in

Batik Sawit Jadi Contoh Hilirisasi Limbah Perkebunan Bernilai Tambah

Batik sawit menjadi contoh hilirisasi komoditas perkebunan. BPDP dorong inovasi dan UMKM mengolah turunan sawit menjadi produk bernilai.
Batik sawit menjadi contoh hilirisasi komoditas perkebunan. BPDP dorong inovasi dan UMKM mengolah turunan sawit menjadi produk bernilai.

Jakarta — Batik berbahan turunan kelapa sawit menjadi salah satu contoh inovasi hilirisasi komoditas perkebunan yang diperkenalkan dalam kegiatan promosi industri kreatif. Produk tersebut memanfaatkan turunan kelapa sawit, termasuk bahan malam untuk batik yang dikembangkan melalui teknologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Hal tersebut disampaikan Refina Ayu, perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), saat menjelaskan program hilirisasi dan dukungan lembaganya terhadap usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berbasis komoditas perkebunan.

Refina menjelaskan, BPDP merupakan badan layanan umum di bawah Kementerian Keuangan, khususnya Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Lembaga tersebut bertugas menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana dari komoditas perkebunan di Indonesia.

Saat ini, BPDP berfokus pada tiga komoditas, yakni kelapa sawit, kakao, dan kelapa. Sebelumnya, lembaga tersebut dikenal sebagai Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), sebelum cakupan komoditasnya diperluas pada 2025.

Menurut Refina, salah satu fokus BPDP adalah mendorong hilirisasi agar komoditas perkebunan tidak berhenti sebagai bahan mentah. Turunan maupun limbah perkebunan dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai tambah dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Batik sawit menjadi contoh hilirisasi komoditas perkebunan. BPDP dorong inovasi dan UMKM mengolah turunan sawit menjadi produk bernilai.
Batik sawit menjadi contoh hilirisasi komoditas perkebunan. BPDP dorong inovasi dan UMKM mengolah turunan sawit menjadi produk bernilai.

“Jadi sawit itu bahkan mungkin limbahnya itu bisa diolah ke produk-produk yang bernilai tambah,” kata Refina dalam perbincangan tersebut.

Ia mencontohkan pemanfaatan lidi sawit yang selama ini berpotensi tidak digunakan. Melalui pendampingan dan fasilitasi, bahan dari perkebunan tersebut dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan.

Konsep serupa terlihat pada produk batik sawit. Dalam kegiatan tersebut, Refina menjelaskan bahwa malam yang digunakan dalam proses pembuatan batik berasal dari sawit, dengan teknologi yang dikembangkan BRIN. Inovasi tersebut menunjukkan bagaimana komoditas perkebunan dapat masuk ke sektor kreatif dan menghasilkan produk bernilai tambah.

Menurut Refina, hilirisasi tidak hanya dilakukan melalui pengembangan produk, tetapi juga melalui dukungan terhadap UMKM. BPDP memberikan pendampingan serta memfasilitasi pelaku usaha untuk mengikuti berbagai kegiatan pameran dan promosi.

Untuk memperoleh dukungan, pelaku usaha atau lembaga pengusul harus memenuhi persyaratan dan skema yang ditetapkan. Salah satunya adalah memiliki legalitas sebagai badan hukum. Pengajuan dilakukan melalui proposal dan rencana anggaran biaya (RAB), kemudian BPDP melakukan penilaian terhadap kesesuaian kegiatan dan anggaran sebelum mendapatkan persetujuan.

Dukungan pendanaan BPDP, lanjut Refina, bersifat hibah, bukan pinjaman. Program tersebut terbuka secara umum sepanjang memenuhi ketentuan dan berkaitan dengan tiga komoditas yang menjadi fokus BPDP, yakni sawit, kakao, dan kelapa.

BPDP juga memiliki mekanisme klasterisasi UMKM. Pelaku usaha dapat memasukkan data melalui sistem yang disediakan untuk kemudian masuk dalam database UMKM mitra. Refina menegaskan bahwa BPDP menggunakan istilah “mitra”, bukan binaan, karena lembaga tersebut berperan mendampingi dan memfasilitasi UMKM yang telah berkembang.

Selain batik sawit, pameran juga menampilkan produk turunan lainnya, seperti sandal berbahan lidi sawit, produk dari pelepah kelapa, serta produk berbasis kakao.

Menurut Refina, kehadiran produk-produk tersebut dalam pameran membuka peluang promosi sekaligus transaksi. Pengunjung dapat mengenal lebih jauh bahwa komoditas perkebunan Indonesia tidak hanya menghasilkan produk primer, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk kreatif. Batik sawit pun menjadi salah satu gambaran bagaimana hilirisasi dapat mempertemukan sektor perkebunan dengan industri kreatif. Inovasi tersebut membuka peluang bagi komoditas sawit untuk memiliki nilai tambah sekaligus memperluas pemanfaatannya ke sektor kerajinan dan ekonomi kreatif.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Mendag Budi Santoso dorong INACRAFT 2026 menjadi momentum produk lokal Indonesia meningkatkan daya saing dan menembus pasar internasional.

INACRAFT 2026 Jadi Momentum Produk Lokal Indonesia Tembus Pasar Internasional