Pengembangan motif batik Sukoharjo di Bulakan dilakukan dengan menggabungkan motif kawung dan kopi pecah dengan visual lingkaran tahun kayu. Pengembangan tersebut menghasilkan rancangan yang disebut Batik Grajen Kawung Kayu.
Rancangan tersebut merupakan bagian dari penelitian Fify Fitriani dan Setyawan berjudul Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah. Penelitian diterbitkan dalam Jurnal Rupa Volume 4 Nomor 1, Juni 2019.
Penelitian berangkat dari kondisi batik di Bulakan yang telah memiliki sejumlah motif yang menjadi spesialisasi pengrajin, antara lain parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo. Namun, motif-motif tersebut banyak ditemukan di pasaran sehingga dinilai belum sepenuhnya menunjukkan ciri khas Bulakan.
Di sisi lain, Bulakan memiliki karakter lingkungan yang berkaitan erat dengan industri mebel. Kayu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat. Penelitian menyebut jenis kayu yang banyak diproduksi di sentra mebel Bulakan antara lain mahoni, mindi dan jati lawasan.
Karakter alur kayu kemudian dijadikan sumber ide visual. Lingkaran tahun kayu dipandang memiliki bentuk yang menarik dan berbeda-beda tergantung dari sisi kayu yang dilihat.
Konsep desain selanjutnya memadukan unsur yang telah lama dikerjakan pengrajin dengan karakter lingkungan Bulakan. Unsur visual parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo tetap dipertahankan, sementara garis-garis yang menyerupai lingkaran tahun kayu ditambahkan sebagai elemen pembeda.
Penelitian menyebut penggabungan tersebut diharapkan menghasilkan desain yang mempunyai diferensiasi produk sekaligus tetap dapat diproduksi oleh pengrajin.
Dalam proses pengembangan visual, tiga unsur utama dipilih, yaitu Kawung, Kopi Pecah dan Lingkaran Tahun Kayu.
Motif kawung dipilih karena sudah menjadi salah satu motif yang dikerjakan pengrajin Bulakan. Namun, penelitian menemukan persoalan pada desain kawung yang terlalu polos serta ukuran motif yang terlalu besar.
Kondisi tersebut dinilai menimbulkan persoalan ketika kain digunakan untuk fungsi selain kain batik, terutama pakaian. Karena itu, motif kawung kemudian dikembangkan dengan menambahkan unsur lain.
Kopi pecah menjadi salah satu unsur yang dipadukan. Sementara itu, alur lingkaran tahun kayu dimasukkan untuk menghubungkan desain dengan karakter lingkungan Bulakan dan industri mebelnya.
Hasil pengembangan tersebut menggunakan jarak antarmotif kawung sekitar 20 sentimeter. Penelitian juga mencatat bahwa proses pewarnaan rancangan menggunakan bahan alami dan tidak menggunakan pewarna sintetis.
Pengrajin yang terlibat dalam penelitian menerima usulan desain tersebut dan tidak memberikan komentar mengenai kekurangan desain.
Rancangan kemudian diuji melalui proses produksi batik. Hasil akhirnya menjadi salah satu contoh pengembangan desain yang mencoba menghubungkan motif batik yang sudah dikenal pengrajin dengan unsur lingkungan lokal.
Penelitian menyimpulkan bahwa pengembangan motif batik limbah grajen perlu mempertimbangkan kearifan lokal agar desain dapat diproduksi secara berkelanjutan, diterima pengrajin, sekaligus menjadi ciri khas batik limbah grajen Bulakan.
Sumber informasi: Fify Fitriani & Setyawan, “Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah,” Jurnal Rupa Vol. 4 No. 1, Juni 2019.


