in

Tradisi Sadranan di Temanggung, Kearifan Lokal untuk Menjaga Leluhur dan Kelestarian Alam

Tradisi Sadranan di Kaloran, Temanggung, menjadi wujud syukur kepada leluhur dan alam melalui ritual di makam, sungai, dan sumber irigasi.
Tradisi Sadranan di Kaloran, Temanggung, menjadi wujud syukur kepada leluhur dan alam melalui ritual di makam, sungai, dan sumber irigasi.

Masyarakat Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, memiliki tradisi Sadranan yang menghubungkan penghormatan kepada leluhur dengan upaya menjaga kelestarian alam. Tradisi yang dilaksanakan secara turun-temurun ini diwujudkan melalui ritual selamatan atau genduri di makam, sungai, sumber mata air, dan saluran irigasi.

Praktik budaya tersebut didokumentasikan Suranto dalam tulisan berjudul Sadranan: Cara Manusia Memayuhayuning Bawono (Studi Lapangan di Wilayah Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah) yang dimuat dalam buku Tradisi dan Kebudayaan Nusantara. Kajian itu menguraikan bagaimana masyarakat setempat mengekspresikan rasa syukur sekaligus mempertahankan hubungan dengan lingkungan yang menopang kehidupan mereka.

Dalam kajian tersebut, Sadranan dipahami sebagai kearifan lokal untuk memelihara dan melestarikan alam. Istilah memayuhayuning bawono digunakan untuk menggambarkan upaya menjaga kelestarian alam semesta.

Tiga Bentuk Tradisi Sadranan

Suranto menguraikan tiga bentuk utama Sadranan di wilayah Kaloran, yakni Sadranan Kuburan, Sadranan Kali, dan Sadranan Dauang. Ketiganya memiliki lokasi, waktu pelaksanaan, dan penekanan makna yang berbeda.

Sadranan Kuburan dilaksanakan di makam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur. Masyarakat mengungkapkan rasa syukur atas keberadaan para pendahulu yang dipandang telah berperan dalam membangun kehidupan dan peradaban di wilayah mereka.

Sementara itu, Sadranan Kali dilaksanakan di sumber air yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk air untuk minum dan mandi. Tradisi ini menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus penghormatan terhadap sumber air sebagai penopang kehidupan.

Adapun Sadranan Dauang berkaitan dengan sumber air atau saluran irigasi yang mengairi sawah dan ladang. Tradisi ini memperlihatkan hubungan erat antara kebudayaan masyarakat agraris dengan ketersediaan air untuk pertanian.

Ketiga bentuk tersebut menunjukkan bahwa Sadranan tidak hanya berkaitan dengan ritual keagamaan atau penghormatan kepada leluhur. Tradisi ini juga merefleksikan kesadaran masyarakat mengenai ketergantungan mereka terhadap alam.

Sadranan Kuburan Dilaksanakan pada Bulan Ruwah

Dalam kajiannya, Suranto menjelaskan bahwa Sadranan Kuburan secara khusus dilakukan pada bulan Ruwah menurut penanggalan Jawa. Pada bulan tersebut, kegiatan Sadranan dilaksanakan masyarakat di sejumlah dusun di Kaloran, umumnya pada hari Jumat dengan pilihan pasaran yang berbeda-beda.

Dusun Depok, Mruwah, Kemiri, dan Kalimanggis, misalnya, memilih Jumat Pon pada bulan Ruwah. Sementara itu, beberapa dusun lain, seperti Mengor, Joho, Sembong, Gandon, Gembleb, Kedunggot, dan Tlogowungu, melaksanakan tradisi pada Jumat Kliwon di bulan yang sama.

Pelaksanaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi Sadranan memiliki variasi lokal di antara komunitas masyarakat Kaloran. Penentuan waktu pelaksanaan menjadi bagian dari kebiasaan yang diwariskan dan dipertahankan masyarakat setempat.

Secara umum, kegiatan Sadranan berlangsung pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB. Bentuk kegiatannya berupa selamatan atau genduri yang disertai doa bersama.

Sadranan Kali sebagai Bentuk Syukur atas Sumber Air

Berbeda dengan Sadranan Kuburan, Sadranan Kali berpusat pada sumber mata air yang digunakan masyarakat. Dalam tulisan Suranto, tradisi ini biasanya dilaksanakan pada bulan Mulud melalui kegiatan selamatan atau genduri di sumber air.

