Batik Semen Ramawijaya memuat ajaran budaya Jawa mengenai karakter seorang pemimpin melalui simbol-simbol yang terdapat dalam susunan motifnya. Ajaran tersebut dikenal sebagai Hasta-Brata.
Dalam kajian Dharsono mengenai batik klasik, pohon hayat pada Semen Rama melambangkan sifat darma, yaitu memberi perlindungan dan kehidupan dunia. Pandangan tersebut kemudian dikaitkan dengan ajaran budaya Jawa yang disebut Hasta-Brata.
Hasta-Brata mengandung falsafah mengenai tujuan dan pandangan hidup seorang pemimpin yang bijaksana. Pemimpin dalam konsep tersebut diharapkan mengutamakan kepentingan jagat atau negara di atas kepentingan pribadi.
Dalam Batik Semen Ramawijaya, ajaran tersebut digambarkan melalui delapan motif utama ditambah satu motif. Delapan motif melambangkan delapan sifat atau watak seorang pemimpin sejati, sedangkan satu motif menjadi lambang raja atau pemimpin mikrokosmos.
Delapan simbol tersebut terdiri atas Indra Brata, Surya Brata, Bayu Brata, Kuwera Brata, Baruna Brata, Agni Brata, Yama Brata, dan Sasi Brata. Masing-masing dikaitkan dengan simbol motif tertentu.
Indra Brata disimbolkan melalui pohon hayat dan berkaitan dengan sifat langit atau darma. Surya Brata menggunakan simbol garuda dan dikaitkan dengan sifat matahari.
Bayu Brata menggunakan simbol burung yang dikaitkan dengan sifat angin. Kuwera Brata menggunakan pusaka dengan sifat bintang.
Selanjutnya, Baruna Brata menggunakan simbol baito atau kapal. Agni Brata menggunakan lidah api yang dikaitkan dengan sifat api. Yama Brata menggunakan tanah atau meru, sedangkan Sasi Brata menggunakan binatang darat yang dikaitkan dengan sifat bulan.
Motif kesembilan adalah dampar. Motif tersebut melambangkan subjek Hasta-Brata, yaitu raja sebagai pemimpin atau penguasa.
Susunan simbol tersebut menunjukkan bahwa batik klasik dapat memuat ajaran mengenai kehidupan sosial dan kepemimpinan. Pesan tersebut tidak disampaikan melalui teks panjang, tetapi melalui simbol visual yang ditempatkan dalam struktur motif.
Dalam pandangan Dharsono, batik klasik bukan hanya karya keindahan. Motif dan pola juga menjadi tuntunan atau ajaran yang tersirat di dalam karya.
Karena itu, memahami batik klasik tidak cukup hanya dengan melihat bentuk motif. Pembacaan terhadap simbol juga diperlukan untuk memahami gagasan yang terkandung di dalamnya.
Semen Ramawijaya menjadi salah satu contoh bagaimana hubungan antara estetika dan filosofi dapat berjalan bersamaan. Keindahan visual menjadi bagian dari sistem simbol yang menyampaikan gagasan mengenai kepemimpinan.
Materi tersebut memperlihatkan bahwa batik klasik merupakan bagian dari sistem budaya yang menghubungkan seni, filsafat, kehidupan sosial, dan pandangan masyarakat terhadap manusia serta lingkungan.


