Candi Kidal di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, menyimpan kisah mitologi Garudeya melalui relief yang dipahat pada bagian kaki candi. Peninggalan kerajaan Singasari ini dibangun pada 1248 dan menjadi salah satu situs cagar budaya yang memadukan nilai arsitektur, sejarah kerajaan, serta pesan moral.
Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia terbitan Wonderland Family (2019) menyebut Candi Kidal dibangun sebagai penghormatan terhadap Raja Anusapati, raja kedua Singasari yang memerintah pada 1227–1248. Bangunannya memiliki luas sekitar 72,33 meter persegi dan berdiri di lahan seluas 2.084 meter persegi. Bentuknya ramping dan tinggi, mengikuti karakter candi bergaya Jawa Timuran.
Candi ini memiliki kaki yang besar dan cukup tinggi. Tubuh bangunan agak mundur ke belakang, sementara bagian atasnya berbentuk menyerupai piramida dengan puncak mirip kubus. Pada sejumlah sudut terdapat arca singa, sedangkan relief Garuda menghiasi tiga sisi candi, yakni sisi utara, timur, dan selatan. Bangunan menggunakan batu andesit, sementara bagian lain dibuat dari bata.
Relief utama Candi Kidal mengisahkan Garudeya, cerita mitologi Hindu tentang perjuangan Garuda membebaskan ibunya, Winata, dari perbudakan Kadru. Kisah tersebut digambarkan dalam tiga relief. Relief pertama menunjukkan Garuda di bawah tiga ular, relief kedua menggambarkan Garuda dengan kendi di atas kepala, dan relief ketiga memperlihatkan Garuda menggendong seorang perempuan.
Dalam cerita yang dirangkum ensiklopedia, Kadru memperdaya Winata hingga Winata harus melayani Kadru dan ketiga ular. Garuda kemudian mencari cara membebaskan ibunya. Ia diminta memperoleh air suci amerta yang dijaga para dewa. Setelah melalui perjuangan, Garuda berhasil mendapatkannya dan membebaskan Winata. Kisah itu membawa pesan tentang pembebasan dari perbudakan.
Candi Kidal disebut ditemukan Thomas Stamford Raffles pada 1817. Pemeliharaan dan perbaikan dilakukan dalam beberapa periode, antara lain pada 1867, 1883, 1925, serta pemugaran pada 1987–1990. Dalam buku tersebut, kondisi candi digambarkan baik dan dimanfaatkan sebagai wisata edukasi.Pelestarian Candi Kidal perlu disertai perilaku pengunjung yang bertanggung jawab. Menjaga kebersihan, tidak merusak relief, dan mengikuti aturan kunjungan merupakan langkah penting agar nilai sejarah dan cerita yang terpahat pada candi tetap dapat dipelajari generasi mendatang.

