in

Batik Kediri Angkat Mangga Podang dan Nanas Podang sebagai Identitas Produk Unggulan

Motif batik Kediri Mangga Podang dan Nanas Podang mengolah produk unggulan pertanian menjadi karya kriya yang memperkuat identitas daerah.
Motif batik Kediri Mangga Podang dan Nanas Podang mengolah produk unggulan pertanian menjadi karya kriya yang memperkuat identitas daerah.

Kediri – Mangga podang dan nanas podang tidak hanya dikenal sebagai produk pertanian Kabupaten Kediri, Jawa Timur, tetapi juga menjadi sumber inspirasi bagi pengembangan motif batik. Kedua komoditas tersebut diolah menjadi ragam hias yang menghubungkan kekayaan alam, kreativitas perajin, dan identitas daerah.

Penelitian Mujiono dan Dharsono berjudul “Keberadaan Batik Kediri Jawa Timur” yang diterbitkan dalam Jurnal Seni Budaya pada Juli 2015 mencatat bahwa produk unggulan daerah merupakan salah satu sumber gagasan utama dalam penciptaan batik Kediri.

Penggunaan unsur pertanian sebagai motif menunjukkan bahwa batik dapat merepresentasikan kehidupan masyarakat sekaligus mengangkat potensi lokal melalui karya seni kriya.

Mangga Podang Menjadi Motif Batik

Mangga podang merupakan salah satu produk unggulan yang menjadi inspirasi perajin batik Kediri. Motifnya dikembangkan dengan menggambarkan buah dan daun dalam susunan yang berulang.

Dalam penelitian tersebut, motif Mangga Podang disusun secara menyerong untuk menciptakan ritme visual. Latar berupa titik-titik melengkapi komposisi dan memberikan tekstur pada bidang kain.

Warna hitam digunakan sebagai latar yang kuat, dipadukan dengan warna putih kain dan warna merah pada buah mangga. Perpaduan tersebut membuat bentuk buah menjadi unsur yang menonjol dalam keseluruhan desain.

Penggambaran mangga tidak sekadar menghadirkan bentuk buah sebagai ornamen. Motif tersebut juga merepresentasikan potensi pertanian yang menjadi bagian dari karakter Kabupaten Kediri.

Melalui penerapan pada kain, produk pertanian memperoleh ruang representasi dalam bentuk karya budaya yang dapat digunakan sebagai pakaian maupun produk kerajinan.

Nanas Podang Menggabungkan Unsur Alam

Selain Mangga Podang, penelitian tersebut mengidentifikasi motif Nanas Podang sebagai bentuk penggabungan pola klasik dengan inspirasi alam.

Motif ini menggabungkan dua produk unggulan Kabupaten Kediri, yaitu nanas dan mangga podang, dalam satu komposisi. Unsur pendukungnya meliputi daun turi, manggaran atau bagian pohon kelapa, bunga jeruk, serta latar yang disebut beras wutah.

Susunan tersebut menunjukkan bagaimana perajin menggabungkan berbagai unsur tumbuhan untuk membangun pola yang lebih kompleks.

Nanas banyak tumbuh di kawasan lereng Gunung Kelud, termasuk perkebunan Margomulyo di Desa Sugih Waras, Kecamatan Ngancar. Sementara itu, mangga podang banyak tumbuh di lereng Gunung Wilis, khususnya di Kecamatan Mojo, Semen, dan Banyakan.

Kondisi geografis tersebut memberi konteks bagi pemilihan kedua komoditas sebagai inspirasi batik. Motifnya menghubungkan karakter alam Kediri dengan kegiatan ekonomi masyarakat yang berkaitan dengan pertanian.

Batik sebagai Representasi Potensi Daerah

Pengembangan motif Mangga Podang dan Nanas Podang memperlihatkan bahwa batik kreasi dapat mengangkat objek yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Berbeda dari pola klasik yang mempertahankan susunan tradisi, batik kreasi memberi ruang lebih luas bagi perajin untuk mengembangkan bentuk, warna, dan komposisi sesuai gagasan mereka.

Penelitian tersebut juga mencatat bahwa motif batik Kediri bersumber dari sejarah, budaya, pariwisata, flora, fauna, dan produk unggulan daerah. Beragam inspirasi itu membentuk karakter batik yang khas sekaligus mencerminkan kekayaan Kabupaten Kediri.

Dalam pemanfaatannya, batik tidak terbatas pada kain panjang atau busana upacara adat. Produk ini juga digunakan untuk pakaian sehari-hari, seragam, busana pesta, selendang, aksesori, dan cendera mata.

Motif yang mengangkat hasil pertanian dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan produk unggulan daerah melalui karya seni. Pengembangan tersebut sekaligus memperlihatkan hubungan antara pelestarian budaya, kreativitas perajin, dan pengenalan potensi ekonomi lokal.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Industri Batik Semarang meningkat dari 25 usaha pada 1919 menjadi 107 pada 1925, saat impor tekstil terhenti setelah Perang Dunia I melanda.

Batik Semarang Catat Lonjakan Industri dari 25 Menjadi 107 Usaha pada 1925

UU Nomor 5 Tahun 2017 mengatur pemajuan kebudayaan lewat pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan demi menjaga budaya bangsa.

UU Pemajuan Kebudayaan: 10 Objek Budaya Dilindungi, Masyarakat Berhak Berpartisipasi