in

Batik Semarang dan Kisah Tan Kong Tien, Perusahaan Batik yang Bertahan hingga 1970-an

https://www.kompas.com/tag/golf-internasional
https://www.kompas.com/tag/golf-internasional

Sejarah Batik Semarang tidak hanya berkaitan dengan Kampung Batik di kawasan Bubakan, tetapi juga dengan perusahaan Tan Kong Tien Batikkerij di Kampung Bugangan. Usaha yang dimiliki keluarga keturunan Cina peranakan itu berkembang sejak awal abad ke-20 hingga sekitar 1970-an dan menjadi bagian penting dari perjalanan industri batik di Semarang.

Kisah perusahaan tersebut diulas Dewi Yuliati dalam penelitian “Mengungkap Sejarah dan Motif Batik Semarangan” yang diterbitkan jurnal Paramita pada Januari 2010. Penelitian itu menjelaskan bahwa usaha Tan Kong Tien tetap bertahan meskipun kegiatan membatik di Kampung Batik mengalami kemunduran akibat pembakaran pada masa perang.

Tan Kong Tien menikah dengan Raden Ayu Dinartiningsih, salah satu keturunan Hamengku Buwana III dari Kesultanan Yogyakarta. Menurut penelitian Yuliati, Tan Kong Tien memperoleh keahlian membatik dari istrinya yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Keraton Yogyakarta.

Keahlian membatik dan pengelolaan usaha tersebut kemudian diteruskan kepada putrinya, Raden Nganten Sri Murdijanti. Ia melanjutkan perusahaan keluarga hingga sekitar 1970-an. Setelah kemerdekaan Indonesia, Sri Murdijanti juga memperoleh hak monopoli batik untuk wilayah Jawa Tengah dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), sebagaimana dicatat dalam penelitian tersebut.

Mempekerjakan pembuat desain hingga tukang celup

Tan Kong Tien Batikkerij memiliki tenaga kerja dengan pembagian tugas yang berbeda. Carik bertanggung jawab membuat desain motif batik, pembatik mengerjakan proses membatik, sedangkan tukang celup menangani pencelupan warna.

Para pembatik perusahaan itu berasal dari sejumlah kampung di Semarang, antara lain Rejosari, Kintelan, Kampung Batik, Karang Doro, Mlaten Trenggulun, Kampung Darat, dan Layur.

Jaringan tenaga kerja tersebut memperlihatkan bahwa usaha batik tidak hanya melibatkan keluarga pemilik perusahaan, tetapi juga masyarakat dari berbagai kawasan kota.

Pada masa kolonial Belanda, pemesan produk batik berasal dari kalangan pejabat pemerintahan, turis, dan pedagang. Produk yang dibuat antara lain jarit atau nyamping, selendang, dasi, dan topi.

Dengan beragam jenis produk tersebut, batik menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang melayani kebutuhan konsumen dengan latar belakang berbeda.

Perpaduan budaya tercermin dalam motif

Menurut Yuliati, produk Tan Kong Tien Batikkerij memperlihatkan perpaduan motif batik pedalaman atau vorstenlanden dari Yogyakarta dan Surakarta dengan karakter batik pesisir.

Perpaduan ini berkaitan dengan latar keluarga Tan Kong Tien yang memiliki hubungan budaya dengan Semarang dan Yogyakarta. Letak geografis kedua wilayah juga memungkinkan terjadinya pertukaran dan adaptasi budaya.

Dari sisi warna, batik yang dibahas dalam penelitian tersebut lebih bervariasi dibandingkan batik Yogyakarta yang cenderung menggunakan warna kecokelatan atau sogan. Warna hijau, biru, ungu, dan merah menjadi bagian dari karakter batik pesisir yang muncul dalam produk perusahaan tersebut.

Tan Kong Tien Batikkerij akhirnya mengalami kemunduran sekitar 1970 karena tidak memiliki generasi penerus. Namun, catatan sejarah perusahaan ini menunjukkan bagaimana hubungan keluarga, keterampilan, tenaga kerja, pasar, dan pertukaran budaya ikut membentuk perjalanan Batik Semarang.

Dokumentasi sejarah seperti ini penting untuk memahami perkembangan batik lokal sekaligus menjadi bahan pembelajaran bagi pelaku usaha dan generasi penerus perajin.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Masjid Nurul Ibadah di Paser berdiri sejak 1851 dan menyimpan jam matahari serta arsitektur kayu yang mencerminkan sejarah Kesultanan Paser.

Cagar Budaya Masjid Nurul Ibadah Paser, Masjid Tua dengan Jam Matahari

Jambore Batik Jawa Barat 2026 menghadirkan 10 pasang finalis Duta Batik yang berebut gelar dan hadiah puluhan juta rupiah di Bandung.

Jambore Batik Jawa Barat 2026, 10 Pasang Finalis Berebut Gelar Duta Batik dan Hadiah Puluhan Juta Rupiah