https://tk.tokopedia.com/ZShCCaaWK/
in ,

Riset Arkeologi dan Tradisi Nusantara Dinilai Berpotensi Besar Jadi Industri Kreatif Berbasis Budaya

Riset arkeologi, sastra, dan tradisi lisan dinilai berpotensi menjadi industri kreatif budaya yang edukatif dan berkelanjutan.

Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari situs arkeologi, manuskrip kuno, tradisi lisan, wastra, hingga praktik budaya masyarakat yang diwariskan turun-temurun. Selama ini, kekayaan tersebut lebih banyak dipahami sebagai warisan sejarah dan identitas bangsa. Namun kini, hasil riset di bidang arkeologi, bahasa, sastra, manuskrip, dan tradisi lisan mulai dipandang sebagai fondasi penting bagi pengembangan industri kreatif berbasis budaya yang edukatif dan berkelanjutan.

Riset arkeologi, sastra, dan tradisi lisan dinilai berpotensi menjadi industri kreatif budaya yang edukatif dan berkelanjutan.
Riset arkeologi, sastra, dan tradisi lisan dinilai berpotensi menjadi industri kreatif budaya yang edukatif dan berkelanjutan.

Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi BRIN Goes to Industry 4 bertema Pasar Festival Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) untuk Ekonomi Kreatif yang berlangsung di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Rabu (19/5/2026). Forum tersebut mempertemukan peneliti, pelaku industri kreatif, budayawan, hingga praktisi perfilman dan wellness untuk membahas peluang besar riset budaya dalam mendukung ekonomi kreatif nasional.

Diskusi dimoderatori Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN Wuri Handoko bersama Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN Sastri Sunarti. Sejumlah narasumber hadir dari berbagai bidang, antara lain produser film Tesadesrada Ryza, Direktur Museum Ullen Sentalu KRT Daniel Haryono Negoro, desainer dan pengamat budaya Samuel JD Wattimena, serta Sekretaris Jenderal Dewan Jamu Indonesia Fajar Prasetya.

Sekretaris Jenderal Dewan Jamu Indonesia Fajar Prasetya menilai Indonesia memiliki peluang sangat besar untuk menjadi pemain utama industri wellness dan gastronomi berbasis budaya. Menurutnya, kekayaan biodiversitas dan budaya Indonesia merupakan modal utama yang tidak dimiliki banyak negara lain.

Ia menyebut pasar global industri kuliner, wellness, dan herbal pada 2023 memiliki nilai yang sangat besar, mencapai sekitar 120 ribu triliun rupiah. Namun ironisnya, Indonesia dinilai belum memanfaatkan peluang tersebut secara optimal.

“Kita punya modal mega diversity dan mega culture. Kita punya sumber daya alam dan budaya yang luar biasa, tinggal diperkuat dari sisi riset dan storytelling berbasis eviden,” ujar Fajar.

Menurutnya, kolaborasi antara BRIN dan Dewan Jamu Indonesia menjadi langkah penting untuk memperkuat riset gastronomi, kesehatan preventif, serta narasi budaya yang dapat diterjemahkan menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tinggi.

Sementara itu, Wuri Handoko menjelaskan bahwa hasil riset Arbastra dapat menjadi fondasi dalam pengembangan destinasi wisata budaya berbasis pengetahuan. Ia menilai destinasi wisata tidak hanya dipandang sebagai ruang fisik, tetapi juga ruang pengetahuan yang menyimpan jejak sejarah, tradisi hidup, lanskap budaya, hingga praktik sosial masyarakat.

“Melalui riset dan inovasi, potensi tersebut dapat dibaca, didokumentasikan, dan dikembangkan menjadi pengalaman pariwisata berbasis budaya yang edukatif, relevan, dan berkelanjutan,” kata Wuri.

Menurutnya, berbagai hasil riset BRIN membuka peluang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata budaya di berbagai daerah. Salah satunya adalah eksplorasi kapal karam di Lagoi, Tanjung Pinang, yang dinilai memiliki potensi wisata bahari berbasis sejarah sekaligus pintu masuk memahami jalur perdagangan maritim Nusantara.

