Industri rumahan batik grajen milik Bu Darsono di Bulakan, Sukoharjo, dalam penelitian yang dilakukan pada 2019 disebut mampu memproduksi hingga 200 potong kain batik mentahan dalam satu minggu. Produk tersebut memiliki pembeli dari sejumlah daerah, termasuk Surakarta, Jakarta dan Bali.
Data tersebut tercatat dalam penelitian Fify Fitriani dan Setyawan berjudul Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah, yang diterbitkan dalam Jurnal Rupa Volume 4 Nomor 1, Juni 2019.
Sebagian kain yang diproduksi dijual dalam kondisi mentahan kepada industri batik lain. Sebagian lainnya diproses lebih lanjut menggunakan pewarna alami yang berasal dari limbah grajen.
Batik yang diproduksi menggunakan teknik batik tulis dan pewarna alami. Kondisi tersebut membuat produk diarahkan kepada konsumen menengah hingga menengah atas berdasarkan penelitian yang dilakukan.
Produk batik Bu Darsono pada saat penelitian umumnya dijual dalam bentuk lembaran kain jarik. Dengan bentuk produk tersebut, pasar dapat mencakup berbagai kelompok usia dan gender.
Dari sisi harga, penelitian menjelaskan bahwa batik limbah grajen memiliki harga yang relatif tinggi karena menggunakan teknik batik tulis serta pewarna alami berbahan limbah kayu.
Produk tersebut juga memiliki perbedaan warna antara satu kain dan kain lainnya. Perbedaan tersebut berkaitan dengan bahan limbah kayu yang digunakan untuk proses pewarnaan.
Namun, aspek desain menjadi salah satu persoalan yang dibahas dalam penelitian.
Motif yang digunakan pengrajin Bulakan banyak berupa motif geometris, termasuk parang dan kawung. Motif tersebut sudah menjadi bagian dari keterampilan pengrajin, bahkan beberapa pembatik dapat membuat motif parang dan kawung secara langsung tanpa membuat pola menggunakan pensil terlebih dahulu.
Persoalan muncul pada ukuran dan ketepatan pola. Penelitian menyebut sebagian kain memiliki motif yang terlalu besar sehingga sulit dimanfaatkan menjadi pakaian. Ketika dipotong untuk pakaian, motif tidak selalu terlihat secara utuh.
Selain itu, pola geometris yang dibuat tanpa penghitungan ukuran menyebabkan bagian tertentu memiliki ukuran motif yang berbeda. Kondisi tersebut dapat menyulitkan penyambungan motif saat kain digunakan sebagai bahan pakaian.
Bu Darsono dalam penelitian juga menyampaikan keinginan agar motif batik yang diproduksi dapat berkembang. Pengembangan desain diharapkan membuat pemanfaatan kain lebih luas dan meningkatkan minat terhadap produk.
Penelitian kemudian mengembangkan rancangan yang menggabungkan motif lama dengan karakter lingkungan Bulakan. Salah satu hasilnya adalah desain Batik Grajen Kawung Kayu yang menggabungkan kawung, kopi pecah dan alur lingkaran tahun kayu.
Pengembangan desain tersebut tidak sepenuhnya meninggalkan motif yang telah dikuasai pengrajin. Pendekatan itu dipilih agar rancangan baru tetap dapat diproduksi dengan kemampuan yang dimiliki pembatik.
Penelitian menyebut pengembangan desain batik limbah grajen perlu memperhatikan kearifan lokal, kemampuan produksi pengrajin, karakter lingkungan serta kebutuhan konsumen. Dengan pendekatan tersebut, motif diharapkan dapat menjadi ciri khas batik limbah grajen Bulakan.
Sumber informasi: Fify Fitriani & Setyawan, “Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah,” Jurnal Rupa Vol. 4 No. 1, Juni 2019, khususnya data industri rumahan Batik Grajen Bu Darsono.

