in

Batik vs Tiruan Batik: Cara Membedakannya dari Karakteristik Fisik Kain

Kenali perbedaan batik dan tiruan batik melalui tekstur, serat, permeabilitas udara, kekuatan kain, dan pengujian SEM.
Kenali perbedaan batik dan tiruan batik melalui tekstur, serat, permeabilitas udara, kekuatan kain, dan pengujian SEM.

Batik tidak hanya dikenal sebagai kain bermotif, tetapi memiliki proses pembuatan yang menjadi bagian penting dari karakter dan identitasnya. Berdasarkan SNI 0239:2014, batik merupakan kerajinan tangan dengan proses pewarnaan secara perintangan menggunakan malam panas dan alat utama berupa canting tulis atau canting cap untuk membentuk motif tertentu. Di pasaran, terdapat pula tekstil bermotif batik yang dibuat dengan teknologi penyablonan dan proses tekstil lainnya. Materi penelitian Masiswo, Joni Setiawan, Vivin Atika, dan Guring Briegel Mandegani dari Balai Besar Kerajinan dan Batik membahas cara membedakan keduanya melalui karakteristik fisik kain.

Dalam penelitian tersebut, tiruan batik berdasarkan SNI 8184:2015 mencakup produk yang dibuat secara manual, semi-masinal, atau masinal dengan screen-rakel maupun alat lain untuk melekatkan pewarna, bahan kimia cabut warna, dan malam dingin. Jenisnya meliputi sablon atau print warna, sablon malam dingin, sablon cabut warna, serta kombinasi sablon warna dan cabut warna. Teknologi tersebut memungkinkan produksi kain bermotif batik dalam waktu lebih cepat dan dengan biaya lebih efisien.

Penelitian menggunakan lima sampel kain katun dengan motif yang sama, yaitu kain polos sebagai kontrol, kain batik menggunakan malam, sablon warna, sablon cabut warna, dan sablon malam dingin. Karakteristik masing-masing kain kemudian dianalisis melalui tiga metode utama: permeabilitas udara, kekuatan tarik dan mulur, serta pengamatan menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM).

Hasil pengujian menunjukkan adanya perbedaan pada kemampuan kain dalam melewatkan udara. Nilai permeabilitas tertinggi terdapat pada print malam sebesar 135,9 cfm, disusul sablon 132,6 cfm, batik 115,2 cfm, cabut warna 95,1 cfm, dan kain polos 30,2 cfm. Penelitian mencatat bahwa perlakuan terhadap kain secara umum meningkatkan permeabilitas udara karena terjadi perubahan pada tetal kain.

Perbedaan juga terlihat pada kekuatan tarik. Kain katun primissima polos memiliki kekuatan tarik 124,9 N pada arah pakan dan 210 N pada arah lusi. Setelah melalui proses pembatikan dan pelorodan pada suhu 70–80°C, kekuatan tarik mengalami penurunan menjadi 63,1/109,2 N. Sebaliknya, beberapa proses tiruan batik menunjukkan peningkatan kekuatan tarik pada arah lusi, dengan sablon malam mencapai 276 N.

Pengamatan SEM memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai struktur permukaan kain. Pada pembesaran 500 kali, kain batik memperlihatkan lebih banyak serabut dan tekstur yang relatif mirip dengan kain yang menggunakan malam dingin. Pada pembesaran 1.000 kali, ditemukan dugaan sisa malam yang masih menempel pada serat kain meskipun telah melalui proses pelorodan. Sisa malam pada kain batik terlihat lebih kasar, sementara kain cabut warna memiliki serat yang lebih membulat, permukaan lebih halus, dan tampak lebih rapuh.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa membedakan batik dan tiruan batik tidak cukup hanya mengandalkan tampilan visual. Karakteristik fisik seperti daya tembus udara, kekuatan tarik dan mulur, serta morfologi serat dapat menjadi parameter pendukung. Penelitian ini juga menyarankan kajian lanjutan mengenai pengaruh setiap bahan pendukung terhadap mekanika kain.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Tulis Kebon Indah Klaten mempertahankan tradisi pewarna alam, motif lingkungan, dan produksi ramah lingkungan sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Batik Tulis Kebon Indah: Pewarna Alam, Motif Lokal, dan Ketahanan Tradisi