in

Pameran Harmony in Diversity Hadirkan Batik Peranakan dari Tujuh Seniman

Pameran Harmony in Diversity di House of Tugu Jakarta, 5–12 November 2026, menghadirkan batik Peranakan karya tujuh seniman dari empat kota.
Pameran Harmony in Diversity di House of Tugu Jakarta, 5–12 November 2026, menghadirkan batik Peranakan karya tujuh seniman dari empat kota.

Jakarta – Pameran batik Peranakan bertajuk Harmony in Diversity akan digelar di House of Tugu, Kota Tua Jakarta, pada 5–12 November 2026. Menghadirkan karya tujuh seniman batik dari Jakarta, Cirebon, Pekalongan, dan Lasem, pameran ini mengangkat akulturasi budaya Tionghoa-Indonesia sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan batik Nusantara.

Diselenggarakan bekerja sama dengan Bentara Budaya, lembaga kebudayaan di bawah naungan Kompas Gramedia, pameran tersebut juga menjadi bagian dari perayaan ulang tahun kedua House of Tugu Kota Tua Jakarta yang jatuh pada 7 November 2026.

Harmony in Diversity menampilkan batik Peranakan sebagai hasil perjumpaan tradisi Tionghoa dengan kebudayaan lokal Nusantara, khususnya Jawa. Perpaduan tersebut melahirkan karakter batik yang khas melalui motif, warna, dan teknik pengerjaan yang mencerminkan keberagaman budaya.

Batik Peranakan berkembang di berbagai wilayah pesisir Nusantara, terutama sejak abad ke-19. Proses pembauran masyarakat keturunan Tionghoa dengan masyarakat lokal turut memengaruhi perkembangan tradisi membatik.

Pengaruh budaya Tionghoa terlihat melalui penggunaan motif bunga peony, burung phoenix, flora, fauna, dan berbagai ornamen khas. Motif tersebut berpadu dengan teknik serta estetika batik Jawa, menghasilkan karya dengan karakter visual yang unik. Penggunaan warna merah, biru, dan emas juga memperkuat identitas artistik batik Peranakan.

Tujuh Seniman dari Empat Kota

Pameran Harmony in Diversity melibatkan tujuh seniman dan praktisi batik, yakni Dave Tjoa dari Jakarta; Giok atau Indrawati dari Batik Kanoman, Cirebon; Liem Po Hien dari Batik Liem Ping Wie, Pekalongan; Valentina Ekawatiningsih dari Batik Lumintu; Sulistyono dari Batik Nyah Kiok; Sri Soesilaningsih atau Mak Som dari Batik Surya Kencana; serta Rudi Siswanto dari Batik Kidang Mas.

Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan keragaman gaya artistik, teknik, motif, dan pengalaman para pembatik dalam mempertahankan tradisi sekaligus mengembangkan kreativitas.

Pameran ini dikuratori Sri Rejeki, salah satu koordinator Ekspedisi Selisik Batik Harian Kompas. Melalui kurasi tersebut, pengunjung diajak memahami batik Peranakan tidak hanya sebagai produk seni, tetapi juga sebagai rekam jejak perjalanan sejarah dan perjumpaan budaya.

House of Tugu Jadi Ruang Pelestarian Budaya

Pemilihan House of Tugu Kota Tua Jakarta sebagai lokasi pameran berkaitan dengan karakter hotel butik tersebut yang mengangkat sejarah dan warisan budaya Nusantara.

Berada di kawasan bersejarah Batavia, House of Tugu memiliki koleksi lebih dari 1.000 benda antik dan karya seni yang dikumpulkan selama puluhan tahun. Koleksi tersebut merepresentasikan berbagai lapisan sejarah dan tradisi, termasuk kekayaan budaya Tionghoa Peranakan.

Penyelenggaraan Harmony in Diversity menjadi bagian dari upaya menghadirkan warisan budaya sebagai pengalaman yang dapat dinikmati, dipelajari, dan diapresiasi oleh berbagai generasi.

Selain pameran, penyelenggara juga menyiapkan sejumlah kegiatan pendukung untuk memperluas keterlibatan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengenal batik Peranakan.

Hadirkan Bazar, Lokakarya, dan Gelar Wicara

Rangkaian kegiatan Harmony in Diversity diawali dengan pembukaan pameran pada 5 November 2026. Selama penyelenggaraan, pengunjung juga dapat mengikuti Bazar Batik Peranakan pada 5–8 November dan Peranakan Afternoon Tea pada 5–12 November 2026.

Agenda berikutnya meliputi Lokakarya Batik pada 6 November, gelar wicara pada 7 November, serta pertemuan komunitas Urban Sketchers pada 8 November 2026.

Berbagai kegiatan tersebut dirancang untuk mempertemukan seniman, perajin batik, pencinta wastra, komunitas kreatif, wisatawan, dan masyarakat umum. Bazar batik juga menjadi kesempatan untuk mendukung perajin serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mempertahankan kerajinan tradisional.

Melalui kolaborasi House of Tugu dan Bentara Budaya, Harmony in Diversity diharapkan dapat memperkuat apresiasi masyarakat terhadap batik Peranakan sekaligus mendorong keberlanjutan warisan budaya Indonesia.

Mengusung semangat Bhinneka Tunggal Ika, pameran ini menegaskan bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus diseragamkan. Sebaliknya, perbedaan dapat saling melengkapi dan melahirkan kekayaan budaya yang menjadi bagian dari identitas bangsa.

Informasi Pameran

  • Nama: Harmony in Diversity – Pameran Batik Peranakan
  • Tanggal: 5–12 November 2026
  • Tempat: House of Tugu, Kota Tua Jakarta
  • Alamat: Jl. Kali Besar Barat No. 26, Jakarta Barat
  • Kolaborator: Bentara Budaya, Kompas Gramedia
  • Kurator: Sri Rejeki

Written by Batiklopedia

Batiklopedia.com merupakan portal berita spesialis yang mengangkat isu seputaran dunia batik, kriya, dan wastra Nusantara. Tujuan awal pembuatannya adalah untuk mendokumentasikan pelbagai hal berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan batik Indonesia.

Kementerian Ekraf memperkuat industri media digital melalui inovasi penerbitan, monetisasi, pengembangan SDM, dan adaptasi teknologi AI.

Ekonomi Kreatif: Kementerian Ekraf Perkuat Industri Media Digital Lewat Inovasi dan Pengembangan SDM