in

Cagar Budaya Monumen Palagan Lengkong, Mengenang Gugurnya Daan Mogot dan Taruna

Monumen Palagan Lengkong di Tangerang Selatan mengenang peristiwa 25 Januari 1946 ketika Daan Mogot dan puluhan taruna gugur.
Monumen Palagan Lengkong di Tangerang Selatan mengenang peristiwa 25 Januari 1946 ketika Daan Mogot dan puluhan taruna gugur.

Monumen Palagan Lengkong menjadi penanda peristiwa berdarah pada 25 Januari 1946, ketika Mayor Elias Daniel Mogot atau Daan Mogot bersama pasukan taruna Akademi Militer Tangerang diserang saat menjalankan tugas mengambil senjata dari pasukan Jepang. Peristiwa tersebut menewaskan Daan Mogot, dua perwira, dan 34 taruna, menurut catatan dalam Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia (2019).

Monumen ini berada di Jalan Bukit Golf Utara Nomor 2, Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang Selatan. Buku tersebut menggambarkan lokasinya agak tersembunyi dan minim petunjuk di jalan, sehingga tidak banyak orang yang mengetahui keberadaannya. Di sekitar kawasan terdapat tulisan “Taman Daan Mogot” yang menjadi salah satu penanda lokasi.

Monumen Palagan Lengkong dibangun untuk mengenang perjuangan Daan Mogot dalam mempertahankan kemerdekaan. Ia dikenal sebagai komandan Tentara Republik Indonesia dan pendiri sekaligus direktur pertama Akademi Militer Tangerang. Pada 25 Januari 1946, Daan Mogot bersama sekitar 70 taruna ditugaskan mengambil senjata dari pasukan Jepang. Ketika perundingan berlangsung, pasukan mereka tiba-tiba diserang.

Bangunan monumen terbuat dari marmer hitam, berbentuk melengkung dengan tinggi sekitar tiga meter dan lebar delapan meter. Sebuah tiang bendera berdiri di bagian tengah, diapit gundukan tanah berumput. Pada monumen terdapat tulisan yang menjelaskan peristiwa Lengkong, nama-nama taruna dan perwira yang gugur, serta lirik lagu yang dibuat setelah peristiwa tersebut.

Kawasan cagar budaya itu memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi dan juga mencakup dua bangunan yang disebut Rumah Lengkong. Salah satu rumah dahulu digunakan sebagai markas pasukan Jepang. Di bagian depan terdapat papan peringatan cagar budaya dan papan informasi sejarah. Ensiklopedia tersebut menyebut Monumen Palagan Lengkong dan Rumah Lengkong telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah.

Perawatan kawasan tidak hanya menjadi tugas pengelola. Buku itu mendorong pengunjung untuk membuang sampah pada tempatnya, tidak mencoret monumen atau bangunan, dan tidak merusak unsur yang ada. Pemerintah daerah juga dinilai perlu memperkuat informasi penunjuk arah agar situs lebih mudah ditemukan masyarakat.

Monumen Palagan Lengkong bukan sekadar tempat mengenang nama-nama yang gugur. Kawasan ini dapat menjadi ruang pembelajaran sejarah bagi generasi muda mengenai risiko perjuangan, pengorbanan para taruna, dan pentingnya menjaga bukti fisik sejarah agar kisah tersebut tetap dikenal.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif batik Kediri Sawung Tunjung Tejamaya memadukan ayam jantan, teratai, dan relief Candi Tegowangi dalam komposisi budaya yang khas.

Batik Kediri Sawung Tunjung Tejamaya Padukan Ayam Jantan dan Bunga Teratai

Istana Maimun di Medan merupakan warisan Kesultanan Deli yang memadukan arsitektur Melayu, Mogul, Arab, India, dan Eropa.

Cagar Budaya Istana Maimun Medan, Warisan Kerajaan Melayu dengan Arsitektur Perpaduan Budaya