in

Teknik Batik Sukoharjo: Pewarna Grajen Diekstrak hingga Dua Hari

Teknik batik Sukoharjo di Bulakan menggunakan pewarna dari limbah grajen yang melalui perendaman dan perebusan hingga dua hari.
Teknik batik Sukoharjo di Bulakan menggunakan pewarna dari limbah grajen yang melalui perendaman dan perebusan hingga dua hari.

Teknik batik Sukoharjo di Bulakan memiliki tahapan khusus dalam pengolahan pewarna alami berbahan limbah grajen atau serbuk kayu. Proses ekstraksi warna dari limbah kayu dapat berlangsung hingga dua hari karena bahan kayu yang digunakan sebelumnya telah melalui proses pengovenan.

Temuan tersebut dicatat dalam penelitian Fify Fitriani dan Setyawan mengenai pengembangan desain batik limbah grajen di Bulakan Sukoharjo. Penelitian tersebut diterbitkan dalam Jurnal Rupa Volume 4 Nomor 1, Juni 2019.

Batik limbah grajen dibuat menggunakan teknik batik tulis. Pewarnanya berasal dari serbuk kayu yang banyak ditemukan di sekitar lingkungan pengrajin batik di Desa Bulakan, Sukoharjo.

Penggunaan limbah kayu tersebut berkaitan dengan kondisi Bulakan sebagai wilayah yang memiliki aktivitas industri mebel. Banyaknya serbuk kayu kemudian dimanfaatkan oleh pengrajin sebagai bahan pewarna alami.

Dalam prosesnya, limbah grajen terlebih dahulu direndam menggunakan air selama sekitar satu hari. Setelah itu, grajen dan air direbus selama satu hari hingga kadar air berkurang. Secara keseluruhan, proses ekstraksi warna dapat mencapai sekitar dua hari.

Serbuk grajen yang sudah tidak mampu lagi mengeluarkan warna akan berubah menjadi kehitaman seperti kayu yang dibakar. Jika warna yang diperoleh dianggap belum cukup pekat, serbuk grajen baru dapat ditambahkan, sementara serbuk lama dikeluarkan.

Setelah pewarna tersedia, kain memasuki proses pemordanan atau yang oleh masyarakat Bulakan disebut kloyor. Kain direbus menggunakan tawas selama sekitar satu jam, kemudian didiamkan selama 24 jam.

Proses tersebut berfungsi membuka serat kain dan membersihkannya sehingga kain lebih mudah menyerap warna dalam proses pewarnaan alami.

Tahap berikutnya adalah pencorekan, yakni menggambar pola kain menggunakan pensil. Setelah pola selesai, proses pembatikan dilakukan.

Karena menggunakan teknik tutup celup, proses pembatikan dapat dilakukan berulang kali. Jumlah pembatikan bergantung pada jumlah warna yang hendak digunakan. Semakin banyak warna yang digunakan, semakin banyak pula proses pembatikan yang dilakukan.

Pada tahap pewarnaan pertama, penelitian mencatat penggunaan limbah grajen kayu mahoni dengan fiksator kapur. Setelah itu dilakukan proses nemboki, yakni menutup bagian tertentu yang ingin dipertahankan warnanya.

Tahap berikutnya adalah pencelupan menggunakan pewarna limbah grajen mahoni dengan fiksator tunjung. Pencelupan pada tahap tersebut dilakukan dengan jumlah yang berbeda agar warna yang dihasilkan tidak sepekat warna pada tahap akhir.

Tahap terakhir kembali dilakukan proses nemboki pada bagian yang ingin dipertahankan, kemudian kain dicelup menggunakan pewarna limbah grajen kayu mahoni dan fiksator tunjung.

Setelah seluruh tahapan pewarnaan selesai, proses pembuatan kain batik ditutup dengan penglorodan.

Penelitian juga mencatat bahwa kekuatan warna hasil ekstraksi dapat berbeda-beda. Kondisi tersebut menyebabkan hasil warna antara satu kain batik dan kain lainnya tidak selalu sama.

Teknik tersebut menjadi salah satu karakter penting batik grajen Bulakan karena bahan pewarnanya berasal dari limbah serbuk kayu yang tersedia di lingkungan pengrajin.Sumber informasi: Fify Fitriani & Setyawan, “Pengembangan Desain Batik Limbah Grajen di Bulakan Sukoharjo, Jawa Tengah,” Jurnal Rupa Vol. 4 No. 1, Juni 2019.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Motif batik Sukoharjo di Bulakan berkembang dari parang, kawung, kopi pecah dan tirtotejo, tetapi desainnya dinilai perlu diperkuat.

Motif Batik Sukoharjo di Bulakan Didominasi Parang, Kawung hingga Kopi Pecah

Motif batik Sukoharjo di Bulakan dikembangkan melalui perpaduan kawung, kopi pecah dan lingkaran tahun kayu menjadi Batik Grajen Kawung Kayu.

Motif Batik Sukoharjo Dikembangkan Menjadi Batik Grajen Kawung Kayu