in

Prof. Marsudi Soroti Isu Pemotongan Kabel Laut, Tekankan Pentingnya Infrastruktur Internet yang Andal

Prof. Marsudi Wahyu Kisworo menyoroti isu kabel laut internet dan pentingnya infrastruktur digital Indonesia yang andal serta aman.
Prof. Marsudi Wahyu Kisworo menyoroti isu kabel laut internet dan pentingnya infrastruktur digital Indonesia yang andal serta aman.

Jakarta — Anggota Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Marsudi Wahyu Kisworo, menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur kabel komunikasi bawah laut yang andal menyusul mencuatnya isu pemotongan kabel laut internet Indonesia. Ia menilai kabel laut semestinya ditanam di dasar laut, bukan hanya diletakkan, agar infrastruktur komunikasi tersebut lebih terlindungi.

Pernyataan itu disampaikan Marsudi saat sesi doorstop dalam rangkaian Indocomtech 2026. Menanggapi pertanyaan mengenai isu pemotongan kabel laut, ia menyinggung persoalan metode pemasangan kabel yang menurutnya perlu mendapat perhatian.

Marsudi menjelaskan bahwa pada masa lalu, pemasangan kabel laut diduga tidak selalu dilakukan dengan metode penanaman sebagaimana mestinya. Ia menyinggung kemungkinan penghematan biaya dan pengurangan spesifikasi dalam pengerjaan infrastruktur sebagai persoalan yang perlu dievaluasi.

Menurut Marsudi, kabel komunikasi bawah laut seharusnya ditanam, bukan sekadar dibentangkan di dasar laut. Ia juga menilai Indonesia perlu memperbaiki pendekatan pembangunan infrastruktur teknologi agar lebih andal dan tidak terus berada pada posisi sebagai pengguna teknologi.

Berawal dari Unggahan Mantan Anggota Parlemen Singapura

Isu pemotongan kabel laut internet Indonesia mencuat setelah mantan anggota parlemen nominasi Singapura, Calvin Cheng Ern Lee, mengunggah infografis berjudul “Indonesia’s Internet Dependence on Singapore” melalui akun media sosial X pada 25 Oktober 2026.

Infografis tersebut mengklaim sekitar 90 persen lalu lintas internet internasional Indonesia bergantung pada Singapura sebagai salah satu gerbang utama konektivitas global. Cheng menyertakan kata “Cut?” atau “Potong?” dalam unggahannya, yang kemudian memicu perbincangan mengenai kerentanan konektivitas internet Indonesia.

Unggahan itu muncul di tengah polemik kebijakan Indonesia mengurangi pasokan gas alam ke Singapura. Namun, Cheng kemudian memberikan klarifikasi bahwa Singapura tidak akan melakukan pemutusan kabel tersebut dengan alasan negara itu menaati hukum.

Dengan demikian, unggahan tersebut memicu kekhawatiran mengenai ketergantungan jaringan internet Indonesia pada jalur konektivitas internasional, tetapi tidak berarti telah terjadi pemotongan kabel atau adanya keputusan resmi Singapura untuk melakukannya.

Menkomdigi Ingatkan Konektivitas Kedua Negara Saling Berkaitan

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid merespons polemik tersebut dengan meminta masyarakat Indonesia tidak terpancing emosi. Ia mengingatkan bahwa jalur Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang mendarat di Singapura sebagian besar melintasi perairan Indonesia.

Meutya menyatakan, apabila kabel-kabel tersebut terputus atau dipotong, Singapura juga berpotensi mengalami dampak besar. Menurut pernyataannya, sekitar 80 persen kapasitas konektivitas Singapura terancam lumpuh apabila gangguan tersebut terjadi.

Meutya juga menyoroti besarnya pasar digital Indonesia. Ia menyebut sebanyak 267 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke internet dan menilai skala pasar tersebut turut menjadi faktor penting bagi ekosistem teknologi serta investasi perusahaan global di Singapura.

Menurut Meutya, gangguan konektivitas tidak hanya berisiko merugikan Indonesia, tetapi juga dapat berdampak terhadap kepentingan digital negara lain. Karena itu, infrastruktur komunikasi internasional perlu dipandang sebagai kepentingan bersama, bukan sebagai alat untuk saling mengancam.

Perkuat Infrastruktur dan Kemandirian Teknologi

Pernyataan Marsudi di Indocomtech 2026 menyoroti sisi teknis dari isu kabel laut, yakni pentingnya metode pemasangan dan kualitas pembangunan infrastruktur. Sementara itu, respons pemerintah menegaskan bahwa jalur komunikasi bawah laut memiliki keterkaitan lintas negara dan gangguannya dapat menimbulkan dampak yang lebih luas.

Polemik tersebut juga kembali mengangkat kebutuhan Indonesia untuk memperkuat ketahanan konektivitas digital, termasuk melalui pembangunan infrastruktur yang andal dan pengembangan jalur alternatif. Ketergantungan pada jalur internasional tertentu menjadi salah satu persoalan yang perlu diperhitungkan dalam perencanaan jaringan komunikasi nasional.

Marsudi turut menekankan pentingnya menjadikan Indonesia sebagai produsen teknologi, bukan sekadar konsumen. Pesan itu relevan dengan penyelenggaraan Indocomtech yang mempertemukan industri teknologi, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat untuk mengenal perkembangan teknologi serta peluang pengembangannya.

Isu kabel laut pun menjadi pengingat bahwa ketahanan digital tidak hanya bergantung pada teknologi yang digunakan, tetapi juga pada kualitas infrastruktur fisik yang menopang komunikasi internet lintas negara.

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Dr. Saryadi menegaskan digitalisasi perlu meningkatkan mutu belajar, memperkuat guru, dan memastikan siswa disabilitas tak tertinggal.

Dr. Saryadi: Digitalisasi Pendidikan Harus Tingkatkan Mutu Belajar dan Inklusivitas

Industri batik Medan berkembang melalui Batik Langgam yang memadukan motif Melayu dan Batak untuk melestarikan budaya lokal serta mendorong ekonomi kreatif.

Industri Batik Medan Berkembang, Batik Langgam Angkat Motif Melayu dan Batak