Istana Maimun menjadi salah satu peninggalan sejarah kerajaan Melayu yang menonjol di Kota Medan, Sumatera Utara. Istana yang identik dengan warna kuning keemasan ini menyimpan jejak Kesultanan Deli sekaligus memperlihatkan perpaduan gaya arsitektur Melayu, Mogul, Arab, India, dan Eropa.
Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia terbitan Wonderland Family (2019) mencatat pembangunan Istana Maimun dimulai pada 26 Agustus 1888 dan selesai pada 18 Mei 1891. Istana tersebut didirikan pada masa kepemimpinan Sultan Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Bangunannya berdiri di atas lahan sekitar 2.772 meter persegi dan dirancang oleh seorang kapten KNIL bernama Th. Van Erp.
Perpaduan budaya tampak pada beragam unsur bangunan. Dinding dan atap memuat pengaruh Melayu dan Timur Tengah, sementara jendela serta pintu yang lebar dan tinggi memperlihatkan pengaruh gaya Belanda. Bentuk lengkung atap juga disebut memiliki kemiripan dengan arsitektur yang dijumpai di kawasan Timur Tengah, India, dan Turki. Warna kuning keemasan memiliki makna khusus karena dikenal sebagai warna bangsawan Melayu.
Istana terdiri atas dua lantai dengan 30 kamar, serta terbagi menjadi ruang utama, sayap kanan, dan sayap kiri. Ruang utama dikenal sebagai Balairung Sri. Ruangan seluas sekitar 412 meter persegi itu digunakan untuk acara adat kerajaan, menerima tamu, dan upacara penobatan Sultan Deli. Di ruang tersebut juga terdapat benda-benda peninggalan, termasuk senjata tua dan foto keluarga sultan.
Sejak dibuka untuk kunjungan wisata, pengunjung diperbolehkan berkeliling di area tengah istana. Sementara itu, kedua sayap masih dihuni keluarga sultan, menurut keterangan dalam ensiklopedia. Pengalaman mengunjungi istana juga memberi kesempatan untuk mengenali suasana budaya Melayu melalui ornamen, ruang, dan tradisi yang masih melekat pada bangunan.
Di halaman istana terdapat Meriam Puntung, yang dikaitkan dengan cerita rakyat tentang Putri Hijau. Kisah tersebut menyebut meriam sebagai jelmaan sang putri dalam peristiwa serangan terhadap Kerajaan Deli. Cerita ini menjadi bagian dari narasi budaya yang berkembang di sekitar istana, meskipun perlu dibedakan dari catatan sejarah faktual.
Istana Maimun menunjukkan bahwa cagar budaya dapat menjadi sumber belajar tentang sejarah politik, seni bangunan, dan pertemuan berbagai pengaruh budaya. Pelestarian bangunan dan penyampaian informasi yang akurat penting agar warisan Kesultanan Deli tetap dipahami sebagai bagian dari sejarah masyarakat Medan dan Indonesia.


