Awalnya, dunia pariwisata sama sekali tidak masuk dalam rencananya. Ia adalah anak IPA yang setelah lulus SMA justru mencoba peruntungan di jalur farmasi. Tiga kampus ia incar—Sekolah Farmasi Binaan Depkes, Universitas Padjadjaran, dan satu lagi yang bahkan kini tak lagi ia ingat namanya. Takdir berkata lain: semuanya gagal.
Tinggal di Antapani, Bandung, ia sempat merasa “hopeless”. Niatnya, akan mencoba lagi masuk di sekolah yang sama di tahun selanjutnya. Hingga suatu hari, dalam perjalanan pulang, matanya tertumbuk pada papan nama Arts International School—Sekolah Tinggi Manajemen Pariwisata. Ia mendaftar hanya untuk mengisi waktu setahun. Namun, seiring waktu, ia justru jatuh cinta pada dunia itu. Tahun 2001, ia resmi lulus.

Dari Waiter hingga Terlempar ke Dunia Sales
Setelah lulus, ia tak tahu akan melangkah ke mana. Dunia hotel sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Ia mencoba menjadi waiter di sebuah restoran—pekerjaan yang membuatnya lelah fisik dan mental. Atas saran teman, ia mencoba training di hotel, memulai dari jenjang terendah: training, daily worker, kontrak.
Kesempatan itu membawanya ke Intercontinental Midplaza Jakarta, sebagai trainee Human Resources. Suatu ketika, posisi training coordinator kosong karena cuti melahirkan, dan ia diminta menggantikan. Namun sang manajer HRD justru melihat potensi lain.
Suatu malam, ia diperkenalkan kepada seorang Director of Sales & Marketing. Sang manajer berkata, “Anak ini nggak cocok di HRD. Cocoknya di sales.” Esok harinya, ia resmi pindah. Awalnya ia menangis—merasa diusir. Tak disangka, keputusan inilah yang menjadi titik awal kariernya.

Menapaki Tangga Karier
Ia memulai sebagai sales admin, lalu naik menjadi sales coordinator. Dari Intercontinental, ia pindah ke Red Top Hotel, lalu Hotel Santika Slipi sebagai sales executive. Kariernya terus menanjak:
- Sultan Hotel Jakarta – Sales Manager
- Sheraton Surabaya – Sales Manager
- Papandayan Hotel Bandung – Senior Sales Manager
- Hotel JS Luwansa – Assistant Director of Sales
- Grand Mercure Kemayoran – Director of Sales & Marketing
- Aryaduta Semanggi – Director of Sales & Marketing
Pandemi COVID-19 memaksanya mundur sejenak. Namun tak lama, ia dipercaya memegang posisi Executive Assistant Manager di Avenzel Hotel & Convention Cibubur. Januari 2025, ia resmi menjadi General Manager.
Mengelola Pasar Unik Cibubur
Bagi sebagian orang, Cibubur hanyalah daerah di perbatasan Jakarta Timur dan Jawa Barat. Baginya, ini pasar strategis. Avenzel memiliki 34 meeting room dengan kapasitas hingga 1.000 orang—salah satu pusat konvensi terbesar di kawasan ini.
Pasarnya beragam: bisnis dari pabrik Bekasi-Bogor, leisure untuk tamu longstay dan staycation, hingga acara sosial seperti pernikahan. Meski okupansi kini sekitar 50% dari sebelumnya 80%, ia memilih menghadapi tantangan tanpa mengorbankan karyawan—tak ada unpaid leave atau PHK.

Filosofi Memimpin
Baginya, kunci menjadi GM adalah jujur dan bekerja sepenuh hati. Dunia hotel kecil—kesalahan akan cepat terdengar. Sebagai mantan sales, ia terbiasa menerima kritik dan masukan tamu, lalu menjadikannya dasar untuk menciptakan kenyamanan dan kebahagiaan.
Ia percaya: karyawan yang bahagia akan membuat tamu bahagia.
Titik Terendah dan Kebangkitan
Dua tahun lalu, ia alami cobaan dan tantangan besar dalam hidupnya, karier terhenti, dan ia pindah ke Siprus selama 1,5 tahun untuk membesarkan anak. Pengalaman itu justru membentuk mentalnya.
“Kalau saya tidak mengalami itu, mungkin saya tidak akan sekuat sekarang memimpin 125 orang,” ujarnya.
Kekuatan, Keanggunan, dan Identitas
Tanpa sadar, koleksi batiknya selalu berpola parang dan kawung, dengan warna biru, putih, cokelat natural, dan hitam.
- Biru – ketenangan
- Putih – nurani, bekerja dengan hati
- Parang – kekuatan dan keberanian
- Kawung – sinergi dan kebersamaan
Bagi dia, batik bukan sekadar busana, melainkan cermin diri. Memakainya menambah rasa percaya diri dan anggun. Bahkan, suaminya pun pencinta batik tulis—membuat batik menjadi benang yang mengikat cerita keluarga.

Pesan untuk Pengrajin Batik
“Jangan pernah menyerah. Setiap karya batik punya nyawa dan doa di dalamnya. Tetaplah berkarya, karena batik adalah cerminan budaya dan karakter bangsa kita.”
Foto: Kuncoro Widyo Rumpoko

