Kediri – Batik Kediri memiliki motif Sawung Tunjung Tejamaya yang memadukan unsur ayam jantan, bunga teratai, dan ornamen yang terinspirasi dari relief candi. Motif ini memperlihatkan bagaimana kekayaan bahasa, alam, dan peninggalan sejarah dapat diterjemahkan menjadi karya seni batik dengan karakter visual tersendiri.
Penelitian Mujiono dan Dharsono berjudul “Keberadaan Batik Kediri Jawa Timur” yang diterbitkan dalam Jurnal Seni Budaya Volume 13 Nomor 1, Juli 2015, menguraikan motif Sawung Tunjung Tejamaya sebagai salah satu bentuk batik kreasi dengan inspirasi alam dan budaya.
Motif tersebut menjadi contoh pengembangan batik Kediri yang tidak hanya memperhatikan susunan ornamen, tetapi juga mengangkat makna di balik unsur visualnya.
Makna Nama Sawung Tunjung Tejamaya
Nama Sawung Tunjung Tejamaya berasal dari bahasa Kawi. Dalam uraian penelitian, kata sawung berarti ayam jantan, tunjung berarti bunga teratai atau lotus, sedangkan tejamaya berarti cahaya atau sinar yang memancar indah.
Secara keseluruhan, motif tersebut menggambarkan keagungan dan keindahan yang terpancar melalui perpaduan ayam jantan dan bunga teratai putih.
Unsur utama motif berupa ayam bekisar jantan dan bunga teratai putih yang dikenal sebagai kumuda. Komposisi tersebut dilengkapi teratai merah atau padma serta ornamen pinggir berbentuk awan.
Penggabungan unsur hewan, tumbuhan, dan ornamen dekoratif menciptakan susunan yang memiliki karakter visual sekaligus memuat gagasan simbolis.
Terinspirasi Relief Candi Tegowangi
Salah satu unsur yang memperkaya motif Sawung Tunjung Tejamaya adalah inspirasi dari relief Candi Tegowangi di Kabupaten Kediri. Candi tersebut merupakan peninggalan dari zaman Majapahit.
Penggunaan inspirasi relief memperlihatkan keterkaitan antara batik dan peninggalan sejarah daerah. Unsur visual dari warisan masa lalu diolah kembali melalui media kain, sehingga dapat hadir dalam bentuk karya kriya yang digunakan masyarakat.
Pendekatan ini juga menunjukkan bahwa penciptaan motif batik tidak selalu bersumber dari objek alam yang terlihat sehari-hari. Sejarah dan peninggalan arkeologis dapat menjadi bagian dari proses kreatif perajin.
Dengan demikian, motif Sawung Tunjung Tejamaya menjadi salah satu contoh bagaimana identitas budaya daerah dapat diwujudkan melalui perpaduan simbol, ornamen, dan komposisi visual.
Warna dan Teknik Memperkuat Karakter Motif
Penelitian tersebut mencatat penggunaan teknik colet atau dulit, perpaduan warna kontras, serta teknik celup pada bagian latar dalam pengembangan motif Sawung Tunjung Tejamaya.
Warna latar cenderung gelap atau kehitaman. Dalam penafsiran penelitian, karakter warna tersebut dikaitkan dengan sifat bersahaja, lugas, dan apa adanya.
Perpaduan warna dan bentuk berperan dalam membangun kesatuan komposisi. Unsur utama, motif tambahan, dan ornamen pinggir disusun agar saling mendukung serta membentuk karakter estetika yang utuh.
Dalam kajian batik Kediri, estetika tidak hanya dilihat dari bentuk visual, tetapi juga dari bobot atau isi dan cara karya disajikan. Artinya, batik dapat mengandung gagasan serta pesan budaya yang melampaui fungsi kain sebagai benda pakai.
Motif Sawung Tunjung Tejamaya memperlihatkan potensi tersebut melalui penggunaan unsur bahasa Kawi, flora, fauna, dan inspirasi relief candi.
Pengembangan motif seperti ini turut memperkaya ragam batik Kediri. Selain menjadi produk kriya, batik dapat berfungsi sebagai media untuk memperkenalkan sejarah dan kebudayaan daerah kepada masyarakat luas.


