Seorang desainer Indonesia berbasis di Los Angeles, Samantha Shanne, memperkenalkan konsep Batik Pavilion, sebuah eksplorasi arsitektur yang menafsirkan ulang motif Batik Kawung ke dalam desain ruang publik di Nusantara, ibu kota baru Indonesia. Proyek ini menempatkan batik tidak sekadar sebagai elemen dekoratif, tetapi sebagai sistem struktural yang membentuk ruang, pencahayaan, dan fungsi paviliun.
Dirancang sebagai fasilitas publik yang fleksibel, Batik Pavilion direncanakan dapat mengakomodasi berbagai aktivitas, mulai dari penggunaan harian hingga kegiatan kolektif. Desainnya mencakup area teduh, jalur sirkulasi terbuka, serta ruang reflektif yang terintegrasi dalam lanskap perkotaan. Konsep ini sekaligus menjadi upaya untuk menggabungkan identitas budaya nasional dengan pendekatan desain arsitektur kontemporer.
Pengembangan desain paviliun berangkat dari kajian terhadap motif Kawung, salah satu pola batik tradisional yang memiliki makna filosofis tentang keseimbangan dan harmoni. Motif ini kemudian diolah menggunakan pendekatan parametrik berbasis perangkat lunak Grasshopper, yang memungkinkan transformasi dari pola dua dimensi menjadi struktur ruang tiga dimensi. Dalam prosesnya, elemen motif mengalami rotasi dan pergeseran untuk menciptakan variasi tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Struktur paviliun dirancang menggunakan sistem rangka baja dengan panel beton bertulang serat kaca (GFRC) sebagai elemen penutup. Bagian atap dibentuk melalui pendekatan subtraktif yang menghasilkan rongga-rongga sebagai jalur masuk cahaya dan sirkulasi udara. Kolom baja ramping digunakan untuk menopang struktur, sehingga menciptakan kesan ringan dan terbuka pada keseluruhan bangunan.
Dalam desain ini, pencahayaan alami menjadi salah satu elemen utama. Pola bayangan yang dihasilkan dari struktur atap berubah sepanjang hari mengikuti pergerakan matahari. Pendekatan ini mencerminkan karakter batik sebagai medium yang terbentuk melalui proses berlapis dan waktu. Batik Pavilion menjadi salah satu contoh integrasi antara warisan budaya dan teknologi desain modern. Proyek ini menunjukkan potensi pengembangan motif tradisional sebagai dasar inovasi arsitektur, khususnya dalam konteks pembangunan Nusantara sebagai ibu kota baru Indonesia.