Sumber air memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat karena menunjang kebutuhan sehari-hari. Melalui Sadranan Kali, warga mengekspresikan rasa syukur atas keberadaan sumber air sekaligus menunjukkan penghormatan terhadap lingkungan yang menyediakan kebutuhan dasar tersebut.

Makna tradisi ini terletak pada hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Masyarakat tidak hanya menerima manfaat dari sumber air, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberlangsungannya.

Dengan demikian, Sadranan Kali menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang menghubungkan praktik budaya dengan kesadaran lingkungan.

Sadranan Dauang Berkaitan dengan Pertanian

Sadranan Dauang menjadi bentuk tradisi yang secara langsung berkaitan dengan pengelolaan air untuk pertanian. Menurut kajian Suranto, tradisi ini biasanya dilaksanakan setelah panen padi atau menjelang musim tanam. Dalam setahun, pelaksanaannya dapat dilakukan dua kali.

Rangkaian persiapannya mencakup kegiatan membersihkan saluran irigasi. Pembersihan biasanya dilakukan sekitar satu bulan sebelum ritual, termasuk pada Jumat pagi. Kegiatan ini dikenal sebagai susuk wangang, yakni membersihkan saluran dari lumpur, sampah daun, dan kayu yang dapat menghambat aliran air.

Selain membersihkan saluran, masyarakat juga memperbaiki bagian irigasi yang rusak atau longsor. Tanggung jawab tersebut melibatkan warga yang memiliki sawah atau ladang dan menggunakan aliran air dari saluran terkait.

Tahapan Sadranan Dauang mencakup persiapan, pembakaran ayam, pemasangan sesaji, penyuluhan pertanian, dan genduri. Sesaji yang digunakan antara lain hasil bumi, seperti pisang, mentimun, kelapa, buah-buahan, serta rempah-rempah. Bahan-bahan tersebut menjadi simbol hasil panen dan ungkapan rasa syukur masyarakat.

Tradisi ini juga memuat kegiatan penyuluhan pertanian mengenai cara bercocok tanam, pemilihan bibit padi, dan perawatan tanaman. Dalam kajian tersebut, kegiatan penyuluhan disebut sebagai bagian dari rangkaian Sadranan Dauang.

Kearifan Lokal yang Menjaga Hubungan Manusia dan Alam

Suranto menyimpulkan bahwa Sadranan menjadi wujud kesadaran kolektif masyarakat Kaloran mengenai hubungan manusia, leluhur, dan alam. Kesadaran tersebut dipertahankan melalui kebiasaan turun-temurun, meskipun tidak selalu didasarkan pada aturan tertulis.

Sadranan Kuburan menegaskan penghormatan kepada leluhur, Sadranan Kali mencerminkan rasa syukur atas sumber air, sedangkan Sadranan Dauang memperlihatkan tanggung jawab masyarakat terhadap sumber air pertanian.

Ketiganya menggambarkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga lingkungan. Bagi masyarakat yang kehidupannya bergantung pada pertanian dan sumber daya alam, tradisi menjadi salah satu cara untuk merawat kesadaran bersama mengenai pentingnya alam bagi keberlangsungan hidup.

Dokumentasi Sadranan di Kaloran, Temanggung, karena itu memberikan gambaran tentang kearifan lokal yang tidak hanya diwariskan sebagai ritual, tetapi juga dijalankan melalui praktik sosial yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan pemeliharaan lingkungan.

Sumber: Suranto, “Sadranan: Cara Manusia Memayuhayuning Bawono (Studi Lapangan di Wilayah Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah),” dalam Tradisi dan Kebudayaan Nusantara, hlm. 200–223.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

ARTOTEL Harmoni Jakarta resmi tampil dengan wajah baru, memadukan seni kontemporer, budaya Tionghoa-Peranakan, Kongsi Rasa, dan ARTSPACE.

ARTOTEL Harmoni Jakarta Tampil dengan Wajah Baru, Padukan Seni Kontemporer dan Budaya Tionghoa

Pelestarian budaya Nusantara membutuhkan peran generasi muda, edukasi wastra, dan upaya menjaga tradisi lokal sebagai identitas bangsa Indonesia. (Dok: Kompasiana)

Pelestarian Budaya Nusantara, Wastra dan Tradisi Lokal Perlu Diwariskan kepada Generasi Muda