Daun jati dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami sekaligus inspirasi motif dalam pengembangan karya tekstil berbasis batik dan ecoprint. Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari perancangan selendang yang menggabungkan teknik batik tulis dan ecoprint menggunakan tanaman yang tersedia di sekitar hunian.
Pengembangan tersebut dilakukan Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti dari Program Studi Kriya Tekstil, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Sebelas Maret Surakarta. Hasil perancangan mereka dipublikasikan dalam artikel “Pemanfaatan Daun Jati, Daun Jarak Wulung dan Daun Marenggo sebagai Ide Penciptaan Warna dan Motif Selendang” di SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1, halaman 28–40.
Dalam perancangan tersebut, daun jati tidak hanya digunakan untuk menghasilkan warna. Bentuk tanaman juga dikembangkan menjadi motif tekstil. Pendekatan itu memungkinkan satu sumber daya alam memiliki dua fungsi dalam karya, yakni sebagai sumber warna dan sebagai sumber ide visual.
Pada desain Citrapata, daun dan batang pohon jati ditempatkan sebagai motif utama. Sementara itu, daun marenggo dan jarak wulung digunakan sebagai motif pendukung. Nama Citrapata berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “lembaran hidup”.
Pengolahan warna dilakukan melalui beberapa tahapan. Kain katun sutera terlebih dahulu menjalani proses pencucian dan mordanting. Dalam salah satu proses produksi Citrapata, kain diberi mordant menggunakan tawas sebanyak 25 gram dalam 5 liter air selama 60 menit pada temperatur 80 derajat Celsius.
Pewarnaan berikutnya menggunakan daun marenggo untuk menghasilkan warna pink muda. Setelah proses tersebut, kain diberi malam sesuai pola motif. Daun jati kemudian digunakan dalam tahap pewarnaan kedua untuk menghasilkan warna ungu muda. Proses tersebut dilakukan sebanyak lima kali pencelupan, masing-masing selama 30 menit, dengan fiksasi menggunakan jeruk nipis.
Setelah proses pewarnaan dan pelorodan, teknik ecoprint pounding diterapkan pada bagian motif tertentu. Teknik ini memungkinkan bentuk dan warna bagian tanaman berpindah ke permukaan kain melalui kontak langsung.
Secara umum, perancangan menggunakan kain katun sutera karena material tersebut dinilai memiliki daya serap tinggi terhadap pewarna alam. Permukaan kain yang mengkilap dan karakter kain yang jatuh juga dipertimbangkan untuk mendukung tampilan produk.
Uji coba pewarnaan menggunakan daun jati dilakukan dengan fiksasi jeruk nipis. Percobaan juga membandingkan hasil setelah pelorodan, baik tanpa maupun dengan penggunaan soda ash.
Perancangan tersebut menghasilkan selendang berukuran 200 × 75 sentimeter. Secara keseluruhan, penelitian menempatkan daun jati bersama jarak wulung dan marenggo sebagai sumber warna dan motif dalam pengembangan tekstil yang memadukan batik dan ecoprint.
Sumber informasi: Tri Wulan Ayu Insyiah dan Tiwi Bina Affanti, “Pemanfaatan Daun Jati, Daun Jarak Wulung dan Daun Marenggo sebagai Ide Penciptaan Warna dan Motif Selendang”, SULUH: Jurnal Seni Desain Budaya, Vol. 5 No. 1 (2022), hlm. 28–40. DOI 10.34001/jsuluh.v5i1.3247. (Unisnu E-Journal)


