Jakarta – Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Dr. Saryadi, S.T., M.B.A., menegaskan bahwa digitalisasi pendidikan harus berorientasi pada peningkatan mutu pembelajaran dan pemerataan akses, bukan sekadar penyediaan perangkat teknologi. Pemanfaatan teknologi juga harus memastikan peserta didik penyandang disabilitas memperoleh kesempatan belajar yang setara.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Saryadi saat mewakili Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam pembukaan Indocomtech 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Dalam pidatonya, ia menyampaikan bahwa teknologi memiliki peran strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas kesempatan belajar, serta mempersiapkan peserta didik menghadapi perubahan zaman. Karena itu, penguasaan literasi digital dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi menjadi bagian penting dari transformasi pendidikan nasional.
Menurutnya, peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi, sekaligus membangun karakter sebagai warga negara Indonesia.
Pemerintah Perluas Digitalisasi Pembelajaran
Dr. Saryadi memaparkan, pemerintah terus memperkuat transformasi digital pendidikan melalui penyediaan sarana dan prasarana pembelajaran.
Pada 2025, perangkat digitalisasi pembelajaran berupa papan interaktif digital atau interactive flat panel beserta kelengkapannya telah disediakan bagi 288.865 satuan pendidikan. Dukungan tersebut juga mencakup akses internet bagi 8.152 satuan pendidikan serta penyediaan jaringan listrik bagi 2.389 satuan pendidikan.
Selain penyediaan perangkat, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah turut menyediakan konten pembelajaran melalui platform Rumah Pendidikan serta meningkatkan kapasitas pendidik dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran.
Memasuki 2026, program digitalisasi pembelajaran dilanjutkan dengan sasaran 268.393 satuan pendidikan. Pendampingan pemanfaatan teknologi pembelajaran juga telah menjangkau lebih dari 58.000 satuan pendidikan dan terus bertambah seiring pelaksanaan program tahun ini.
Namun, ia menekankan bahwa keberhasilan digitalisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah perangkat yang tersedia. Penyediaan teknologi harus disertai peningkatan kompetensi guru, pengembangan konten berkualitas, serta pemanfaatan perangkat yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Perkuat STEM, Coding, dan Kecerdasan Artifisial
Dalam pidatonya, Dr. Saryadi juga menyoroti pentingnya penguatan sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau science, technology, engineering, and mathematics (STEM).
Pengembangan kecakapan coding dan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI) menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi perubahan kebutuhan keterampilan di masa depan. Penguatan tersebut perlu berjalan beriringan dengan literasi, numerasi, kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, dan pembentukan karakter.
Ia menekankan bahwa peserta didik perlu didorong untuk tidak hanya mengonsumsi teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan gagasan dan mengembangkan solusi melalui pemanfaatan teknologi.
Teknologi Harus Inklusif bagi Siswa Disabilitas
Sebagai Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus, Dr. Saryadi memberikan perhatian khusus pada aksesibilitas bagi peserta didik penyandang disabilitas.
Menurutnya, teknologi dapat membantu mengurangi hambatan belajar melalui fitur aksesibilitas, materi adaptif, dan perangkat yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.
Karena itu, transformasi digital pendidikan harus disertai penguatan kapasitas guru, penyediaan konten yang aksesibel, serta pendekatan pembelajaran yang mengakomodasi keragaman kebutuhan peserta didik.
Ia mengingatkan bahwa teknologi semestinya menjadi jembatan menuju pendidikan yang lebih inklusif dan berkeadilan, bukan justru menciptakan kesenjangan baru.
Dorong Kolaborasi Industri dan Dunia Pendidikan
Dr. Saryadi menegaskan, transformasi digital pendidikan tidak dapat dilakukan pemerintah sendirian. Diperlukan kolaborasi antara dunia pendidikan, industri teknologi, komunitas, keluarga, dan masyarakat.
Dalam konteks tersebut, pameran teknologi seperti Indocomtech dapat menjadi ruang untuk mempertemukan inovasi industri dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia pendidikan.
Ia juga menyambut penyelenggaraan Olimpiade TIK Nasional serta kompetisi esports Point Blank National Championship sebagai bagian dari rangkaian Indocomtech 2026. Kegiatan tersebut dinilai dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kompetensi, kreativitas, sportivitas, dan kemampuan berkompetisi secara sehat.
Dr. Saryadi berharap industri teknologi semakin aktif bermitra dengan dunia pendidikan melalui pengembangan solusi pembelajaran, peningkatan kapasitas pendidik, penguatan talenta digital, dan perluasan akses teknologi yang inklusif.
Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu mengembangkan talenta dan inovasi untuk mendukung kemajuan bangsa.
Indocomtech 2026 berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026 di Hall A JICC, Senayan, Jakarta. Mengusung tema “See, Experience, Solve, and Stay Ahead”, pameran ini menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara inovasi teknologi, industri, dan masyarakat, termasuk dalam mendukung transformasi pendidikan nasional.


