in

Batik Jarak Wulung Dikembangkan sebagai Pewarna Alami dan Motif Selendang

Batik jarak wulung dikembangkan sebagai pewarna alami dan sumber motif selendang dengan teknik batik tulis serta ecoprint yang unik modern.
Batik jarak wulung dikembangkan sebagai pewarna alami dan sumber motif selendang dengan teknik batik tulis serta ecoprint yang unik modern.

Daun jarak wulung menjadi salah satu tanaman yang dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami sekaligus inspirasi motif dalam perancangan selendang berbasis batik dan ecoprint. Tanaman tersebut digunakan bersama daun jati dan marenggo untuk menghasilkan variasi warna serta bentuk pada permukaan kain.

Pemanfaatan jarak wulung tersebut merupakan bagian dari karya perancangan Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti dari Program Studi Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Artikel hasil perancangan diterbitkan dalam SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1.

Dalam perancangan, tanaman di sekitar hunian dieksplorasi untuk mengetahui potensinya sebagai pewarna alami. Daun jati, jarak wulung dan marenggo dinilai berpotensi menjadi sumber warna. Warna yang dihasilkan kemudian dipengaruhi jenis fiksator dan takaran yang digunakan. Fiksator yang dibahas antara lain tawas, tunjung, kapur serta zat asam seperti jeruk nipis, cuka dan belimbing wuluh.

Jarak wulung mendapatkan posisi penting dalam desain kedua yang diberi nama Danakirti. Nama tersebut berasal dari bahasa Sanskerta dan berarti “kemasyhuran”.

Dalam desain Danakirti, unsur tanaman jarak wulung berupa daun, buah dan bunga ditempatkan sebagai motif utama. Motif pendukung terdiri atas daun marenggo dan buah pohon jati yang terbelah. Perancangan tersebut juga menggunakan isen-isen cecek pitu.

Visual tanaman dalam desain Danakirti diolah melalui penggayaan stilasi. Cecek pitu pada latar desain disusun menyerupai pointilis yang menyebar. Dalam konsep perancangannya, susunan tersebut mengibaratkan menebarkan kasih kepada sesama.

Pada proses produksinya, kain katun sutera terlebih dahulu dicuci menggunakan TRO dan menjalani proses mordanting. Tawas digunakan sebanyak 25 gram dalam 5 liter air. Proses perebusan dilakukan selama 60 menit pada temperatur 80 derajat Celsius.

Pewarnaan pertama menggunakan daun marenggo untuk menghasilkan warna pink muda. Setelah lima kali pencelupan dan fiksasi tawas, kain menjalani proses molani dan pembatikan. Bagian tertentu kemudian ditutup dengan malam untuk mengatur area pewarnaan berikutnya.

Daun jarak wulung digunakan pada tahap pewarnaan kedua untuk menghasilkan warna cokelat. Proses pencelupan dilakukan lima kali, masing-masing selama 30 menit, dengan fiksasi menggunakan kapur. Setelah itu, kain menjalani proses pelorodan untuk menghilangkan malam. Tahap terakhir menggunakan teknik ecoprint pounding pada bagian motif tertentu.

Dalam uji coba pewarnaan, jarak wulung digunakan dengan fiksasi kapur. Pengujian mencakup pencelupan sebanyak lima kali serta pengamatan hasil setelah pelorodan, baik tanpa maupun dengan soda ash.

Perancangan tersebut menunjukkan bahwa jarak wulung dapat ditempatkan dalam dua fungsi sekaligus: sebagai sumber pewarna alami dan sebagai inspirasi bentuk motif. Bersama daun jati dan marenggo, tanaman tersebut menjadi bagian dari eksplorasi tekstil yang menggabungkan teknik batik dengan ecoprint.

Sumber informasi: Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti, “Pemanfaatan Daun Jati, Daun Jarak Wulung dan Daun Marenggo sebagai Ide Penciptaan Warna dan Motif Selendang”, SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1 (2022), hlm. 28–40. DOI 10.34001/jsuluh.v5i1.3247. (Unisnu E-Journal)

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Batik Semen Ramawijaya memuat ajaran Hasta-Brata melalui delapan motif utama dan satu simbol pemimpin atau raja.

Batik Semen Ramawijaya Menggambarkan Ajaran Hasta-Brata

Batik marenggo dimanfaatkan sebagai sumber warna dan motif selendang melalui teknik pewarnaan alami, batik tulis, dan ecoprint yang menarik.

Batik Marenggo Dimanfaatkan sebagai Sumber Warna dan Motif Selendang