in

Batik Semen Ramawijaya Memuat Filosofi Triloka dan Konsep Mandala

Meta deskripsi: Batik Semen Ramawijaya memuat konsep Triloka dan Mandala melalui pohon hayat, garuda, bangunan, serta motif pendukung.
Meta deskripsi: Batik Semen Ramawijaya memuat konsep Triloka dan Mandala melalui pohon hayat, garuda, bangunan, serta motif pendukung.

Batik Semen Ramawijaya tidak hanya menampilkan susunan motif untuk menghasilkan keindahan visual. Dalam kajian Dharsono, pola tersebut menjadi salah satu contoh penerapan konsep Tribuana atau Triloka dan Mandala dalam batik klasik.

Materi Batik Klasik: Aspek, Fungsi, Filosofis dan Estetika Batik dalam Pandangan Budaya Nusantara menjelaskan bahwa pandangan filsafat Jawa melihat hubungan antara mikrokosmos, metakosmos, dan makrokosmos. Konsep tersebut berkaitan dengan Tri-loka atau Tribuana.

Meta deskripsi:
Batik Semen Ramawijaya memuat konsep Triloka dan Mandala melalui pohon hayat, garuda, bangunan, serta motif pendukung.

Manusia ditempatkan sebagai bagian dari semesta dan diharapkan menyadari tempat serta kedudukannya di dalam jagad raya.

Dalam konsep tersebut terdapat tiga alam. Alam Niskala merupakan alam yang tidak tampak dan tidak terindra. Alam Sakala Niskala merupakan alam wadag dan tidak wadag yang sebagian dapat diindra dan sebagian tidak. Sementara Alam Sakala merupakan alam wadag atau dunia yang dapat diindra.

Konsep lain yang berkaitan adalah Mandala. Mandala dipahami sebagai hubungan interaksi yang membentuk satu kesatuan dan keseimbangan kosmos.

Lingkaran Mandala melambangkan kesempurnaan, keutuhan, kelengkapan, kegenapan semesta, keteraturan, ketertiban, dan harmoni.

Batik Semen Ramawijaya menjadi salah satu contoh penerapan konsep tersebut. Motif utama yang ditampilkan antara lain pohon hayat, garuda, bangunan, dan binatang darat, bersama motif pendukung lainnya.

Pohon hayat mempunyai posisi penting dalam susunan motif. Dalam materi, pohon hayat dipandang sebagai gambaran jagat tengah, yaitu alam penghubung antara alam bawah dan alam atas.

Melalui jagat tengah tersebut, hubungan antara Alam Sakala dan Alam Niskala dapat dibentuk.

Secara filosofis, susunan Semen Ramawijaya menggambarkan hubungan alam bawah, alam tengah, dan alam atas yang membentuk keseimbangan, keselarasan, dan kesatuan.

Dalam konsep Mandala, susunan Batik Semen Rama termasuk tipe Centering. Delapan motif utama seolah mengelilingi pohon hayat yang menjadi pusat.

Delapan motif tersebut membentuk keseimbangan, keselarasan, dan kesatuan sekaligus memberikan kekuatan atau energi secara sentral kepada motif pohon hayat.

Kajian tersebut menunjukkan bahwa motif batik klasik dapat dibaca sebagai sistem simbol. Bentuk visual yang terdapat di dalam kain tidak berdiri sendiri, tetapi berkaitan dengan pandangan tentang manusia, alam, dan hubungan manusia dengan kehidupan.

Batik klasik dalam konteks ini memiliki fungsi yang lebih luas daripada keindahan. Materi menyebut batik sebagai karya keindahan sekaligus ajaran atau tuntunan yang dilukiskan melalui motif dan pola.

Dengan demikian, Semen Ramawijaya menjadi contoh bagaimana konsep kosmologi Jawa dapat diterjemahkan ke dalam bahasa visual batik. Motif, posisi, dan susunannya menjadi bagian dari penyampaian gagasan mengenai keseimbangan dan hubungan antara manusia dengan alam semesta.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Penelitian menunjukkan batik tidak hanya menjadi karya seni, tetapi juga media komunikasi budaya melalui simbol, gambar, dan makna motif.

Batik Jadi Media Komunikasi Budaya, Pesan Disampaikan Lewat Motif