Sablon batik dalam eksplorasi teknik kontemporer tidak hanya diterapkan pada satu jenis kain. Penelitian Jessy Jasmine Fitria menggunakan sejumlah kain dengan karakter tebal dan kasar untuk menguji penerapan teknik membatik dan sablon puff pada produk fashion.
Penelitian berjudul Eksplorasi Teknik Batik Kontemporer dengan Sablon Puff pada Produk Fashion tersebut menggunakan pendekatan literatur, observasi, eksperimen dan eksplorasi. Material kain yang digunakan antara lain jeans, twill, kanvas dan drill.
Pemilihan kain menjadi bagian penting karena penelitian diarahkan untuk menghasilkan produk fashion, terutama outerwear. Dalam rumusan masalahnya, penulis mempertanyakan jenis kain yang dapat diolah secara maksimal menggunakan teknik batik kontemporer sekaligus disesuaikan dengan teknik sablon puff.
Kain yang digunakan meliputi twill putih, twill cino krem, jeans wash stretch putih, kanvas wafer krem, drill Jepang putih, kanvas ring broken white dan kain katun.
Eksplorasi tersebut dilanjutkan dengan penggunaan material alam berupa potongan batang pohon berukuran besar. Material itu dimanfaatkan sebagai bagian dari eksplorasi teknik membatik. Selain cap, penulis juga menggunakan teknik lukis bebas dengan kuas cat tembok dan sejumlah alat alternatif selama eksperimen.
Untuk proses pewarnaan, penelitian menggunakan procion, naphtol dan indigo yang biasa digunakan dalam pembatikan kain berbahan katun di Batik Komar.
Sebelum dibatik, seluruh kain dicuci dengan deterjen untuk menghilangkan noda dan debu yang menempel. Tahapan tersebut dilakukan agar zat pewarna dapat terikat dengan lebih baik pada pori-pori kain.
Setelah dicuci, kain dikeringkan. Dalam proses pengeringan, kain tidak disarankan diperas atau diremas karena dapat menyebabkan kain kusut dan memengaruhi hasil pembatikan serta pewarnaan.
Khusus kain jeans, proses pengeringan membutuhkan waktu lebih lama karena struktur tenunannya lebih tebal dibandingkan kain katun.
Proses pembatikan dilakukan menggunakan lilin atau malam. Balok kayu digunakan sebagai alternatif cap. Setelah malam mencair, balok kayu ditempelkan pada permukaan kain untuk menghasilkan motif.
Kain yang telah dibatik kemudian menjalani proses pewarnaan menggunakan naphtol atau procion. Untuk naphtol, kain dicelup secara berulang ke larutan pewarna dan garam. Sementara procion dapat diaplikasikan melalui pencelupan maupun teknik colet.
Setelah pewarnaan dan fiksasi selesai, proses dilanjutkan dengan sablon puff. Tinta busa dicampur dengan bibit pewarna dan diaplikasikan menggunakan screen atau teknik lukis bebas.
Pemanasan menggunakan heat-gun kemudian dilakukan untuk membuat tinta mengembang. Hasilnya berupa motif dengan tekstur dan dimensi yang lebih menonjol.
Penggunaan berbagai jenis kain tersebut menjadi bagian dari upaya mencari material yang sesuai dengan teknik batik kontemporer dan sablon puff.
Hasil eksplorasi kemudian diterapkan dalam rancangan produk fashion, antara lain blazer, long coat, rompi atau vest, serta tas dengan berbagai variasi model.