Selain itu, Situs Bongal di pesisir barat Sumatra memperlihatkan bagaimana kawasan pesisir menjadi simpul perdagangan dan pertukaran budaya sejak masa lampau. Di Kutai, keberadaan Batu Altar Jingtiu, makam Raja Datu Mahkota, dan makam Habib Tunggang Parangan juga dinilai berpotensi dikembangkan menjadi wisata religi dan sejarah berbasis kearifan lokal.

Tak hanya situs sejarah, tradisi hidup masyarakat juga dinilai memiliki nilai ekonomi kreatif yang besar. Tradisi cium hidung di Sumba, Dabus di Tidore, Magirik Bisu dan Matutu dalam budaya Bugis, Sirih Pinang di Papua, hingga pengolahan tradisional minyak kayu putih di Pulau Buru disebut sebagai pengalaman budaya autentik yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata.

“Pengalaman wisata dapat lahir dari praktik budaya yang masih dijalankan masyarakat,” jelas Wuri.

Pada masyarakat Dayak di Kalimantan Timur, berbagai benda budaya seperti gendongan bayi, kalender tradisional, tombak sumpit, hingga ragam hias rumah lamin panjang juga dinilai dapat menjadi media interpretasi wisata berbasis budaya.

Wuri menekankan bahwa riset memiliki peran penting dalam membangun narasi wisata yang utuh. Wisatawan tidak hanya diajak melihat objek budaya, tetapi juga memahami sejarah, fungsi, nilai, dan relevansinya bagi masyarakat masa kini.

“Dengan pendekatan ini, pariwisata tidak hanya menjadi aktivitas berkunjung, tetapi menjadi cara untuk merawat warisan, memperkuat identitas, dan membuka peluang ekonomi,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, desainer sekaligus pengamat budaya Samuel JD Wattimena menyoroti pentingnya menjaga identitas budaya, khususnya pada wastra batik Nusantara. Ia mengaku prihatin terhadap semakin kaburnya identitas motif batik daerah akibat perkembangan teknologi dan tuntutan pasar.

“Pembatik Solo sekarang bisa membuat motif Pekalongan, pembatik Pekalongan bisa membuat motif Jogja. Kebudayaan memang berkembang, tetapi identitas daerah jangan hilang,” katanya.

Samuel berharap BRIN dapat membantu mendokumentasikan identitas motif batik dari berbagai daerah sebagai bentuk perlindungan budaya sekaligus referensi industri kreatif.

Menanggapi hal tersebut, Sastri Sunarti menjelaskan bahwa BRIN telah melakukan pemetaan perkembangan batik berdasarkan periodisasi sejarah, pengaruh budaya asing, hingga indikator geografis. Ia mencontohkan batik Tanah Liek dari Sumatera Barat yang memiliki ciri khas motif tumbuhan laut dengan pewarna alami dari kulit jengkol serta simbol rumah gadang sebagai identitas budaya Minangkabau.

“Riset-riset seperti ini penting untuk memperkuat pengetahuan tentang identitas budaya dan menjadi dasar pengembangan industri kreatif berbasis tradisi,” jelas Sastri.

Sementara itu, produser film Tesadesrada Ryza menilai hasil riset budaya perlu diterjemahkan melalui strategi komunikasi dan audiovisual yang tepat agar mampu menjangkau audiens secara efektif. Menurutnya, perkembangan platform digital telah mengubah pola konsumsi masyarakat dari pasif menjadi interaktif.

“Kita harus tahu produk budaya ini ingin disampaikan kepada siapa dan lewat channel yang bagaimana, sehingga riset yang sudah mendalam tidak berhenti hanya pada produksi, tetapi benar-benar sampai kepada masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, riset pasar dan perilaku audiens juga penting agar kekayaan budaya Nusantara dapat berkembang menjadi konten kreatif yang memberi dampak sosial, budaya, sekaligus ekonomi secara berkelanjutan.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Mengungkap filosofi batik Jogja dari motif parang hingga sida luhur yang sarat makna budaya dan nilai kehidupan Jawa.

Batik Jogja: Jejak Peradaban, Simbol Kekuasaan, dan Nilai Kehidupan Jawa

BRIN menilai pendekatan more-than-human penting untuk memahami relasi manusia, alam, dan unsur nonmanusia.

BRIN Soroti Pendekatan More-Than-Human untuk Memahami Relasi Manusia dan Lingkungan