in

Cagar Budaya Masjid Nurul Ibadah Paser, Masjid Tua dengan Jam Matahari

Masjid Nurul Ibadah di Paser berdiri sejak 1851 dan menyimpan jam matahari serta arsitektur kayu yang mencerminkan sejarah Kesultanan Paser.
Masjid Nurul Ibadah di Paser berdiri sejak 1851 dan menyimpan jam matahari serta arsitektur kayu yang mencerminkan sejarah Kesultanan Paser.

Masjid Nurul Ibadah di Pasir Belengkong, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, menyimpan jejak sejarah Islam dan kehidupan Kesultanan Paser. Berdiri sejak 1851, masjid yang terbuat dari kayu pilihan ini bukan hanya digunakan untuk beribadah, tetapi juga menjadi tempat musyawarah masyarakat dan ruang pertemuan para tokoh setempat.

Menurut Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia terbitan Wonderland Family (2019), Masjid Nurul Ibadah berada bersebelahan dengan Istana Kesultanan Paser yang kini menjadi Museum Sadurengas. Kedekatan lokasi tersebut menunjukkan hubungan masjid dengan lingkungan kerajaan. Pada masa awal, bangunan ini digunakan sebagai sarana ibadah sekaligus tempat berkumpul dan berdiskusi warga.

Salah satu benda menarik di halaman masjid adalah jam matahari. Alat tersebut berupa besi tembaga yang berdiri di atas tugu kecil. Sebelum jam dinding modern digunakan secara luas, bayangan besi itu menjadi penunjuk waktu, termasuk untuk memperkirakan waktu salat. Cara ini bergantung pada cahaya matahari sehingga tidak dapat digunakan saat malam atau ketika matahari tertutup.

Masjid memiliki ruang salat, mihrab, serambi, atap, tiang, dan menara. Ruang salat dikelilingi tiga serambi berbentuk huruf U. Setiap sisi memiliki tiga pintu, sementara ventilasi setengah lingkaran di atas pintu dihiasi ornamen menyerupai kipas. Banyaknya pintu dan ventilasi membantu sirkulasi udara di dalam bangunan.

Di dekat mihrab terdapat mimbar dengan ornamen khas Paser. Di bagian tengah ruang salat berdiri tiang yang dikelilingi tangga spiral hijau dengan 12 anak tangga. Tangga tersebut dahulu digunakan muazin untuk menuju menara. Pada masa ketika pengeras suara belum tersedia, azan dikumandangkan dari menara agar terdengar lebih luas, sedangkan beduk dipukul sebagai penanda waktu salat.

Masjid ini telah mengalami pemugaran dua kali, yakni pada 2010 setelah terendam banjir akibat meluapnya Sungai Kandilo dan pada 2012 untuk mengganti bagian kayu yang lapuk. Ensiklopedia itu menyebut pemugaran dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur. Pengelolaan juga melibatkan juru pelihara, marbot, dan kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan.Selain tempat salat, Masjid Nurul Ibadah dimanfaatkan untuk belajar mengaji, silaturahmi masyarakat dan pemerintah, perayaan hari besar Islam, serta kegiatan Ramadan. Fungsinya sebagai tempat ibadah yang hidup sekaligus sumber sejarah menjadikan pelestarian masjid penting bagi masyarakat Paser.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Istana Maimun di Medan merupakan warisan Kesultanan Deli yang memadukan arsitektur Melayu, Mogul, Arab, India, dan Eropa.

Cagar Budaya Istana Maimun Medan, Warisan Kerajaan Melayu dengan Arsitektur Perpaduan Budaya