in

Batik Sukoharjo Kembangkan Jamu Gendhong sebagai Identitas Motif Lokal

Batik Sukoharjo mengembangkan identitas lokal lewat motif jamu gendhong menampilkan mbok jamu, rinjing, gendhul, rempah, dan isen-isen khas.
Batik Sukoharjo mengembangkan identitas lokal lewat motif jamu gendhong menampilkan mbok jamu, rinjing, gendhul, rempah, dan isen-isen khas.

Kabupaten Sukoharjo mengembangkan identitas batiknya melalui motif jamu gendhong yang mengambil inspirasi dari tradisi penjualan jamu secara berkeliling. Motif tersebut menampilkan figur mbok jamu beserta perlengkapan seperti rinjing dan gendhul, serta berbagai unsur rempah yang menjadi bahan pembuatan jamu.

Pengembangan batik jamu gendhong dibahas dalam penelitian Danang Priyanto dan Septianti berjudul Batik Jamu Gendhong: Konsep Estetika sebagai Identitas Lokal Kabupaten Sukoharjo. Penelitian tersebut dimuat dalam DESKOVI: Art and Design Journal, Volume 8 Nomor 1, Juni 2025.

Penelitian menyebut Sukoharjo sebagai salah satu daerah induk batik dari wilayah Surakarta. Selain dikenal sebagai daerah produsen batik, Sukoharjo juga dikenal sebagai Kabupaten Jamu dengan tagline jamu gendhong.

Tradisi jamu gendhong berkembang di Kecamatan Nguter. Produksi jamu di wilayah tersebut berlangsung melalui industri rumahan maupun skala pabrik. Seiring perubahan zaman, cara menjajakan jamu juga mengalami perubahan. Penjual yang sebelumnya berjalan kaki sambil menggendong jamu mulai menggunakan sepeda onthel, sepeda motor hingga menjual produk secara menetap di outlet.

Perubahan tersebut tidak menghilangkan keberadaan jamu gendhong sebagai bagian dari identitas budaya Sukoharjo. Konsep tradisi tersebut justru direspons seniman batik dengan mengangkatnya menjadi sumber gagasan penciptaan motif.

Penelitian mencatat bahwa batik jamu gendhong menjadi variasi baru dalam khazanah batik Sukoharjo. Motif ini memiliki karakter berbeda dari pola batik klasik gaya Keraton Kasunanan yang umumnya menggunakan warna sogan dan pola geometris serta semen.

Secara visual, batik jamu gendhong menghadirkan figur mbok jamu dengan rinjing berisi gendhul jamu. Motif tersebut kemudian dilengkapi unsur pendukung seperti bunga dan buketan.

Struktur motifnya dibagi menjadi motif utama, motif pendukung dan isen-isen. Motif utama meliputi mbok jamu nggendong, mbok jamu ngladeni, empon-empon, rinjing dan gendhul. Penggambaran mbok jamu menampilkan dua aktivitas, yakni berjalan berkeliling menawarkan jamu dan melayani pelanggan.

Sementara itu, unsur pendukung berupa kembangan dan buketan digunakan untuk memperkuat tampilan visual. Isen-isen yang digunakan antara lain ceceg, kemukus, pari sawuli, truntum, lereng, naman pring dan sawut granitan.

Pengembangan motif tersebut dilakukan oleh sejumlah rumah batik di Sukoharjo, termasuk Batik Badut Bagus di Tawangsari dan Batik Adi Busana di Bekonang.

Penelitian menyimpulkan bahwa motif jamu gendhong telah menjadi salah satu ikon identitas daerah Kabupaten Sukoharjo. Pengembangan motif dilakukan dengan tetap mempertahankan unsur lokal sekaligus menyesuaikannya dengan perkembangan teknik dan selera masyarakat.

Sumber: Danang Priyanto & Septianti, DESKOVI: Art and Design Journal, Vol. 8 No. 1, Juni 2025.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Sukoharjo dari industri rumahan Bu Darsono di Bulakan mampu memproduksi hingga 200 kain mentahan per minggu untuk pasar Indonesia.

Batik Sukoharjo dari Bulakan Mampu Produksi 200 Kain per Minggu

Batik Jamu Gendong menjadi ikon batik Sukoharjo. Motifnya menampilkan mbok jamu, rinjing, gendhul, empon-empon, bunga, dan isen-isen daerah.

Batik Jamu Gendong Sukoharjo Tampilkan Sosok Mbok Jamu hingga Empon-empon