in

Cagar Budaya Situs Trowulan, Jejak Kejayaan Majapahit di Mojokerto

Situs Trowulan di Mojokerto menyimpan peninggalan yang dikaitkan dengan Majapahit, termasuk Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu.
Situs Trowulan di Mojokerto menyimpan peninggalan yang dikaitkan dengan Majapahit, termasuk Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu.

Situs Trowulan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dikenal sebagai kawasan kepurbakalaan yang menyimpan sejumlah peninggalan yang dikaitkan dengan kejayaan Kerajaan Majapahit. Kawasan ini memiliki objek yang tersebar dan berjarak cukup berjauhan, sehingga pengunjung perlu merencanakan perjalanan untuk mendatangi beberapa titik sekaligus.

Ensiklopedia Cagar Budaya Indonesia terbitan Wonderland Family (2019) menyebut Situs Trowulan pertama kali ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada abad ke-19. Berbagai sumber yang dikutip dalam buku tersebut menghubungkan kawasan ini dengan Majapahit. Catatan perjalanan Cheng Ho dari Tiongkok dan kitab Negarakertagama karya Prapanca disebut sebagai sumber yang menegaskan keberadaan kerajaan tersebut.

Salah satu objek yang dikenal di kawasan ini adalah Candi Tikus. Nama tersebut, menurut cerita yang dicatat ensiklopedia, muncul karena ketika ditemukan lokasi candi menjadi sarang tikus. Setelah mengalami pemugaran, area candi tampak lebih bersih dan tertata. Candi Tikus diperkirakan berkaitan dengan tempat pemandian suci bagi anggota kerajaan, ditandai adanya kolam dan tangga menuju dasar kolam.

Bangunan Candi Tikus menggunakan bata merah yang disusun tanpa semen, sebuah karakter yang disebut membedakannya dari sejumlah candi di tempat lain. Struktur dan teknik penyusunan bata menjadi bagian penting untuk memahami keterampilan bangunan pada masa lalu. Karena itu, kunjungan ke situs ini tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, tetapi juga kesempatan mempelajari teknologi konstruksi tradisional.

Objek lain yang disebut dalam buku adalah Gapura Bajang Ratu, salah satu ciri khas Situs Trowulan. Ensiklopedia mencatat tinggi gapura tersebut sekitar 16,5 meter dan menyebut adanya cerita yang mengaitkannya dengan tempat suci untuk Raja Jayanegara. Beragam peninggalan di kawasan ini memperlihatkan bahwa situs tersebut perlu dipahami sebagai lanskap arkeologis, bukan sekadar satu bangunan tunggal.

Karena luasnya kawasan, pengunjung disarankan menggunakan kendaraan untuk menjangkau objek-objek yang letaknya berjauhan. Di sekitar situs juga terdapat kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk pedagang yang melayani wisatawan. Kondisi ini menunjukkan hubungan antara pelestarian warisan budaya dan aktivitas masyarakat setempat.

Menjaga Situs Trowulan memerlukan keseimbangan antara kunjungan publik, edukasi, kegiatan ekonomi, dan perlindungan tinggalan arkeologis. Pengunjung perlu menghindari tindakan yang merusak struktur atau meninggalkan sampah. Penyampaian informasi sejarah yang bertanggung jawab juga penting agar nilai kawasan sebagai jejak Majapahit tetap terjaga.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Kediri menggunakan teknik tulis, semi tulis, cap, dan printing, dengan pewarna alami maupun sintetis untuk menghasilkan beragam motif.

Batik Kediri Dikembangkan dengan Teknik Tulis, Cap, dan Pewarna Alami

Makam Tuanku Imam Bonjol menjadi pengingat perjuangan tokoh Perang Padri dan pentingnya menjaga situs sejarah sebagai ruang edukasi.

Cagar Budaya Makam Tuanku Imam Bonjol, Mengenang Tokoh Perjuangan Nasional