Batik Sukoharjo di wilayah Bulakan dikembangkan menggunakan limbah grajen atau serbuk kayu sebagai bahan pewarna alami. Pemanfaatan limbah dari lingkungan sentra industri mebel tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan batik yang diharapkan memiliki karakter khas Bulakan.
Informasi tersebut tercatat dalam penelitian Fify Fitriani dan Setyawan berjudul Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah, yang diterbitkan dalam Jurnal Rupa Volume 4 Nomor 1, Juni 2019. Penelitian tersebut menyebut Bulakan sebagai salah satu wilayah pengembangan batik limbah grajen di Sukoharjo.
Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa Sukoharjo mempunyai sejarah perkembangan batik yang cukup panjang. Wilayah ini menjadi salah satu daerah induk batik tulis di Surakarta. Perkembangan batik Sukoharjo disebut berkaitan dengan kemerosotan batik istana pada periode 1930-an hingga 1960-an.
Batik yang berkembang di Sukoharjo merupakan pengembangan pola keraton maupun pola pedesaan yang terinspirasi dari lingkungan sekitar. Kondisi masyarakat dan lingkungan kemudian turut memengaruhi perkembangan batik di masing-masing daerah.
Khusus di Bulakan, lingkungan industri mebel memberikan pengaruh terhadap perkembangan batik. Banyaknya limbah grajen atau serbuk kayu mendorong pengrajin memanfaatkannya sebagai bahan pewarna alami.
Menurut penelitian tersebut, pemanfaatan limbah grajen tidak hanya menghasilkan bahan pewarna untuk batik, tetapi juga menjadi cara memanfaatkan limbah yang berada di sekitar lingkungan pengrajin. Batik grajen kemudian dinilai memiliki peluang untuk menjadi ikon Bulakan maupun Kabupaten Sukoharjo.
Namun, penelitian menemukan persoalan lain pada sisi desain. Batik limbah grajen di Bulakan telah memiliki kekhasan dari penggunaan pewarna alami, tetapi desain motif yang digunakan masih banyak mengambil motif yang juga ditemukan di pasaran.
Pengrajin di Bulakan memiliki spesialisasi dalam pembuatan motif parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo. Motif tersebut telah lama dikerjakan oleh para pengrajin, tetapi belum sepenuhnya menunjukkan karakter visual yang membedakan batik Bulakan dari daerah lain.
Penelitian kemudian menawarkan pengembangan desain dengan menggabungkan motif yang telah dikuasai pengrajin dengan unsur lingkungan Bulakan, terutama kayu.
Konsep tersebut mempertahankan kebiasaan pembatik sekaligus memasukkan karakter lingkungan setempat. Kayu dipilih karena kehidupan masyarakat Bulakan memiliki keterkaitan erat dengan industri mebel. Jenis kayu yang banyak diproduksi di sentra mebel tersebut antara lain mahoni, mindi dan jati lawasan.
Pengembangan itu menghasilkan gagasan visual yang menggabungkan motif kawung dan kopi pecah dengan alur lingkaran tahun kayu. Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam desain Batik Grajen Kawung Kayu.
Penelitian menyimpulkan bahwa pengembangan motif perlu mempertimbangkan kearifan lokal agar batik limbah grajen dapat diproduksi secara berkelanjutan, diterima pengrajin, memiliki ciri khas dan menarik bagi konsumen.
Sumber informasi: Fify Fitriani & Setyawan, “Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah,” Jurnal Rupa Vol. 4 No. 1, Juni 2019.


