Batik Tulis Sukapura merupakan salah satu warisan budaya yang masih bertahan di Desa Janggala, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya. Keberadaannya menunjukkan bagaimana tradisi membatik dapat terus hidup melalui keterampilan pengrajin sekaligus beradaptasi dengan kebutuhan konsumen. Penelitian Siti Maria Ulfah dalam Realisasi: Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain mengungkap bahwa Batik Tulis Sukapura memiliki ciri khas yang diwariskan secara turun-temurun, tetapi motifnya tetap dapat dimodifikasi sesuai permintaan pasar.
Batik Sukapura merupakan bagian dari perkembangan batik Tasikmalaya yang berakar pada tradisi batik Priangan. Batik Tasikmalaya dikenal memiliki ragam motif flora dan fauna, seperti anggrek, burung, merak, kulit kayu, rereng, dan daun areuy. Motif-motif alam tersebut dalam penelitian dikaitkan dengan lingkungan Sunda dan kesadaran terhadap pentingnya kelestarian lingkungan.
Di tengah banyaknya usaha batik di Tasikmalaya, Desa Janggala menjadi salah satu lokasi yang masih mempertahankan ciri khas Sukapura. Penelitian tersebut mencatat bahwa di kawasan Tasikmalaya terdapat setidaknya 34 pengusaha batik yang mempekerjakan ratusan pembatik, meskipun hanya sebagian yang masih mempertahankan karakter Sukapura.
Keistimewaan Batik Tulis Sukapura terutama terletak pada proses pembuatannya yang dilakukan secara manual. Tahap awal dimulai dengan membuat sketsa di atas kertas, kemudian pola tersebut dijiplak ke kain. Setelah itu, pengrajin melakukan proses nyanting, yakni menorehkan malam menggunakan canting mengikuti pola yang telah dibuat. Tahap ini membutuhkan ketelitian tinggi karena malam dapat mengeras apabila tidak dialirkan dengan gerakan yang tepat.
Setelah pola selesai diberi malam, proses dilanjutkan dengan mengisi bagian-bagian tertentu, kemudian mencelupkan kain ke dalam pewarna. Penelitian menyebut Batik Tulis Sukapura yang diamati menggunakan pewarna sintetis, bukan pewarna alami. Untuk mendapatkan warna yang diinginkan, kain dapat melalui proses pencelupan dua hingga tiga kali. Tahap terakhir adalah ngalorod, yaitu melunturkan malam menggunakan air mendidih, kemudian kain dijemur hingga kering.
Salah satu karya yang dianalisis dalam penelitian adalah motif Naga. Motif tersebut memadukan unsur naga, flora, fauna, garis, titik, dan bentuk geometris. Naga dimaknai sebagai makhluk mitologi yang berkaitan dengan keberuntungan, kekuatan, kebesaran, dan keagungan. Perpaduan warna merah dan biru turut memperkuat karakter visual kain.
Penelitian juga menguraikan makna warna dan elemen visual pada motif Naga. Warna biru pada latar dikaitkan dengan kedamaian dan ketenangan, sedangkan warna merah marun pada unsur awan dikaitkan dengan keberanian, kekuatan, gairah, sinergi, dan kegembiraan. Unsur flora merepresentasikan keindahan dan keragaman tumbuhan di Tanah Sunda.
Dari sisi pemasaran, Batik Tulis Sukapura tidak terutama mengandalkan pasar tradisional. Produk dipasarkan melalui pameran yang dikelola pemerintah serta pesanan komersial dari perusahaan dan instansi. Konsumen juga dapat meminta motif atau sketsa tertentu. Meskipun harga yang relatif tinggi membuatnya lebih menyasar konsumen menengah ke atas, pengrajin tetap mengembangkan motif sesuai kebutuhan pelanggan.
Penelitian menyimpulkan bahwa Batik Tulis Sukapura masih mempertahankan proses tradisional, mulai dari pembuatan sketsa, menyanting, pencelupan dengan pewarna sintetis, hingga pengeringan. Kain yang digunakan antara lain mori atau katun. Seluruh proses membutuhkan keterampilan, ketekunan, dedikasi, dan ketelitian karena pengerjaannya dilakukan dengan tangan.
Sumber: Siti Maria Ulfah, Analisis Proses Pembuatan Batik Tulis Sukapura di Desa Janggala Kecamatan Sukaraja Kabupaten Tasikmalaya, Realisasi: Ilmu Pendidikan, Seni Rupa dan Desain, Vol. 1 No. 3, Juli 2024, hlm. 96–109.


