Batik Semarang tidak hanya menjadi karya seni pada selembar kain, tetapi juga merepresentasikan sejarah, nilai budaya, dan identitas masyarakat setempat. Penelitian yang dilakukan Imam Baehaqie, Muadzin, dan Ardani Tangguh Waskito mengidentifikasi delapan motif batik khas Semarang yang memiliki makna kultural berbeda.
Penelitian berjudul Makna Kultural Motif Batik Khas Semarang: Kajian Etnolinguistis tersebut diterbitkan dalam Jurnal Basataka Volume 8 Nomor 2, Desember 2025. Hasil kajian mengelompokkan motif Batik Semarang ke dalam tiga kategori utama, yakni fauna, flora, dan bangunan bersejarah.
Pengelompokan tersebut memperlihatkan bahwa unsur-unsur yang ditemukan dalam kehidupan masyarakat Semarang dapat diterjemahkan menjadi simbol visual pada kain batik. Setiap motif memiliki latar belakang dan pesan yang berkaitan dengan pandangan hidup, sejarah, serta kehidupan sosial masyarakat.
Pada kategori fauna, penelitian membahas motif Warak Ngendhog, Merak Jeprak, dan Blekok Srondol. Warak Ngendhog menggambarkan perpaduan unsur budaya yang merepresentasikan keberagaman masyarakat Semarang. Bentuk kepalanya menyerupai naga yang dikaitkan dengan kebudayaan Tionghoa, bagian tubuhnya menyerupai buraq yang merepresentasikan budaya Arab dan nilai keislaman, sedangkan kakinya menyerupai kambing yang melambangkan identitas masyarakat Jawa.
Istilah Warak Ngendhog juga memiliki makna simbolis. Kata warak diartikan sebagai suci, sedangkan ngendhog berarti bertelur. Motif tersebut melambangkan harapan agar umat mampu mengendalikan hawa nafsu pada bulan Ramadan dan menghasilkan perbuatan baik.
Sementara itu, motif Merak Jeprak menampilkan burung merak dengan sayap terbuka. Kata jeprak bermakna membuka sayap lebar-lebar, yang dimaknai sebagai simbol kebebasan dan keterbukaan terhadap dunia luar. Adapun motif Blekok Srondol terinspirasi dari burung blekok yang hidup bergerombol. Motif ini merepresentasikan kebersamaan dan semangat gotong royong masyarakat.
Pada kategori flora, penelitian mengidentifikasi motif Asam Arang, Sekar Jagad, dan Lung-Lungan. Asam Arang dikaitkan dengan asal-usul nama Semarang melalui ungkapan “asem arang-arang”. Motif tersebut juga dimaknai sebagai harapan akan kebaikan dan keberkahan.
Motif Sekar Jagad menggambarkan keberagaman masyarakat melalui rangkaian unsur bunga, seperti bunga asam, kantil, sepatu, cempaka, dan teratai. Sementara Lung-Lungan, yang terinspirasi dari tanaman sulur, menyimbolkan pertumbuhan serta keterhubungan dalam kehidupan sosial dan spiritual.
Dua motif lainnya mengambil inspirasi dari bangunan bersejarah, yakni Tugu Muda dan Lawang Sewu. Motif Tugu Muda merepresentasikan semangat perjuangan dan kepahlawanan, sedangkan Lawang Sewu menggambarkan hubungan antara sejarah arsitektur dan identitas masyarakat Semarang.
Para peneliti menegaskan bahwa pemahaman terhadap makna motif menjadi bagian penting dalam pelestarian Batik Semarang. Dengan mengenali simbol dan nilai filosofisnya, masyarakat dapat melihat batik bukan semata-mata sebagai produk estetis, melainkan sebagai warisan budaya yang merekam perjalanan dan identitas daerah.


