JAKARTA — Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Marsudi Wahyu Kisworo, mengusulkan penggunaan istilah “akal imitasi” untuk menyebut Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Menurutnya, istilah tersebut lebih tepat untuk menggambarkan perkembangan teknologi yang tidak hanya berkaitan dengan kecerdasan, tetapi juga kemampuan bernalar yang menyerupai manusia.
Gagasan itu disampaikan Marsudi saat membahas perkembangan teknologi dan posisi Indonesia dalam menghadapi kemajuan AI pada rangkaian Indocomtech 2026 di Jakarta.
Dalam penjelasannya, Marsudi mengatakan istilah “akal imitasi” merupakan pilihan istilah yang ia gunakan sendiri. Ia menilai, perkembangan AI ke depan berpotensi melampaui kemampuan yang saat ini dikenal, hingga menyerupai manusia yang memiliki akal.
“Kenapa? Karena nanti bukan sekadar kecerdasan, tapi akal,” ujar Marsudi dalam transkrip pernyataannya.
Ia menjelaskan, istilah tersebut juga dimaksudkan untuk menegaskan perbedaan antara manusia dan teknologi. Menurut Marsudi, meskipun AI dapat berkembang dengan kemampuan yang semakin canggih, manusia tetap perlu menyadari bahwa teknologi tersebut bukan manusia dan bukan pula akal yang diciptakan Tuhan.
Karena itu, ia mengingatkan agar masyarakat tidak menempatkan AI sebagai pengganti kedudukan manusia. Marsudi menilai manusia harus terus mengembangkan kemampuan agar dapat memanfaatkan teknologi secara tepat dan tetap unggul dalam hal-hal yang menjadi tanggung jawab manusia.
AI Berkembang Melampaui Fungsi Awal
Marsudi menilai perkembangan AI tidak lagi terbatas pada penggunaan untuk membantu pekerjaan sederhana. Teknologi ini telah membuka peluang bagi masyarakat untuk menghasilkan berbagai karya yang sebelumnya membutuhkan keterampilan khusus.
Dalam pemaparannya, ia mencontohkan penggunaan AI untuk membuat lagu, video, hingga novel. Kemampuan tersebut, menurutnya, membuka kesempatan lebih luas bagi masyarakat untuk berkreasi, termasuk bagi orang yang sebelumnya tidak memiliki keterampilan teknis dalam bidang-bidang tersebut.
Perkembangan ini ia kaitkan dengan demokratisasi penciptaan, yakni terbukanya kesempatan bagi lebih banyak orang untuk menghasilkan karya dengan bantuan teknologi.
Namun, Marsudi mengingatkan bahwa kemudahan tersebut harus diikuti dengan kesiapan bangsa dalam menguasai teknologi. Indonesia, menurutnya, jangan sampai hanya menjadi pengguna atau penonton ketika teknologi terus berkembang.
Ia mendorong penguatan riset dan pengembangan teknologi agar Indonesia mampu menghasilkan inovasi sendiri. Dalam konteks tersebut, Marsudi menyebut BRIN menjalankan kegiatan riset yang hasilnya diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat.
Indonesia Perlu Menguasai Teknologi AI
Marsudi juga menyoroti peluang Indonesia dalam ekosistem teknologi global. Menurutnya, perkembangan AI perlu direspons melalui peningkatan kemampuan sumber daya manusia, penguatan riset, dan pengembangan solusi teknologi yang dapat digunakan untuk kebutuhan masyarakat.
Ia menilai pameran teknologi seperti Indocomtech dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan perkembangan teknologi sekaligus mendorong masyarakat memahami pentingnya penguasaan teknologi.
Bagi Marsudi, tantangan Indonesia bukan hanya menerima kehadiran AI, tetapi juga membangun kemampuan untuk mengembangkan dan memanfaatkannya. Dengan demikian, masyarakat dan industri dalam negeri dapat mengambil peran lebih besar dalam perkembangan ekonomi digital.
Gagasan penggunaan istilah “akal imitasi” menjadi bagian dari pandangan Marsudi mengenai pentingnya memahami perkembangan AI secara kritis. Istilah tersebut merupakan usulan personal yang ia sampaikan untuk menekankan bahwa kecerdasan buatan tetap merupakan teknologi yang meniru kemampuan manusia, bukan manusia itu sendiri.
Melalui pemahaman tersebut, Marsudi mengajak masyarakat untuk memanfaatkan AI sebagai alat pendukung kreativitas dan produktivitas, sembari memperkuat kemampuan manusia serta kemandirian teknologi Indonesia.


