SEMARANG – Industri Batik Semarang mengalami pertumbuhan pesat pada periode 1919–1925. Berdasarkan data laporan pemerintah kolonial Belanda Koloniaal Verslag yang dikutip dalam penelitian Dewi Yuliati, jumlah industri kerajinan batik di Semarang meningkat dari 25 usaha pada 1919 menjadi 107 usaha pada 1925.
Data tersebut menjadi salah satu bukti bahwa batik pernah menjadi bagian penting dari aktivitas ekonomi masyarakat Semarang pada awal abad ke-20. Peningkatan jumlah usaha juga diikuti bertambahnya tenaga kerja yang terlibat dalam produksi.
Dalam artikel “Mengungkap Sejarah dan Motif Batik Semarangan” yang diterbitkan jurnal Paramita pada Januari 2010, Yuliati mencatat bahwa pada 1919 terdapat 58 tenaga ahli pria, delapan kuli pria, dan 168 kuli wanita. Pada 1925, jumlah tenaga ahli meningkat menjadi 268 pria dan 223 wanita, sementara pekerja yang dikategorikan sebagai kuli mencapai 75 pria dan 242 wanita.
Penelitian tersebut mengaitkan pertumbuhan industri batik dengan kondisi ekonomi setelah Perang Dunia I. Ketika impor tekstil dari India, Belanda, dan Inggris terhenti, masyarakat berupaya memenuhi kebutuhan sandang melalui produksi sendiri.
Membatik menjadi salah satu cara untuk memperoleh kain dengan motif sesuai keinginan. Pada masa itu, teknik batik cap belum digunakan secara luas, sedangkan teknologi pencetakan tekstil atau printing baru berkembang kemudian.
Kampung Batik dan jaringan produksi
Kegiatan membatik tidak hanya berlangsung di Kampung Batik. Berdasarkan keterangan para informan yang diwawancarai dalam penelitian, perajin juga berasal dari Kampung Kulitan, Bugangan, Rejosari, dan wilayah lain di Semarang.
Kampung Batik berada di sekitar kawasan Bubakan, yang dahulu menjadi bagian dari pusat pemerintahan Semarang. Di kawasan tersebut, nama kampung kerap berkaitan dengan mata pencaharian penduduk. Selain Kampung Batik, terdapat Pedamaran yang berhubungan dengan perdagangan bahan pewarna dan Sayangan yang dikenal sebagai tempat perajin barang dari logam atau tembaga.
Penelitian Yuliati juga mencatat keberadaan juragan batik bernama Ibu Darso yang memasarkan produk dari Kampung Batik ke Pasar Johar. Keterangan ini menggambarkan adanya hubungan antara perajin, pengusaha, dan pasar dalam rantai usaha batik.
Perang membawa kemunduran
Pertumbuhan industri tersebut kemudian menghadapi gangguan akibat pendudukan Jepang dan konflik pada masa awal kemerdekaan. Pembakaran sejumlah kampung di Semarang pada Oktober 1945 menyebabkan peralatan membatik di Kampung Batik ikut terbakar. Akibatnya, kegiatan produksi di kawasan itu terhenti.
Namun, perusahaan batik Tan Kong Tien Batikkerij di Kampung Bugangan tetap bertahan hingga sekitar 1970-an. Perusahaan tersebut mempekerjakan carik atau pembuat desain, pembatik, dan tukang celup. Produknya antara lain berupa jarit, selendang, dasi, dan topi.
Data historis ini memperlihatkan bahwa industri Batik Semarang pernah berkembang dengan dukungan tenaga kerja dan pasar. Catatan tersebut sekaligus menjadi landasan untuk memahami pentingnya penguatan produksi, manajemen, promosi, dan regenerasi perajin agar usaha batik dapat berkelanjutan.

