjudul Eksplorasi Teknik Batik Kontemporer dengan Sablon Puff pada Produk Fashion. Penelitian ini dilaksanakan dalam bentuk studi literatur, observasi, eksperimen dan eksplorasi terhadap berbagai material kain tebal.
Dalam konsep karya, penulis terinspirasi menggunakan sejumlah motif balok kayu yang pernah digunakan dalam workshop batik bersama seniman batik asal Jerman, Joachim Blank. Motif tersebut kemudian dikembangkan kembali bersama teknik lain, salah satunya sablon.
Teknik sablon sendiri merupakan teknik cetak atau print dengan menggunakan screen sebagai media perintang untuk pewarnaan di atas kain. Penggunaan berbagai jenis tinta menghasilkan efek visual yang berbeda pada kain.
Penggunaan balok kayu menjadi salah satu bagian penting dalam eksplorasi teknik. Pada tahap awal proses produksi, kain terlebih dahulu dicuci menggunakan deterjen untuk menghilangkan noda dan debu sehingga zat pewarna dapat terikat dengan lebih baik pada pori-pori kain.
Setelah dicuci, kain dikeringkan. Kain kemudian dipersiapkan untuk proses pembatikan menggunakan lilin atau malam. Balok-balok kayu yang akan digunakan sebagai cap diletakkan di atas kain goni pada wajan. Lilin yang telah mencair akan menempel pada permukaan balok kayu yang ikut mengalami pemanasan.
Material kain yang digunakan dalam penelitian cukup beragam. Penulis mengeksplorasi kain twill putih, twill cino krem, jeans wash stretch putih, kanvas wafer krem, drill Jepang putih, kanvas ring broken white dan kain katun. Pemilihan tersebut berkaitan dengan tujuan menghasilkan produk fashion, khususnya outerwear.
Sementara peralatan yang digunakan meliputi cap dari balok kayu, kuas, lilin atau malam batik, pewarna procion dan naphtol, soda ash, rakel, screen serta heat-gun.
Setelah pembatikan selesai, kain memasuki proses pewarnaan. Penelitian menggunakan pewarna naphtol dan procion. Pada pewarnaan naphtol, kain dicelup secara berulang ke larutan pewarna dan kemudian ke larutan garam sampai warna yang diinginkan tercapai.
Untuk procion, pewarna dapat diaplikasikan dengan pencelupan maupun teknik colet menggunakan kuas atau spons. Setelah pewarnaan, kain dibiarkan hingga kering dan kemudian difiksasi menggunakan larutan soda ash.
Tahap berikutnya adalah sablon puff. Tinta busa dicampur dengan bibit pewarna dan diaplikasikan menggunakan screen maupun teknik lukis bebas. Setelah itu tinta dipanaskan menggunakan heat-gun sehingga mengembang dan menghasilkan efek timbul.
Eksplorasi tersebut menghasilkan produk fashion berupa blazer, long coat, rompi atau vest serta berbagai model tas.


