Batik Tulis Ismoyo Sragen merupakan salah satu gambaran bagaimana kerajinan batik dapat berkembang dari usaha keluarga menjadi kegiatan ekonomi sekaligus bagian dari pelestarian budaya. Perusahaan yang berada di Dukuh Butuh, Desa Gedongan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, ini dirintis oleh Marjiyanto bersama istrinya sejak 1997. Awalnya, kegiatan membatik dilakukan dalam skala kecil dengan motivasi utama memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Berkat keuletan dan ketekunan, usaha tersebut berkembang hingga pada 2005 Marjiyanto mendirikan perusahaan batik dengan nama Ismoyo, yang diambil dari salah satu tokoh wayang.
Batik sendiri memiliki kedudukan penting dalam kebudayaan Indonesia. Selain mempunyai nilai seni dan sejarah, batik juga memiliki nilai ekonomi karena menjadi sumber penghidupan bagi pengrajinnya dan membuka peluang usaha. Dalam konteks Sragen, Kecamatan Plupuh merupakan salah satu kawasan yang dikenal sebagai sentra pengrajin batik, bersama sejumlah desa seperti Gedongan, Jabung, dan Pungsari.
Produksi Batik Tulis Ismoyo menggunakan teknik batik tulis yang pada dasarnya sama dengan proses yang dilakukan pengrajin batik tulis lainnya. Tahapannya dimulai dari pembuatan desain, pemotongan kain, mola atau nyorek, pembatikan, ngisen-ngiseni, nyolet, ngeblok atau nemboki, pewarnaan, hingga pelorodan dan finishing. Bahan yang digunakan antara lain kain Primissima, dobi, sutera ATBM, malam atau lilin batik, pewarna Remazol, water glass, pigmen, dan kostik. Pemilik juga terlibat langsung dalam proses produksi tertentu untuk menjaga kualitas batik yang dihasilkan.
Produk yang dihasilkan terutama berupa pakaian siap pakai untuk laki-laki dan perempuan dewasa serta kain batik tulis dalam bentuk lembaran. Harga kain dipengaruhi oleh bahan dan tingkat kerumitan motif. Dalam penelitian tersebut, kain berbahan sutera ATBM berada pada kisaran Rp450.000 hingga Rp1.000.000, sementara kain berbahan dobi dan Primissima berada pada kisaran Rp125.000 hingga Rp300.000. Semakin sulit dan penuh motif yang dibuat, semakin tinggi pula harga produk.
Salah satu temuan penting penelitian adalah Batik Ismoyo belum memiliki ciri khas atau pakem motif yang secara khusus membedakannya dari batik tulis lain di Kabupaten Sragen. Identitas produk terutama dapat dikenali melalui merek yang terdapat pada produk. Pada masa penelitian, pemasaran difokuskan melalui tiga showroom di Thamrin City, Jakarta Pusat, yang dikelola oleh kedua putri Marjiyanto. Perusahaan juga masih menerima pesanan dari konsumen.
Keberadaan Batik Ismoyo memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar. Warga yang mayoritas bekerja sebagai petani dapat menjadikan membatik sebagai pekerjaan sampingan ketika tidak bekerja di sawah. Perusahaan juga memberikan kesempatan kepada siswa Sekolah Dasar Islam Terpadu Gemolong untuk belajar mengenai proses pembuatan batik tulis dan praktik membatik tanpa biaya.
Penelitian tersebut menyarankan penguatan identitas produk melalui penciptaan ciri khas, perlindungan hak merek, serta pengembangan pemasaran melalui media online. Rekomendasi tersebut menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha batik tidak hanya bergantung pada kemampuan produksi, tetapi juga pada kemampuan membangun identitas dan memperluas akses pasar.
Encus Dyah Ayoe Moerniwati


