Pendekatan more-than-human dinilai penting untuk memahami kembali hubungan antara manusia dan dunia nonmanusia yang selama ini cenderung dipisahkan dalam cara pandang modern. Pendekatan tersebut mengkritik perspektif antroposentris yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan, sementara unsur nonmanusia hanya dianggap sebagai objek pasif.
Hal itu disampaikan Kepala Pusat Riset Kewilayahan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Fadjar Ibnu Thufail, dalam Forum Diskusi Budaya (FDB) seri ke-99 yang diselenggarakan Pusat Riset Masyarakat dan Budaya (PRMB) BRIN di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Menurut Fadjar, pendekatan more-than-human memandang manusia dan nonmanusia sebagai entitas yang saling membentuk kehidupan sosial dan ekologis.
“Prinsip dasar pendekatan more-than-human adalah bahwa human dan nonhuman merupakan dua entitas yang saling membentuk dunia dan cara hidup di dunia ini,” ujar Fadjar.
Ia menjelaskan, dunia sosial tidak hanya dibangun oleh interaksi antarmanusia, tetapi juga dipengaruhi berbagai unsur nonmanusia seperti hewan, tumbuhan, material alam, hingga unsur spiritual yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks Indonesia, relasi tersebut sebenarnya telah lama hidup dalam praktik budaya masyarakat. Fadjar mencontohkan komunitas maritim yang masih melibatkan unsur spiritual dalam aktivitas penangkapan ikan, seperti penggunaan jimat, keyakinan terhadap waktu kemunculan ikan, hingga kepercayaan mengenai spirit penjaga laut.
Menurutnya, pendekatan more-than-human bukan sepenuhnya konsep baru bagi masyarakat Indonesia. Perbedaannya terletak pada cara memahami unsur nonmanusia yang tidak lagi sekadar simbol budaya atau objek kepercayaan, melainkan bagian aktif yang turut membentuk kehidupan sosial dan ekologis.
“Yang membedakan adalah cara pendekatan ini memahami nonmanusia bukan hanya sebagai simbol budaya atau objek kepercayaan, melainkan sebagai bagian aktif yang ikut membentuk kehidupan sosial dan ekologis,” jelasnya.
Dalam forum bertajuk “Entangled Ecologies: Oral Traditions, Spirits, and the Sustainability of Mangrove Landscapes in the Southeast Seram Island, Indonesia” tersebut, Fadjar juga menyoroti pentingnya konsep sensibility atau kemampuan manusia untuk merasakan keberadaan dan kehidupan unsur nonmanusia.
“Salah satu kata kunci penting dalam more-than-human entanglement adalah sensibility, bagaimana kita sebagai manusia bisa merasakan kehidupan dari nonhuman entities,” ujarnya.
Ia menilai selama ini lingkungan lebih sering dipahami hanya sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan manusia. Padahal, unsur nonmanusia memiliki vitalitas dan agensi yang ikut memengaruhi kehidupan manusia.
Sebagai contoh, Fadjar menjelaskan ekosistem mangrove tidak seharusnya dipahami hanya sebagai objek konservasi semata. Menurutnya, mangrove merupakan bagian dari dunia hidup yang membentuk relasi sosial masyarakat pesisir.
Ia menyebut kawasan mangrove sebagai contact zone atau ruang pertemuan berbagai entitas, mulai dari manusia, tumbuhan, hewan, lumpur, air laut, spirit, hingga kebijakan konservasi negara.
“Social world itu bukan hanya sosial dalam konteks manusia, tetapi bagaimana sosial terbentuk antara manusia dengan nonmanusia,” jelasnya.
Melalui pendekatan tersebut, Fadjar menilai pemahaman tentang lingkungan perlu bergerak dari sekadar hubungan manusia dengan alam menuju keterhubungan yang lebih luas antarberbagai entitas yang bersama-sama membentuk kehidupan.
Pendekatan more-than-human juga dinilai relevan dalam menjawab tantangan krisis lingkungan dan perubahan iklim yang semakin kompleks. Dengan memahami bahwa manusia merupakan bagian dari jaringan kehidupan yang saling terhubung, kebijakan lingkungan dan pembangunan diharapkan dapat lebih mempertimbangkan keberlanjutan ekologi serta kearifan lokal masyarakat.
Forum Diskusi Budaya BRIN sendiri menjadi ruang dialog akademik untuk mempertemukan perspektif lintas disiplin dalam memahami isu kebudayaan, lingkungan, dan masyarakat kontemporer. Melalui forum tersebut, BRIN berharap muncul pendekatan-pendekatan baru yang lebih inklusif dalam membaca relasi manusia dengan lingkungan hidup di Indonesia.
Meta Deskripsi: BRIN menilai pendekatan more-than-human penting untuk memahami relasi manusia, alam, dan unsur nonmanusia.
