Batik Semarang memiliki karakter visual yang menonjol melalui penggunaan motif fauna, ragam hias berukuran besar, serta warna cerah yang mencolok. Ciri tersebut membedakannya dari sejumlah tradisi batik lain di pesisir utara Jawa maupun batik dari wilayah pedalaman.
Karakteristik tersebut dijelaskan Dewi Yuliati dalam penelitian “Mengungkap Sejarah dan Motif Batik Semarangan” yang diterbitkan dalam jurnal Paramita, Vol. 20, No. 1, Januari 2010.
Menurut penelitian itu, motif Batik Semarang secara umum tidak terikat pada aturan baku tertentu. Perajin memiliki keleluasaan dalam menentukan gambar berdasarkan keinginan, imajinasi, ekspresi, dan kreativitas masing-masing.
Ragam hias yang digunakan mencakup flora dan fauna. Motifnya cenderung berukuran besar dan tidak terlalu rinci, sementara warna yang digunakan relatif cerah dan mencolok.
Salah satu pembeda yang dicatat dalam penelitian tersebut adalah warna dasar. Batik Semarang umumnya menggunakan warna oranye kemerahan. Sebagai perbandingan, batik Demak disebut cenderung berwarna cokelat muda, sedangkan batik Kudus memiliki warna dasar biru.
Motif fauna menonjol
Batik Semarang dikenal menampilkan beragam motif fauna, antara lain burung merak, kupu-kupu, ayam jago, cenderawasih, dan burung phoenix. Menurut Yuliati, dominasi motif fauna tersebut tidak terlepas dari pengaruh budaya Cina yang berkembang dalam lingkungan masyarakat pesisir.
Karakter itu berbeda dari batik Pekalongan yang dalam penelitian tersebut digambarkan lebih menonjolkan ragam hias flora, seperti buket, lung-lungan, dan bunga cempaka.
Perbedaan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi batik pesisir tidak berkembang dalam satu bentuk yang seragam. Setiap daerah memiliki pilihan motif dan warna yang dipengaruhi lingkungan budaya serta perjalanan sejarah masyarakatnya.
Penelitian itu juga menjelaskan bahwa batik Semarang pada masa lalu tidak memiliki pembakuan motif dan nama sebagaimana tradisi batik di Surakarta dan Yogyakarta. Masyarakat Semarang membuat batik, antara lain, untuk digunakan sendiri dengan corak sesuai keinginan pembatik.
Motif naturalistik dan realistik menjadi karakter penting. Gambar ikan, kupu-kupu, burung, ayam, bunga, pohon, bukit, hingga rumah digunakan untuk menggambarkan objek yang dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Merak dan bambu mengandung makna filosofis
Salah satu contoh yang dibahas dalam penelitian adalah motif burung merak dengan latar perbukitan dan pohon bambu. Berdasarkan keterangan Slamet Sutarno, masyarakat Semarang tempo dulu menyukai motif tersebut.
Yuliati mengaitkan motif merak dan bambu dengan pengaruh kebudayaan Cina. Dalam penjelasan yang merujuk pada A Dictionary of Chinese Symbols, burung merak melambangkan keagungan, keindahan, perlindungan terhadap keturunan, dan penolak pengaruh buruk.
Sementara itu, bambu dipandang sebagai lambang doa dan silsilah keluarga. Ruas-ruas bambu menggambarkan hubungan antargenerasi, sedangkan kemampuannya bertahan dalam beragam kondisi menjadi simbol kemudahan menjalani kehidupan.
Contoh lainnya adalah motif Merak Semawis, Puspita Sari, Cempaka Rukmi, dan Grinsing Amengku Bumi yang ditampilkan dalam artikel penelitian.
Keberagaman motif tersebut memperlihatkan bahwa Batik Semarang bukan hanya produk tekstil, tetapi juga rekaman kreativitas dan pertemuan budaya. Pemahaman atas ciri visual dan nilai filosofisnya dapat membantu memperkuat pengenalan batik Semarang sebagai identitas budaya daerah.

