Pengembangan batik jamu gendhong di Kabupaten Sukoharjo berlangsung di sejumlah sentra batik, antara lain Bekonang dan Tawangsari. Dua wilayah tersebut menjadi bagian dari perkembangan motif yang mengangkat jamu gendhong sebagai identitas lokal.
Penelitian Danang Priyanto dan Septianti menyebut Kabupaten Sukoharjo sebagai salah satu daerah induk batik dari wilayah Surakarta. Dua pusat produksi batik tulis yang dikenal berada di Kedunggudel dan Bekonang.
Dalam perkembangan batik jamu gendhong, penelitian secara khusus membahas dua rumah batik, yakni Batik Badut Bagus di Tangkisan, Tawangsari, dan Batik Adi Busana di Bekonang.
Batik Badut Bagus disebut sebagai salah satu industri batik yang memproduksi batik jamu gendhong. Produk tersebut menampilkan figur mbok jamu yang menggendong rinjing berisi gendhul jamu.
Selain figur manusia, komposisi motif dilengkapi buketan, kembangan dan berbagai isen-isen. Motif utama terdiri atas mbok jamu nggendong, mbok jamu ngladeni, empon-empon, rinjing dan gendhul.
Menurut penelitian, Batik Badut Bagus dikelola oleh Rusmanto. Ia mulai mempelajari batik sekitar 1980, mulai dari pembuatan gambar pola motif dan pewarnaan hingga membangun relasi dengan sejumlah desa batik seperti Girilayu Karanganyar, Kliwonan Sragen dan Jarum Klaten.
Produk batik dari rumah tersebut disebut memiliki tingkat harga Rp1,2 juta hingga Rp2,5 juta, tergantung kehalusan dan tingkat kerumitan produk.
Dalam proses produksinya, Batik Badut Bagus menggunakan material malam yang diracik sendiri. Proses pewarnaan menggunakan metode colet bolak-balik dengan obat warna produksi Jepang. Sementara proses pelorodan menggunakan tepung kanji yang dicairkan.
Rumah batik lainnya adalah Batik Adi Busana di Bekonang. Rumah batik tersebut disebut sebagai salah satu pionir dan merek batik unggulan di wilayah Bekonang. Usahanya dirintis sejak 1958 oleh orang tua Harsono yang kemudian meneruskan pengelolaannya.
Bekonang sebelumnya dikenal sebagai sentra batik. Pada periode 1968–1970-an, produksi batik di kawasan tersebut masih didominasi batik tulis dengan hasil batikan yang halus. Perkembangan kemudian ditandai dengan munculnya teknik sablon atau print.
Batik jamu gendhong juga pernah diproduksi menggunakan teknik print untuk kebutuhan seragam aparatur sipil negara dan siswa sekolah. Selain itu, Batik Adi Busana pernah menggunakan pewarna alam dari bakau untuk batik jamu gendhong.
Dalam pemanfaatan pewarna nabati bakau, digunakan tawas dan tunjung sebagai bahan fiksasi untuk menghasilkan karakter warna yang lebih pekat atau cerah sesuai kebutuhan konsumen.
Pengembangan motif jamu gendhong tidak berhenti pada aspek produksi. Pemerintah Kabupaten Sukoharjo juga pernah mengadakan kompetisi perancangan motif batik dengan konsep ikon jamu gendhong pada awal 1990-an.
Dalam penelitian tersebut, keberadaan Batik Badut Bagus dan Batik Adi Busana disebut memiliki peran dalam pengembangan dan publikasi motif jamu gendhong kepada masyarakat luas.
Pengembangan motif kemudian memadukan mbok jamu sebagai motif utama dengan unsur empon-empon, rinjing, gendhul, buketan, kembangan serta isen-isen. Teknik coletan khas pesisiran juga dikombinasikan dengan warna sogan yang menjadi karakter batik klasik gaya Surakarta.
Sumber: Danang Priyanto & Septianti, DESKOVI: Art and Design Journal, Vol. 8 No. 1, Juni 2025.

